
Beberapa minggu berlalu
Hari wisuda Ethan Adrian Armend. Dua keluarga besar hadir memeriahkan wisuda anak, menantu serta saudara mereka. Pelataran gedung sangat ramai oleh sepupu Valerie yang sengaja memberi kejutan.
Satu unit kendaraan roda empat sebagai hadiah, atas usaha keras Ethan mendapat predikat mahasiswa terbaik mengalahkan Ketua BEM.
“Terima kasih kakak sepupu baik hati. Ditunggu hadiah lainnya, tolong beri yang banyak mungkin bisa uang tunai.” Gurau Ethan.
“Eh matre dasar, kerja dong. Langsung gas punya anak? Kasih keponakan lucu lah kita, pasti anak lo kembar Ethan.” Harapan kakak sepupu Valerie.
“Iya semoga aja. Tapi kasihan kak, Vale terlalu sibuk kuliah, mungkin satu tahun lagi bisa program hamil.” Ethan melihat ke istrinya yang sibuk mengunyah makanan lezat.
“Sekarang aja, gue siap menjaga. Lo sama Vale bisa lanjut kuliah lagi. Gue rela tanpa digaji.” Sambung kakak sepupu yang menjomblo di usia matang itu.
PLAK
PLAK
PLAK
PLAK
Daddy Dariel memukul kepala keempat keponakannya, cukup keras menggunakan dompet tebal berisi uang tunai serta kartu debit-kredit.
“Kalau begitu, kalian berempat yang hamil. Mau?” ujar Daddy Dariel. Bukan tidak mau, pria ini sangat ingin menggendong cucu. Namun lebih bijak menunggu Valerie lulus kuliah agar fokusnya tidak terbelah dua.
“Kita engga bisa hamil Dad, hanya perlu menghamili.” Jawab salah satu sepupu.
Tentu saja mereka semua adalah lelaki normal, tidak mungkin mengandung.
__ADS_1
“Ingat ya menantu, gunakan pengaman dan pengaman! Valerie masih terlalu muda, setelah lulus terserah kalian mau memberi aku cucu sebanyak apapun bebas.” Tukas Daddy Dariel.
Keceriaan ini menjadi pemandangan yang sangat tidak disukai oleh seseorang di dalam mobil hitam.
Dia turun, lengkap menggunakan topeng dan hoodie, berjalan berbaur bersama tamu lalu berlari sangat cepat. Pisau lipat sudah siap di tangan kanannya.
Dengan gerakan cepat dia menyerang Ethan, tepat mengarah Ketua D’Dragons. Tapi gagal, Daddy Dariel mengetahui ada bahaya, segera mendorong semua keponakan dan menantunya hingga sedikit menjauh. Alhasil Ayah kandung Valerie mendapat tusukan di pinggang.
“Daddy?” teriak Valerie, Ethan serta semua sepupu.
Tak ingin kehilangan jejak, Ethan bersama dua sepupu Valerie serta David dan Josh berlari memburu pelaku.
Daddy Dariel masih sanggup berdiri dan tersenyum, “Tidak ada apa-apa ini luka ringan. Tolong bawa Daddy ke rumah sakit.”
Area gedung pun mendadak panik, semua orang ketakutan, sebagian masuk ke gedung dan sebagian segera meninggalkan acara wisuda.
Di dalam mobil, Valerie serta Mommy Fredella menangis. Darah terus bercucuran dari pinggang, bahkan jok mobil sudah basah dan berubah menjadi genangan darah.
“Daddy terluka, mana mungkin aku tenang. Aku janji membawa orang itu ke penjara tapi izinkan aku memukulnya sampai babak belur.” Isak tangis Valerie.
“Tapi Daddy keren kan? Kalian berdua pasti terpukau.” Daddy Dariel mengedipkan sebelah mata kepada istri serta putrinya. Kemudian meringis kesakitan dan pingsan.
**
Sementara Ethan, Zac, Cedric, David, Josh masih berlari mengejar pelaku hingga memasuki area perumahan. Ethan memberi perintah kepada sepupu serta temannya untuk berpencar dan memotong jalan.
Akhirnya setelah kehilangan setengah tenaga, orang itu terkepung, sayangnya dia tidak mahir bela diri. Zac hanya memberi pukulan pada titik saraf untuk melemahkan pelaku.
“Josh buka topengnya! Gue penasaran siapa dia. Berani banget mengincar nyawa gue.” Perintah Ethan, satu kakinya menginjak dada sosok bertopeng.
__ADS_1
Josh merobek topeng yang terbuat dari kulit tebal ini.
“DEVANO?” pekik ketiganya.
“Jadi selama ini yang bikin rusuh ganster dia? Ada masalah apa sih?” David menendang kaki pria yang sudah terkapar tak berdaya.
Lantas segera membawa Devano ke bangunan tua di dekat basecamp. Ethan sangat dirugikan atas hal ini, mertuanya terluka, hari bahagianya ternoda akibat ulah satu orang tak bertanggung jawab.
“Mau dikasih pelajaran apa dia? Kasih langsung ke polisi atau main dulu kita?” David mengapit rahang Devano, kemudian menghempaskannya.
“Gue tahu apa yang harus kita lakukan.” Kata Ethan, menghubungi Valerie supaya datang ke lokasi. Ethan yakin istrinya ini memiliki dendam khusus.
“Lo telepon siapa bro? kita hajar aja dia, bila perlu semua anggota gengnya kita serang.” Kesal David.
Devano mantan anggota D’Dragons yang berambisi menjadi ketua, namun sayang tidak terpilih karena kondisi fisiknya lemah. Sehingga mendirikan gangster baru yang beranggotakan 20 orang. Tentu saja Devano tidak berhenti sampai membantu gangster. Dia menghasut warga desa untuk menyerang Ethan satu tahun yang lalu, dengan imbalan uang.
“Telepon istri. Devano harus tahu berhadapan dengan orang yang salah. Istri gue pasti engga akan bisa tenang sebelum ketemu pelakunya langsung.” Desis Ethan, mengambil satu botol air lalu menyiramnya ke tubuh Devano.
“Bangun lo, ini bukan hotel untuk tidur!” Bentak Ethan.
“Sadis lo. Laki sama bini hobi kekerasan.” Celetuk Josh membayangkan Valerie memukuli Devano.
Devano yang tersadar membuang ludah, hampir mengenai Ethan. “Argh … gue benci D’Dragons, gue benci lo. Ethan gak layak jadi ketua, terlalu lembek.”
“Ba**t lo.” David memukul perut Devano. “Minta maaf lo, masih berani aja.”
“Lebih baik gue mati daripada minta maaf.” Devano tak ingin kehilangan harga diri dengan memohon maaf.
TBC
__ADS_1
***