
Valerie dan Ethan sepakat untuk tinggal mandiri, memulai semua kehidupan di luar rumah keluarga. Ethan pun mengambil alih tanggung jawab Daddy Dariel dalam hal materi dan menjaga Valerie.
Valerie ikut dengan suaminya tanpa membawa fasilitas kendaraan serta jajaran kartu berisi uang tunai, semua dia tinggalkan di rumah.
“Engga apa-apa kan tinggal di sini? Setelah uang aku cukup, kita pindah rumah mungkin satu atau dua tahun lagi sayang.” Ungkap Ethan sambil mengusap punggung istrinya.
“Ya bukan masalah selama aku bisa tinggal aman engga kehujanan. Terus kalau berangkat ke kampus gemana?” Valerie menoleh ke kanan, karena tidak mungkin naik bus atau merepotkan Ethan mengantarnya setiap hari.
“Ini untuk kamu, aku beli kemarin. Maaf ya engga sebagus pemberian Daddy Dariel. Mau lihat sekarang mobilnya?” Ethan berusaha semampunya untuk memberi yang terbaik. Tapi memang diusia 21 tahun, kemampuan ekonominya belum setara dengan keluarganya ataupun mertua.
“Engga perlu, aku ada tugas yang belum selesai. Kamu gak ke kantor? Atau ambil cuti? Sesekali boleh kan main ke sana?” Valerie yang masih menganggap Ethan sebagai teman ini biasa saja tidak canggung.
Ketika di kamar barulah gugup luar biasa. Sebab kondisi berduaan seperti ini sangat sering terjadi.
“Aku ada janji temu sama klien baru di cafe apartemen ini. Oh iya sayang ini untuk kamu, belanja keperluan apartemen. Kalau uang jajan aku transfer aja ya ke rekening kamu.” Ethan mengirim bukti pengiriman ke istri mudanya.
Apapun dia lakukan demi membahagiakan Vale-nya.
Mata Valerie melebar, bibirnya juga melongo, mendengar kata ‘kebutuhan apartemen’ bingung sendiri. Selama ini tidak pernah belanja selain tas, sepatu atau baju. Dia juga melirik kuku cantiknya, dan tersenyum miris.
“Gini ya? Harus aku?” tanyanya dalam hati, memandangi jemari tangan lentik yang terpasang cincin di jari manis kanan.
Ethan tertawa renyah, sesuai dugaan. Beginilah ketika meminang Tuan Putri yang selalu dijaga, bahkan dimanja oleh orangtuanya.
Ethan pun akan melakukan hal serupa, tugas utama Valerie melayaninya dan kuliah, bukan pekerjaan rumah.
“Kamu engga perlu repot cuci piring, itu ada mesinnya. Kamu juga gak pelu repot cuci baju sayang, aku selalu laundry, untuk bersih-bersih ruangan, seminggu tiga kali ada petugas. Masak aja yang harus.” Ethan menunjuk setiap ruangan, dia menunjukkan Valerie ke dapur serta ruangan lain.
“Masak ya? tapi aku bisanya menghangatkan makanan aja, itu juga kalau engga gosong.” Valerie tersenyum hambar, dia kebingungan bagaimana caranya masak. Paling mudah ya mie instan tinggal rebus dan matang, takaran bumbu tersedia.
**
Malam harinya Valerie yang selesai mengerjakan tugas, mendadak kelaparan. Untuk pertama kali dia akan menggunakan uang Ethan. Pergi ke restoran kecil di dalam gedung. Memesan banyak makanan untuk dibungkus.
Matanya hazel tajamnya menangkap keberadaan Ethan di dalam cafe bersama seorang wanita dewasa, diperkirakan usianya 25 atau mungkin 28 tahun. Tersenyum manis dan ramah.
__ADS_1
“Ck, kliennya cewek, aku kira kakek-kakek. Itu Klien Vale, jangan cemburu. No No, dilarang keras menghampiri, kasihan kalau gagal meeting-nya.” Valerie mengelus dada, dia tidak boleh gegabah melabrak orang yang sedang bekerja.
Selesai membungkus makanan, Valerie keluar. Lagi-lagi sikap wanita dewasa itu berlebihan menyentuh bahu Ethan. Berusaha menyentuh pipi suaminya.
“Eh kurang ajar banget itu Tante. Ethan suami aku. Ish … serba salah kalau kaya gini. Memangnya meeting harus pegang pipi? Engga kan.” Valerie cemburu, kesal bercampur ketakutan Ethan-nya direbut perempuan lain.
Kedua matanya semakin melotot menyaksikan Ethan memegang tangan perempuan lain.
“Ish Ethan jahat banget.” Seribu langkah Valerie memasuki supermarket membeli cemilan dan coklat adalah tujuan utama, banyak makan bisa menghilangkan kegundahan hati.
