
“Nat Natasha? Tunggu! Mau ke mana?” Valerie berteriak, dia memutuskan mengejar adik sepupunya.
Di kamar, Natasha merapikan semua barang, menangis histeris. Gadis kecil itu mendelik tajam ketika Valerie memasuki kamar. “Mau apa ke sini kak? Keluar! Aku gak suka sama kakak. Kak Vale jahat, lebih baik kakak keluar dan jangan ganggu aku.” Mendorong Valerie, namun tenaga Vale lebih kuat, tidak bergeser sedikitpun.
“Berhenti Nat, kamu jangan kaya gini. Kak Vale sayang sama kamu.” Balas Valerie, suaranya tidak kalah tinggi dari Natasha.
“Kakak bilang sayang? Ingat ya kak, aku yang lebih dulu suka sama Kak Ethan. Selama kakak pergi, aku yang selalu di samping Kak Ethan, bukan Kakak.” Natasha mengacak rambutnya sendiri, menendang kaki ranjang cukup kuat.
“Kakak lupa ya? kakak udah janji di depan Uncle Dariel, kita semua gak ada yang boleh suka sama satu orang. Kalau pun ada, salah satunya harus mengalah. Aku gak mau mengalah, tapi kakak yang harus pergi." Histeris Natasha tidak lagi bisa terkendali.
“Pergi dari Ethan? Rasanya gak mungkin.” Lirih Valerie. Takdirnya, jalan hidupnya menuntut Valerie selalu dekat dengan Ethan.
“Diam ya, mau melanggar janji ya? Kak Ethan gak pantas sakit hati lagi. Asal Kak Vale tahu, dia masuk ke gangster. Hidupnya berantakan, dimarahi Uncle Bobby karena selalu bolos kuliah. Semua karena kakak. Kenapa sekarang datang lagi? Seharusnya kakak pergi yang jauh! Aku benci kakak.” Natasha berusaha memukul kakak sepupunya.
Beruntunglah Ethan masuk ke kamar bersama David serta dua anggota lain.
Berusaha menenangkan Natasha yang memang memiliki masalah pada mentalnya. Sejak kecil hanya ada Ethan yang selalu menemani, gadis kecil itu takut kehilangan sosok Ethan selamanya.
“Aku mau pulang! Aku benci di sini.” Natasha masih berteriak tak bisa ditenangkan.
“Vale, ambil tas Natasha cari obatnya!” perintah Ethan menunjuk tas ransel yang tergeletak di atas lantai.
“Vid, tolong ya!” ucap Ethan tanpa suara apa pun, cukup isyarat kepada David yang sudah siap di belakang tubuh Natasha.
Dalam hitungan ketiga, David dan Ethan memegangi tangan serta kaki Natasha.
“Sayang, bantu aku kasih obatnya. Tumbuk dulu biar cepat!” Ethan dan David sekuat tenaga menahan gadis kecil yang selalu memberontak ini.
__ADS_1
“Lepas. Aku gak sakit, gak mau minum obat.” Natasha menangis tak suka mendapat perlakuan kasar seperti ini.
Dengan alat seadanya, Valerie berhasil mengubah tablet menjadi bubuk, secepat kilat membubuhkan ke dalam mulut adik sepupunya.
“Pahit, minum. Aku mau minum.” Tangis Natasha, wajahnya memerah, memendam rasa sedih dan marah.
Usai di beri minum, David dan Ethan masih memeluk gadis kecil itu, hingga 10 menit lamanya. Kemudian Natasha mulai melemah dan tertidur. Cukup nyenyak.
“Sayang kamu tunggu di sini, aku harus antar Natasha pulang malam ini juga. Kalau engga, dia pasti berulah lagi. Kamu di sini aja, besok pagi aku jemput kamu.” Ujar Ethan dia tidak mau kehilangan momen liburannya bersama Valerie di pantai.
“Engga Ethan, aku mau ikut. Lebih baik aku juga ikut pulang.” Valerie memaksa, dia merasa bersalah kepada Natasha, terlebih ada sesuatu yang ingin ditanyakan.
