Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 6 Modus


__ADS_3

Kediaman Bradley


Valerie terbangun pukul delapan pagi. Mengerjapkan kedua mata, seketika melotot mendapati dirinya tidur di kamar.


“Eh bukannya aku semalam ... kenapa ada di sini? Mimpi apa gemana sih? Ethan di mana? Gak mungkin kan aku jalan dari rumah sakit ke kamar?” Valerie terus bertanya-tanya, jelas sekali kalau dia tidur di IGD menunggu temannya siuman.


“Peduli banget sih, mungkin anak buah Papa yang bawa aku pulang. Pasti Ethan juga baik-baik aja.” Valerie beranjak dari atas ranjang, bergegas membersihkan diri.


Mata kuliah hari ini dimulai pukul sembilan, “Masih ada waktu satu jam lagi nih, lumayan lah, gak perlu dandan segala.” Monolognya.


Setelah rapi, menggunakan kaos dilapisi jaket berbahan denim lengkap dengan bulu-bulu lembut di bagian kerah. Celana senada, lalu sepatu kets hadiah ulangtahunnya dari Theodore yang selalu bangga dikenakan. Valerie juga melekatkan topi di kepala untuk mengurangi teriknya mentari.


Turun ke lantai satu menggunakan lift, menuju ruang makan untuk menyantap beberapa suap sarapan. Telinga Valerie seolah bergerak mendengar sesuatu, suara tawa Mom Fredella. “Jangan-jangan?” gumamnya.


Dan ya, tepat sekali. Eberardo nekat datang ke rumah untuk menjemput. “Baby. Ayo sarapan!” senyum Eberardo yang sangat dikenali, cinta, obsesi, dan arogan.


“Mom aku terlambat, berangkat dulu ya.” Valerie menghindar, kabur dari perangkap Eberardo.


Nasibnya belum beruntung karena di garasi, Eberardo menahannya. Memaksa masuk ke dalam mobil miliknya.


“Aku antar ke kampus. Mom kamu belum tahu kalau kita putus iya kan? Baguslah, kamu harus siap dalam waktu dekat aku akan bawa Daddy dan Mommy ke sini, melamar, kita harus menikah.” Ucap Eberardo di luar dugaan.


“Menikah? Dengar ya Tuan Muda Torres, usiaku masih muda, kalaupun  menikah bukan denganmu, masih banyak pria lain yang lebih baik. Aku tidak suka pria emosional seperti mu. Kamu pikir malam itu aku engga terpukul, hah?” sangar Valerie, menginjak kaki Eberardo, mendorongnya cukup kuat.


“Baby, please … trust me! Itu semua kesalahan. Aku sangat mencintaimu Valerie, kamu tahu kan?” Eberardo menahan langkah kaki Valerie keluar gerbang utama.


“Terserah deh, suka-suka kamu lah. Aku bukan kerbau yang bisa mudah mengikuti perintah Tuannya, paham?”


“Buka pintu Pak!”


Valeri keluar, lebih baik jalan kaki sampai ke ujung jalan raya, daripada menerima tumpangan mantan kekasihnya.


“Belum jadi suami aja dia udah cium-cium perempuan lain. Dipikir aku cemburu? Maaf ya engga sama sekali. Bukannya minta maaf malah ngajak nikah, malesin banget sih.” Gerutu Valerie, kakinya melangkah lebar menyusuri jalan. Beruntungnya cukup rindang, tidak merasa kepanasan.


Tin


“Nanti, kaki kamu sakit, masuk sekarang juga! Atau aku paksa? Terserah kamu mau cara yang mana?” tegas Eberardo memaksa.

__ADS_1


Eberardo menghalangi jalan, keluar dari mobil, dengan kasar mendorong mantan kekasihnya masuk. Mencengkeram rahang Valerie, cukup kuat merekat pada sandaran jok.


“Aku ikuti keinginan kamu, suka yang kasar. Benar kan?” Eberardo membungkuk, hidung keduanya saling bersentuhan.


“LEPAS! Gue mau kuliah.” Lawan Valerie, meringis dalam hati menahan sakit karena rahangnya ditekan kuat.


“Katakan kamu milikku, Vale! Jangan kabur kemana pun!” Eberardo memaksa kehendak, mendekati bibir tipis gadisnya. Namun Valerie membenturkan keras kepalanya dengan Eberardo, hingga merasa pening.


Menendang perut mantan kekasihnya demi membebaskan diri, “F**K You. Kamu pikir aku takut? Pulanglah Eberardo karena sampai kapanpun aku engga akan kembali sama kamu.” Valerie mengacungkan jari tengah, kemudian berlari sejauh mungkin.


