Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 47 Pentingnya Komunikasi


__ADS_3

Ethan sengaja bangun lebih awal, dia mencoba menjadi suami idaman terbaik bagi istrinya. Ethan juga tahu Valerie tidak biasa menyiapkan segala keperluan seorang diri. Tidak banyak bicara, Ethan keluar kamar dan masak, seadanya.


Cukup menu simpel pengganjal perut tapi bernutrisi. Ethan terdiam, menatap telur mata sapi di atas penggorengan, tiba-tiba saja terlintas idenya untuk melanggar perjanjian. Tapi Ethan juga tidak mau membebani istrinya.


“Apa punya anak dulu ya satu? Gue yakin kalau Vale hamil, kita punya anak pasti Eberardo atau siapapun engga akan mendekat. Tapi … janji gue sama Daddy Dariel gemana? Memang sih setelah melahirkan pasti Vale sibuk mengurus anak, jujur aja gue takut kalau suatu saat masa lalunya datang.” Pikir Ethan, sekarang dia bingung sendiri.


“Ah sial, gosong.” Pekiknya karena terlalu lama melamun, telur itupun berubah kering dan menghitam.


Ethan memulai lagi masakannya, hanya menggoreng telur tidak membutuhkan waktu lama.


“Wah kamu masak apa Ethan? Aku lapar.” Suara Valerie tiba-tiba datang sudah rapi dan cantik.


“Sarapan.” Ethan menjawab cukup dingin tidak menoleh sama sekali. Dia masih ingat kejadian semalam, Eberardo tetap percaya diri menghubungi Vale-nya.


Valerie peka suasana pagi tidak cerah, dia memilih duduk dan menunggu sarapannya siap, setelah itu mungkin bicara dengan Ethan. “Apa masalah D’Dragons berat banget ya?” tanya Vale dalam hati.


Ethan menyajikan bubur oat ditaburi potongan buah lalu telur mata sapi sebagai sumber protein hewani, tidak lupa segelas susu coklat hangat kesukaan Valerie. Sekalipun kesal, tetap memanjakan sang istri.


Usai sarapan, sepasang suami istri itu melakukan kegiatan masing-masing. Valerie dengan tugas kuliahnya, dan Ethan membuka laptop memeriksa tender iklan yang baru saja dimenangkannya beberapa hari lalu.


Mereka seakan lupa untuk berkomunikasi satu sama lain. Pasangan muda yang belum mengerti apa itu pentingnya bicara, saling jujur antar pasangan.


Hingga siang hari tidak ada yang buka suara, Ethan dan Valerie berada dalam satu ruangan, tetapi tetap bungkam seribu bahasa. Apartemen ini rasanya tidak berpenghuni.


Vale yang kelelahan meluruskan kakinya di atas karpet, lalu berbaring sembari menonton acara televisi. Dia baru sadar jika suaminya bersikap aneh, berubah menyebalkan.


“Ethan? Ethan? Kamu masih kerja ya?” panggil Valerie beberapa kali, namun tidak ada jawaban.


“Ethan kamu jelek banget, ada apa? Kamu aneh.” Kata Valerie bahkan intonasinya sedikit meninggi.


“Ish Ethan kupingnya sakit apa gemana sih?” Valerie menggerutu, bangun dari karpet dan duduk tepat di depan suaminya. Dia menganga karena Ethan menggunakan earphone. “Pantas aja.” Mendengus sebal.


Valerie yang minim ilmu ini mencari cara melalui internet, dia membaca artikel cara meluluhkan hati suami yang sedang marah atau kesal.

__ADS_1


Langkah pertama, Valerie mengambil minuman untuk Ethan segelas air putih dan jus.


Langkah kedua, Valerie membuka aplikasi booking tiket bioskop online. Dia segera memilih film yang sedang trend, lalu memesan dua tiket.


Karena Ethan masih diam saja, fokus pada benda mati bernama laptop itu. Valerie meregangkan otot lalu berjalan ke belakang punggung suaminya. Berinisiatif lebih dulu, memeluk Ethan dari belakang, menyandarkan dagu di bahu kekar suaminya.


“Ethan kamu kenapa sih?” tanya Valerie dibuat manja. “Harusnya berhasil karena lelaki tidak tahan sentuhan, tapi kok diam aja?” batin Valerie.


Valerie tidak melihat bahwa jari telunjuk Ethan memintanya untuk diam, saat ini sedang mendengarkan perintah Daddy Bobby melalui telepon.