Ethan bukan hanya sekedar memegang tetapi berusaha menyingkirkan tangan itu dari pipinya.
**
Valerie yang kalap, memenuhi troli dengan makanan ringan, mulai dari asin, manis hingga pedas. Bahkan dia sudah menghabiskan dua bungkus coklat karena cemburu.
“Baru delapan hari tapi rasanya engga enak banget. Lebih baik aku engga lihat kan? Jangan-jangan bukan meeting biasa. Pekerjaan berkedok pekerjaan.” Gerutu Valerie mendorong troli ke bagian kasir.”
“Apanya yang bukan meeting biasa?” tiba-tiba saja Ethan muncul dari samping, langsung mencium pipi istrinya.
“Wah istriku jajannya banyak. Ayo ikut, kalau semua isinya coklat, keripik dan kue mana bisa kenyang.” Ethan merengkuh pinggul Valerie, merebut keranjang belanja itu. Keduanya benar-benar tampak seperti pasangan muda yang baru saja menikah.
“Ethan lepas tangan kamu! Lagi meeting kenapa ke sini? Tantenya udah pulang? Itu klien biasa atau klien plus plus?” pertanyaan Valerie ini mengundang atensi pengunjung lain.
Ethan mengetahui istrinya menyaksikan kejadian di cafe, segera mengakhiri pertemuan dan menyusul Valerie.
“Klien Vale, sstt suara kamu keras banget. Plus plus aku ya cuma kamu, sampai di apartemen aku tunjukan seperti apa.” Ethan seolah bercanda dan menggertak. Dia bicara sembari megambil aneka sayur lalu mendorong troli ke rak protein hewani.
“Istriku harus belajar belanja sesuai kebutuhan. Masa mau makan nasi pakai coklat?” tawa Ethan.
Keduanya pun segera keluar dari supermarket, repot membawa banyak bahan makanan dan snack. Untung saja pintu apartemen bisa dipindai dengan sidik jari, memudahkan Ethan membuka pintu tanpa menekan sandi atau memutar kunci.
Valerie yang masih kesal, masuk kamar, mencuci tangan dan kakinya. Dia ingat sekali bagaimana klien Ethan begitu menggoda, tidak habis pikir bagaimana Ethan bisa merelakan tangan wanita lain menyentuhnya.
“Dasar laki-laki semua sama. Cintanya di bibir aja, hatinya gak tahu. Apalagi ketemu perempuan full make up langsung diserbu.” Bibir Valerie memang pedas, tanpa sensor dan basa basi, meluapkan apa yang dirasakannya.
__ADS_1
GREP
Ethan memeluk dari belakang, menurunkan sebelah tali Korean Dress rumahan, hingga bahu kiri mulus Valerie tak ada penghalang. Mencium bahkan menyesap, meninggalkan tanda merah di kulit putih itu.
“Akh Ethan … ge-geli.” Darah Valerie mendesir, degup jantungnya tidak lagi bisa dikondisikan dengan baik.
“Ini plus plus yang kamu maksud? Aku engga pernah selingkuh sayang. Wanita itu murni klien aku, seharusnya kamu lihat sampai selesai apa yang aku lakukan.” Ethan masih enggan melepas Vale-nya. Semakin erat memeluk dan menghisap bagai drakula kehausan darah.
Memutar tubuh sang istri, saling berhadapan, lalu mengangkat Valerie dan mendudukkannya di meja wastafel. Merangkum pipi semerah tomat, tanpa sungkan lagi, memagut bibir yang sedari tadi menggerutu tidak jelas.
Lidah keduanya saling bersentuhan, membelai satu sama lain di dalam.
Valerie tidak sengaja menggigit lidah suaminya. Ethan sempat meringis nyeri, lantaran tangan kekar Ethan merayap memasuki dress, perlahan bergerak ke atas. Hingga mencapai tujuan, di kedua aset berharga yang selalu menggoda untuk dih*1s-4p.
“Akh … Ethan.” D-*3s-@h4n kedua kembali terdengar, memacu Ethan untuk melakukan lebih.
Kini tangannya merambat ke belakang, berusaha melepas pengait di bagian punggung.
Ethan melepas tautan bibirnya, berhasil melepas penyangga d-@-d4 milik Valerie. Jantung keduanya berdegup hebat, pertama kali melakukan hal seperti ini.
“Boleh ya sayang?” tanya Ethan tidak sabaran menyentuh area itu menggunakan mulutnya.
“Hah? I..” jawaban Valerie belum selesai.
Ting tong
Ting tong
Sepasang suami istri ini terusik dengan suara bel apartemen.
TBC
***
sabar ya Ethan 🤗
__ADS_1