Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 16 Pacar?


__ADS_3

Mendengar ultimatum dari calon mertua, membuat Ethan tidak patah arang. Demi Vale-nya harus berjuang, apalagi sekarang status gadis itu tidak terikat dengan pria manapun.


“Sabar Ethan, cinta butuh perjuangan. Gue bakal kasih bukti ke Uncle Dariel kalau gue itu serius sama anak cantiknya.” Gumam Ethan sembari memutar tubuh, menjauh dari teras rumah megah bergaya Eropa modern ini.


Tanpa Ethan duga, Ayah dari pujaan hatinya itu mendengar semua. Daddy Dariel kembali ke depan rumah, memanggil putra sahabatnya.


“Ethan, ke sini kamu! Cepat dong. Laki-laki jangan lamban!” ketus Daddy Dariel yang terkenal akan gemar jahil.


“Kamu suka sama Vale? Ya Om juga pernah muda. Sekarang jawab yang jujur!” perintah Dariel sangat tegas dan kurang ramah. Tidak mempersilakan duduk, padahal di teras ini ada kursi kayu.


Kalau bersama Valerie, detak jantungnya tak menentu, cenderung menutupi perasaan tapi tidak sekarang. Ethan berkata jujur apa adanya, sama sekali tidak menutupi apa yang dirasakan. Bahkan Ethan dengan polosnya melamar Valerie.


“Heh, kamu itu masih muda, lulus kuliah juga belum. Kalau kamu serius sama anak Om, buktikan! Om yakin otak kamu lebih baik daripada Bobby. Berubah lah menjadi lebih baik, setelah itu baru Om pertimbangkan layak atau tidak, paham?” Daddy Dariel ingat percakapannya dengan Valerie tempo lalu.


Dia juga mengenal Ethan sudah 20 tahun, sangat tahu sifat asli lelaki itu. Daddy Dariel pun menyayangi Ethan sama seperti dua anaknya.


Ethan pulang ke apartemen dengan perasaan bahagia, setidaknya mendapat lampu hijau mendekati Valerie dari Mama Ayu dan orangtua Valerie sudah cukup.


Mungkin beberapa minggu ke depan mulai mengurangi kegiatan balapan, dan memilih fokus kuliah.


“Benar juga apa kata orang-orang, gue harus berubah lah. Jangan sampai Eberardo datang lagi dan merusak suasana. Cukup sekali doang Ethan kecolongan, terlalu santai cinta gue di bawa pergi sama itu orang.” Gerutu Ethan memasak mie instan sebagai pengganjal perut.


“Valerie gue buktikan kalau Ethan Adrian lebih baik dibanding Eberardo.” Ethan menepuk dadanya cukup kuat.


Usai menyantap mie kuah dengan dua telur, Ethan segera tidur. Dia tidak boleh terlambat menjemput Valerie, bisa mengamuk dan keluar tanduk dari kepala gadisnya.


**


Pagi ini sebelum matahari benar-benar menyinari bumi, Ethan membuktikan ucapannya. Dia mandi, berpakaian rapi, menjemput pujaan hati di rumah keluarga Bradley. Ethan bersiul bahagia sembari menyisir rambut, menyemprotkan parfum di beberapa titik.


Benar-benar pemuda yang tengah jatuh cinta.


Tiba di kediaman Bradley, Ethan disambut baik bahkan dijamu oleh pemilik hunian. Dia duduk bersama kedua orangtua Valerie. Menunggu gadisnya turun.


“Tumben Vale lama banget.” Gumam Ethan. Melirik jam di pergelangan tangan.


“Iya ya, kayanya dia belum bangun. Ethan tolong panggil Valerie yah, katanya ada mata kuliah pagi, jangan sampai terlambat.” Pinta Mom Fredella menyerahkan satu gelas air hangat ke tangan Ethan.

__ADS_1


“Siap Tante.” Seandainya di rumah ini ada pakar mikro ekspresi atau saudara kembar Valerie di sini, pasti Ethan menjadi bahan bully. Tahu kenapa? Dia gemetaran, tangannya mendadak tremor.


“Ini jantung sama badan gue kenapa sih? Gak bisa diajak kompromi banget.” Kesal Ethan, kakinya pun tidak henti melangkah mengarah ke kamar gadisnya.


Tok ... tok


“Vale bangun Valerie. Princess Valerie Bradley?” suara Ethan setengah berteriak. Tak kunjung mendapat sahutan dari dalam, terpaksa dia membuka pintu yang tidak terkunci, benar saja pujaan hatinya masih meringkuk di atas kasur empuk.