“Ish kamu diam aja. Ada masalah apa sih? Karena semalam gagal atau masalah geng kamu? Bukannya jawab malah diam aja.” Valerie melotot setelah Ethan menunjukkan ponselnya tersambung dengan Daddy Bobby.


Dia hanya bisa nyengir kuda dan malu, pasti mertuanya mendengar semua.


“Ok aku ke kamar.” Ucapnya tanpa suara, berlari kecil memasuki peraduan.


Di dalam kamar, Valerie menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur berguling kanan dan kiri sambil memainkan ponsel membuka sosial media.


“Mau apalagi sih dia? Blokir aja.” Tidak sampai disitu, Valerie juga memeriksa riwayat panggilan telepon. Matanya melebar karena jejak telepon Eberardo kemarin malam.


“Mungkin Ethan marah karena telepon ini? Ish, udahlah aku gak mau ikut campur lagi masalah bisnis. Biar itu tanggung jawab Daddy.” Valerie menghapus dan blokir nomor telepon mantan kekasihnya. Karena Hotel Daddy Dariel memiliki kerja sama dengan perusahaan Eberardo, dan Valerie bertugas mengawasi jalannya proyek.


KLEK


Pintu terbuka, Ethan menampakan wajah lelahnya.


“Kamu mau tahu kenapa aku berubah?” tanya Ethan tidak mau basa basi lagi dan harus menyelesaikan masalah.


Valerie mengangguk cepat, dia yakin semua malasah berpusat di Eberardo. Siapa lagi kalau bukan mantan?


“Semalam dia telepon kamu. Kalian masih berkomunikasi? Kamu masih cinta sama dia?” dada Ethan mulai terasa panas yang menjalar.


“Cinta? Jujur aja, dulu aku kagum sama dia. Tapi sekarang perasaan aku semuanya untuk kamu, untuk apa nikah kalau masih mengharapkan masa lalu? Kamu pikir aja Ethan!” balas Valerie merasa suaminya ini tidak memberi kepercayaan.

__ADS_1


Valerie membuka laptop, menunjukan email-nya, beberapa proposal kerja sama. Dia berhubungan dengan Eberardo melalui asisten pribadi tidak lebih dari bisnis, keuntungan dan prestasi.


“Kontrak ini satu tahun yang lalu, kamu tahu kan kalau Daddy engga pernah menyatukan masalah pribadi dengan perusahaan? Kerja sama RB Hotel dengan salah satu anak usaha Torres Inc, tidak bisa dibatalkan begitu aja. Pinaltinya besar Ethan, dan tu…” Valerie berhenti bicara sebab Ethan membungkam mulut bawel itu, menyatukan bibir mereka.


Dari sekedar membungkam beralih mel*um@t liar. Ethan mendorong istrinya ke atas kasur empuk, mengunci pergerakan Valerie. Tidak lupa satu tangannya sudah bergerak ke sana kemari, menyingkap dress santai. Menyentuh bagian inti tapi dia merasakan sesuatu.


“Ah sial, pembalut.” Geramnya dalam hati, lalu melepaskan pagutannya. “Gue lupa kalau dia lagi datang bulan.” Keluh Ethan lagi.


“Aku … aku udah blokir nomor, dan sosial media Eberardo, kamu cek aja sendiri.” Ucap Valerie sembari terengah-engah, memberikan ponsel ke Ethan.


“Kapan selesainya? Masih lama?” tanya Ethan sangat ambigu.


“Apa? Proyek ini ya kalau tidak di perpanjang sekitar enam bulan lagi. Aku minta Theo aja yang handle.” Valerie menghindari tatapan mata Ethan yang tidak biasa.


“Maksudnya, kapan menstruasi kamu selesai sayang? Jangan lupa janji kamu.” Ethan tidak tahan lagi jika harus menunggu lebih lama.


HAHAHA


Tawa Valerie terpaksa, dalam hati berharap dia terus saja menstruasi, belum siap jika kehilangan sesuatu yang dijaganya selama ini walaupun diberikan untuk suami.


“Umm … nanti kalau udah selesai aku pasti kasih tahu, aku engga akan lupa. Kamu tenang aja.” Valerie bergidik ngeri membayangkan hal itu terjadi.


TBC


****


jangan dikasih Vale!!! biar Ethan tahan 😎


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2