“Dasar lelaki sakit.” Gerutunya sambil memijat kepala yang pusing, nyaris tertabrak motor. “Eh kurang ajar dasar.” Makinya sangat keras. Tapi mata hazel menyipit, sosok pengendara yang sangat dikenali.


“Ethan?” panggil Valerie.


“Ada apa panggil-panggil? Mau numpang? Sorry … bukan tukang ojek.” Acuh Ethan sengaja mempermainkan gadisnya.


Semula Ethan memang berniat menjemput Valerie ke rumah Bradley, tapi hatinya sesak mengetahui drinya kalah cepat dari Eberardo.


“Ya sudahlah, aku juga engga butuh tumpangan, hush hush pergi sana!” kesal Valerie, baginya Ethan tidak peka sama sekali.


“Umm … gemana ya, rasa kemanusiaan gue tinggi sih. Cepat naik, kasihan banget hari kedua diusir dari kelas.” Sindir Ethan mengandung magnet agar gadisnya mendekat.


Valerie memang sangat mengutamakan pendidikan, mana mau dia terlewat satu hari pun.


“Pakai helm, mau kena razia? Gue gak mau masuk pengadilan karena lo!” Ethan melempar helm yang sengaja di beli pagi ini di depan basecamp, untuk Valerie. Helm couple.


“Kasar banget sih kamu.” Valerie cemberut sembari memasang helm.


Keduanya pergi ke kampus bersama, tubuh Valerie menegang, menahan diri agar tidak menempel dengan punggung Ethan.


“Pegangan sayang, awas jatuh!” teriak Ethan di tengah bisingnya kendaraan lain.


“HAH? APA? Aku gak denger, berisik tahu.” Balas Valerie mengeluarkan suara melengking macam lady rocker.


Ethan tersenyum tipis dibalik helm full face. Daripada buang-buang energi teriak. Lebih baik bertindak, hal lumrah yang dilakukan kaum pria. Rem mendadak tepat di persimpangan jalan.


BRUK

__ADS_1


Tubuh Valerie menubruk punggung Ethan, refleks kedua tangannya memeluk dari belakang. “Pelan-pelan dong, sakit tahu. Kalau gak bisa bawa motor, aku aja sini!” Valerie mengoceh di balik helm.


Sebelum pelukan terlepas, Ethan menahan tangan lembut sahabatnya, memegang kuat.


“Eh Ethan lepas, gak benar kaya gini! Nanti pacar kamu lihat gemana?” panik Valerie, degup jantungnya pun tak menentu.


Tanpa banyak kata, motor sport melaju cukup cepat. Pegangan Valerie pun semakin kuat, takut terjatuh ke aspal.


“Pegangan, kita terlambat!” seru Ethan mengambil kesempatan.


Tiba di Universitas, sepasang teman ini menyita perhatian. Baik perempuan atau laki-laki. Patah hati serempak, dan pagi ini mood mereka semua rusak karena melihat sosok idola bersama seseorang.


“Huh, kamu bikin aku jantungan tahu engga. Makasih Ethan, aku masuk kelas dulu ya. Nanti aku bayar.” Ucap Valerie, membuka helm, rambut coklat keemasannya berantakan.


Naluri Ethan, memang luar biasa, tangannya terulur merapikan rambut gadisnya. “Jelek, kaya singa.” Ledek Ethan tertawa puas.


PLAK


Valerie memukul tangan temannya, “ Aku bisa sendiri, terima kasih! Aduh gawat lima menit lagi … gak sempat sarapan.” Paniknya dibarengi perut keroncongan.


Gadis cantik bermata hazel berlari menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial.


“Vale tunggu, helm gue, jangan dibawa kabur!” Ethan berteriak semakin merebut perhatian mahasiswi yang patah hati. Pasalnya selama lima semester kuliah, belum pernah sekalipun ada perempuan yang seberuntung Valerie.


“Oh iya maaf lupa. Makasih ya Ethan.” Senyum manis Valerie bagai panah cupid yang melesat, masuk ke dalam rongga dada Ethan Adrian Armend.  


“Semangat kuliahnya sayang.” Naasnya kalimat ini hanya tertahan di bibir.


“Kamu semangat ya kuliahnya, jangan malas Ethan! Nanti aku tinju kalau kamu bolos!” balas Valerie seakan tahu isi hati teman kecilnya itu.


Suntikan semangat dari sang pujaan hati membuat Ethan mengurungkan niat kembali ke basecamp, memilih mengikuti mata kuliah yang paling dibencinya.


TBC


***


dukungan untuk author ditunggu ya biar semangat gitu Up-nya

__ADS_1


😁😁😁😁


 


__ADS_2