Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 82 Ego


__ADS_3

Keesokan harinya, David rutin dan lebih awal menjemput Natasha sekolah. Tidak perah sekalipun melewatkan kegiatan itu. David menghalangi rencana Natasha menyiapkan pesta kecil untuk Alex. Rasanya tidak rela, tetapi bibirnya sukar mengatakan semua. Terkurung dalam ego yang kuat.


Natasha cemberut, melepas sepatu dan kaus kaki di depan David, memilih menapakkan diri tanpa alas apapun. Menyandarkan punggung pada jok mobil, mendengarkan musik hingga volume maksimal, suaranya pun bisa terdengar ke telinga David.


“Ck rese.” David mencebik. Membelokkan kendaraan ke jalan lain, sesuai dengan agendanya hari ini menemui seseorang.


“Loh kok ke sini? Katanya mau mengantar pulang? Aku banyak tugas, besok ada ulangan, mau belajar.” Natasha terkejut, karena David ingkar. Gadis ini tidak tahu kemana tujuan pria di sampingnya.


“Mau ke mana kak? Kenapa nggak jawab?” tanya Natasha untuk kedua kali. Semakin tidak menyukai sikap David, selalu mengambil keputusan sepihak.


“Ikut saja, kamu lapar kan? Sebelum ke rumah makan dulu. Kakak mau ketemu teman.” Jawab David tanpa menoleh sedikitpun.


Natasha kembali diam, memandangi jalan dan memasang headset. Bersama tunangannya benar-benar menguras emosi.


Seandainya bisa, Natasha ingin menendang David keluar dari mobil, meninggalkan pria itu di pinggir jalan tanpa sepeser uang.


Tiba di cafe yang sangat Natasha kenali, David turun lebih dulu, masuk ke dalam meninggalkannya sendirian.


“Dia itu manusia tak berperasaan, tahu gini aku pulang bareng Alex.” Natasha menyesal, menuruti keinginan David. Lantas mengikuti ke cafe, mencari keberadaan David.

__ADS_1


Tapi pemandangan tak menyenangkan tertangkap indera penglihatannya. Seorang wanita cantik, terlihat dewasa, dan pakaiannya sedikit terbuka menampakkan belahan tertentu sedang mencium pipi kanan dan kiri David.


“Playboy. Di dunia ini memang Kak Ethan paling baik.” Cibir Natasha, lalu memiliki ide cemerlang untuk lepas dari belenggu pertunangan menyesatkan yang merantai.


Gadis kecil ini mengambil ponsel, merekam kegiatan David, cukup beberapa menit, kemudian mengirimnya kepada Papi Daniel, Ayah dan Bunda.


Mana ada pria yang sudah memiliki tunangan bersikap mesra terhadap wanita lain.


“Tunggu … tapi, aku kemarin bukannya sama saja?” Natasha merenung dibalik ambang pintu. Kemudian menepis semua pikiran buruk tentangnya.


“Tapi aku beda, aku minta izin sama Kak David. Dia yang kurang tanggap bukan aku.” Natasha meyakinkan diri.


Ia masih menunggu reaksi dari ketiga orangtua yang sudah membaca pesan. Kemudian menghitung mundur, dalam hati.


Empat


Tiga


Dua

__ADS_1


Satu


“Yes.” Hati Natasha bersorak, melihat David menerima telepon dari seseorang yang diyakini , Bundanya. Karena Natasha mengadu hal menyedihkan mengenai pria itu, dan memutuskan pertunangan.


Sekarang, David melirik ke arahnya, tatapannya berkilat marah, dari bahasa tubuh kentara sekali jika David terkejut.


“Maaf Fel, gue pergi dulu, sepupu gue harus diantar pulang.” Pamit David menunjuk kepada Natasha. Ia pun terpaksa menunda kebersamaannya dengan sang mantan.


“Puas lo? Bilang apa aja ke Bunda? Jangan mendramatisir keadaan Nat.” Seru David, menarik paksa tangan Natasha memasuki mobil.


Kali ini gadis liarnya berhasil, bahkan memenangkan peperangan telak. David tidak bisa berkutik ataupun melawan.


Ancaman dari Bunda sangat mengejutkan, terlebih kedua orangtua menyetujui, mengakhiri pertunangan jika David kedapatan mengulang tindakan serupa.


“Berbahaya. Badannya kecil, status pelajar tapi otak mafia.” Gumam David memerhatikan Natasha yang terlelap tidur.


Namun mendengar kalimat pembatalan pertunangan, drinya mendadak sakit hati, sesak di dada, menghimpit paru-paru dan jantung.


TBC

__ADS_1


***


Sabar ya sabar 


__ADS_2