“Vid, gue titip sama lo ya. Jaga mereka semua!” perintah Ethan, sebagai ketua dia tidak enak hati karena masalah pribadi, membuat bungalow ini rusuh dan ramai, hingga menjadi tontonan semua orang.
**
Setelahnya, Ethan dan Valerie singgah di salah satu restoran cepat saji. Keduanya duduk sembari meneguk minuman bersoda.
“Maaf sayang, kamu jadi ikut susah.” Celetuk Ethan seara spontan.
“Seharusnya aku yang minta maaf, Natasha kan adik sepupu aku. Dia selalu bikin kamu repot ya?” Valerie membelai pipi kekasihnya itu.
Kalimat Natasha masih terngiang jelas di ingatannya. “Ethan, aku boleh tanya gak?” lanjut Valerie yang sangat penasaran.
“Apa? Tanya aja, pasti aku jawab.” Ethan membalas, mengusak rambut Vale-nya hingga berantakan.
“Umm … sebenarnya … apa alasannya kamu masuk geng? Aku rasa dari segi ekonomi kamu sangat berlebih, kasih sayang juga cukup, ya aku tahu Tante Ayu selalu sibuk di butik dan Uncle Bobby jarang ada waktu untuk kamu. Tapi mereka engga pernah berantem di depan kamu kan?”
__ADS_1
Ethan menghela napas, matanya terpejam. “Kamu benar Vale, Daddy dan Mama selalu sibuk, rumah hanya tempat untuk tidur. Setelah perusahaan Daddy bangkit lagi, dia selalu sibuk, sementara Mama menjaga agar butiknya selalu menjadi yang terbaik sesuai wasiat oma. Satu hal lagi … berhubungan sama kamu.” Ethan meraih tangan Valerie, mengulas senyum.
“Karena kamu sayang …” Ethan menjeda kalimatnya, menceritakan semua sama saja membuka luka masa lalu.
“Aku?” Valerie menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, kamu. Aku sedih Vale, aku … sakit hati. Kamu pindah sekolah ke Inggris, lebih parahnya lagi … kamu dan Eberardo pacaran. Aku gak terima Vale. Aku itu suka sama kamu dari kita kecil. Mau tahu alasannya kenapa aku selalu jahil? Gak pernah bersikap lembut sama kamu?"
Ethan serius, Valerie harus tahu betapa besar perasaan yang dimilikinya untuk Valerie.
“Aku selalu gemetaran kalau dekat sama kamu, dengan cara jahil, aku bisa menguasai diri. Maaf sayang, terkadang selalu kasar, karena menutupi perasaan yang sebenarnya. Aku jatuh cinta sama kamu Vale, selama kamu pergi aku kesepian dan hanya D’Dragons yang membuat nyaman.” Tukas Ethan.
Sementara Valerie bergeming, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir sahabatnya. Meyakini bahwa Ethan benar-benar tulus, tidak berbohong.
“Tapi sekarang kamu engga gemetaran? Sikap kamu jauh lebih baik.” Bingung Valerie, karena tumbuh bersama sejak kecil, sama sekali tidak ada yang ganjil, tapi setelah menerima Ethan, gadis ini tidak mau berpisah atau melepaskan kekasihnya.
“Ya iya dong sayang. Kamu kan udah jadi pacar aku. Milik aku, perasaan aku juga kamu udah tahu. Ya walaupun aku yakin, kamu menerima karena gak tega lihat Ethan menanggung malu di depan umum, benar kan sayang?” Ethan masih menggenggam tangan Valerie, seolah takut Vale-nya menghilang.
“Tapi aku engga peduli, dibilang egois pun gak apa. Yang penting, sekarang dan selamanya Valerie milik Ethan, hanya untuk Ethan. Aku serius sayang, setelah lulus nanti, aku mau lamar kamu. Gak apa-apa kamu masih kuliah, aku sayang banget sama kamu, gak mau kehilangan kamu, Vale, cukup satu kali aja.” Ethan sudah memiliki rencana masa depan indah yang harus dijalani bersama Vale-nya.
“Kamu gak mau tahu alasan lain aku bersedia jadi pacar kamu?” kali ini Valerie yang akan mengungkap semuanya.
TBC
***
Putus gak ya?
__ADS_1