Sangat jelas kedua mata Ethan menangkap betapa manis wajah bantal Valerie yang polos menempel di bantal. Ethan melirik seisi ruangan, ada foto masa kecilnya terpajang di atas meja belajar.


“Kalau kaya gini sahabat jadi cinta dong judulnya, ya gemana? Gue emang sayang banget sama dia.” Ethan melirik Valerie yang melenguh.


Menghampiri gadisnya, membelai pipi lembut Valerie yang kenyal bagai bayi. “Sayang bangun, Vale bangun. Ayo kuliah.” Kata-kata dalam hati Ethan.


Kalau boleh Ethan ingin mencium tapi tidak, berdekatan saja membuat jantungnya konser, belum lagi sekujur tubuh berkeringat.


“Vale bangun, ditunggu sarapan. Tidur terus, gak malu sama gue? Gue udah siap nih jemput lo.” Ethan berdiri, kembali menjaga jarak aman.


“Hu’um? Kamu udah datang? Tunggu ya aku mau mandi dulu, bawa air hangat gak? Haus.” Valerie terduduk, menyingkap selimut, menampakkan paha putih mulus. Kemudian berusaha meraih gelas dari tangan Ethan.


DEG


DEG


DEG


Melihat Valerie meneguk minumnya, air mengalir turun dari bibir ke dagu, lalu meluncur bebas melewati leher putih itu dan masuk dalam piyama.


“Kacau” maki Ethan dia tidak sanggup lagi.


“Buka mata dulu Vale! Kalau tumpah gemana? Mandi gih, katanya dosen pagi ini killer.” Ethan pura-pura kesal menunggu. Melempar bantal ke wajah sahabatnya, lalu keluar kamar guna menetralkan irama jantung.


Uhuk … uhuk


“Eh dasar Ethan rese.” Teriak Valerie, karena tersedak air.


.

__ADS_1


.


Ethan dan Valerie berangkat bersama, bukan pemandangan asing lagi di Universitas Internasional. Hari patah hati pun tetap berlanjut, semua gadis yang menggilai Ethan perlahan mundur teratur, tidak sanggup juga bersaing dengan incaran sang ketua gangster.


Tiba di area parkir motor, keduanya disambut Josh yang meringis sedih dan David tertawa sinis, tentunya Rebecca, gadis itu langsung meninggalkan parkiran.


“Valerie, jahat banget sih. Gue yang naksir tapi lo jadian sama Ethan. Gak rela gue.” Tangis Josh bukan mengundang prihatin melainkan tawa dari rekan lainnya.


Mendengar pernyataan Josh, seketika Valerie membuka mata dan mulut, menatap heran sambil menggeleng kepala, berucap , “Siapa yang ja…” kalimat sanggahan ini menggantung begitu saja, lantaran Ethan menjawab lebih dulu.


“Mulai sekarang jangan berharap apapun. Valerie pacar gue, milik Ethan Adrian, paham ya?” bangga Ethan, merangkul bahu Valerie.


“Ini anak demam kayanya, sejak kapan gue jadi pacarnya? Mimpi ini orang.” Kesal gadis cantik bermata hazel dalam hati, dia juga mengumpat sahabatnya.


“SERIUS BRO?” David terkejut, sungguh kejadian yang sangat langka Ketua D’Dragons memiliki kekasih hati.


Bahkan di depan umum, Ethan membantu Vale-nya melepas helm, merapikan rambut panjang itu, diakhiri mencium puncak kepala Valerie.


“Ish, Ethan benar-benar keterlaluan, kurang ajar banget ini.” Valerie menahan marah sekaligus kebingungan.


“Ayo sayang aku antar ke kelas.” Ethan mengabaikan debar di dada, menautkan jemarinya dengan Valerie, melangkah bersama menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum.


Akhirnya setelah berada cukup jauh dari Josh dan David, gadis ini bisa melampiaskan emosi.


“Ethan lepas. Kamu apa-apaan sih? Kapan aku jadi pacar kamu? Seenaknya aja itu mulut.” Valerie mencubit bibir sahabatnya.


“Well, perempuan memang butuh kepastian ya. kalau gitu …” Ethan menggenggam kedua tangan bidadari manis tepat di depan area hijau mahasiswa.


“Eh kamu mau apa?” Valerie melotot karena sahabatnya ini berubah serius.


“Maukah Valerie Wylie Bradley menerima Ethan Adrian sebagai pacar?” Ethan menegang, semua ini jauh dari rencana, bahkan dia bertindak secara spontan saja.


“WHAT?” pekik Valerie.


TBC


***

__ADS_1


terima jangan? tolak aja Vale 😈


__ADS_2