Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 41 Salah Paham


__ADS_3

Tujuan Valerie yang utama memang mengunjungi Eberardo setelah itu Ethan. Gadis cantik ini juga penasaran dan terserang virus cinta semalaman tidak bisa tidur. Isi kepalanya hanya memikirkan Ethan.


Sekarang, Valerie tercengang, di dalam ruangan ini tidak ada siapapun. Rasanya tidak mungkin bila Ethan pulang ke rumah, terlihat dari ranjang berantakan dan ponselnya tergeletak begitu saja.


“Kemana sih Ethan? Di toilet kosong. Percuma juga aku telepon.” Valerie mengeluh. Mendengus sebal, niatnya melepas rindu pun gagal.


Mendadak penasaran dengan isi ponsel Ethan, nekat mengambil benda itu. “Yah dikunci pakai sidik jari.” Kata Valerie mengurungkan niatnya untuk memeriksa benda itu.


AKhirnya dia putuskan mencari Ethan ke taman. Belum sempat membuka pintu, seorang perawat masuk lebih dulu diikuti Ethan yang tampak kesal.


“Ethan, kamu dari mana? Aku cari kamu.” Valerie yakin ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya ini.


Tanpa mendapat jawaban, mata hazel Valerie melirik selang infus yang merah, serta perban di punggung tangan berwarna serupa. “Darah?” tanya Valerie dalam hati.


Tubuhnya menyingkir ke sisi, memberi jalan kepada perawat dan pasien. Valerie masih diam, mengamati suster yang membantu Ethan.


‘Tolong diperhatikan ya. Jangan sampai terulang lagi, bahaya bagi kesehatan.’


“Ya terima kasih.” Ethan begitu dingin dan enggan menjawab panjang lebar.


Selepas perawat pergi, Valerie hanya diam menunggu calon suaminya untuk mengucapkan beberapa patah kata, menjelaskan semua kejadian ini.


Ethan marah sekali karena Vale-nya dipeluk pria lain, lebih parahnya lagi Valerie diam saja. Ya Ethan hanya melihat separuh adegan, dia tidak tahu jika Valerie menginjak kaki Eberardo untuk melepaskan diri.


Gatal menahan bicara, tidak mungkin hanya diam saja. Valerie buka mulut , mengalah. “Kamu kenapa sih Ethan? Aku bingung kalau kamu kaya gini.” Tukas Valerie, mendekat ke sisi tempat tidur.


“Untuk apa kamu datang ke kamar mantan? Masih cinta atau kangen? Mau balik lagi?” Ethan melempar banyak pertanyaan, hatinya terlanjur kecewa atas sikap Valerie.


Valerie yang kesal dihujani segala kecurigaan, tak menjawab apapun. Pasti Ethan tidak mau mendengarnya. Dia pun memutuskan semakin mengikis jarak yang ada, memberanikan diri duduk di tepi ranjang, dengan gerakan cepat menyatukan bibirnya ke mulut bawel Ethan.


Mengandalkan intuisi, keduanya saling bertukar saliva. Ethan tidak tinggal diam, tangan kanan menahan kepala gadisnya. Tidak rela tautan ini terlepas begitu saja.


Namun Valerie sedikit mendorong dada bidang kekasihnya ketika merasakan sesuatu yang tidak beres, Ethan berusaha merebahkan tubuh Vale-nya di atas brankar.

__ADS_1


“Lepas.” Napas Valerie terputus-putus, dia menghirup oksigen yang banyak.


“Terus apa alasan kamu?” tanya Ethan mulai melemah.


“Aku udah janji sama kamu, engga mungkin aku langgar. Masalah aku dan Eberardo tentu saja menyelesaikan hal yang seharusnya. Semoga dia lebih dewasa menerima kenyataan.” Jawab Valerie, besar harapannya agara kedua pria ini bisa menghentikan perselisihan.


“Oh, maaf sayang aku cemburu.” Ethan menunduk lalu memperlihatkan pesan Eberardo yang mengundangnya datang ke kamar, dengan kata lain kejadian ini telah di rencanakan sebelumnya.


“Kamu harus percaya sama aku Ethan, jangan begini. Ya intinya kita saling percaya.” Valerie tidak mau menjalani hubungan yang dipenuhi kesalahpahaman.


“Iya sayang maaf ya.” Ethan mencubit hidung Vale-nya hingga merah dan sepasang kekasih itu terlibat adu mulut, sebab Valerie tidak terima dengan nakalnya tangan Ethan.


**


Hari-hari terus berlalu, Ethan Adrian Armend berhasil lulus dengan nilai terbaik. IPK-nya mendekati sempurna, hanya ada beberapa mata kuliah bernilai B. Akhirnya harus puas di angka 3.76. Bukan masalah karena jarang sekali mahasiswa yang bisa meraihnya.


Apalagi sidang skripsi Ethan lancar tanpa hambatan, tentu saja berkat bantuan Valerie yang mendukung dari segala sisi.


Perjalanan mereka tidak mudah dalam satu tahun ini, pertengkaran kerap terjadi. Faktor utamanya tentu saja cemburu.


Pernikahan mereka pun sudah ditetapkan dua bulan lagi. Tapi bagi Ethan terlalu lama jika menunggu hari wisuda.


“Calon pengantin jangan banyak bengong, kamu kenapa lemes banget?” tanya Mama Ayu sebab sejak pulang dari kantor, Ethan terus murung.


“Vale mah, sibuk banget di kampus. Susah diajak ketemunya, alasan banyak tugas, ikut workshop, bedah buku, periksa kuis dan tugas mahasiswa. Banyak deh.” Keluh Ethan, sudah satu minggu menahan rasa rindu.


“Mah, gemana menurut Mama kalau pernikahannya maju? Pestanya belakangan aja, aku perlu mengikat Valerie. Takut diambil orang Mah.” Ide brilian menurut Ethan, tapi hal gila bagi Mama Ayu.


“Dua bulan itu sebentar sayang, buat aja diri kamu sibuk di kantor. Pasti engga terasa waktu cepat berjalan, percaya sama Mama.” Mama Ayu terkikik geli akan pemikiran Ethan.


Ethan tidak setuju, malam ini juga dia akan mengunjungi rumah calon mertuanya. Bukan tanpa alasan, karena keberadaan Eberardo terus menjadi ancaman bagi Ethan. Pria itu tetap mengirim hadiah mahal yang ditujukan untuk Valerie.


“Jangan nekat ya Ethan! Mama engga mau kamu dan Daddy terlibat perang lagi.” Tegas Mama Ayu, tidak rela waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan hilang percuma.

__ADS_1


“Engga Mah, mau main aja ke rumah Vale nanti malam.” Jawab Ethan tersenyum lalu meneguk tehnya di atas meja.


**


Malam hari di kediaman Bradley, semua pekerja sibuk mendata hadiah dan mengirimkannya kembali ke sang pemberi. Pemilik rumah tidak ingin mengambil kesempatan, lagi pula jika menerima hadiah sama aja Valerie membuka harapan baru bagi Eberardo.


Motor sport Ethan tiba di area parkir, matanya melirik jengah ke arah mobil box yang berisi paket.


“Pagi, calon istri ada di dalam?” tanya Ethan tanpa ragu kepada kepala pelayan.


“Ini Malam Tuan. Nona belum pulang. Katanya pergi ke rumah teman satu kelas.”


Jawaban kepala pelayan itu tidak sesuai ekspektasi Ethan. Tapi balik lagi, tujuannya ke sini untuk memohon izin sekaligus restu dari calon mertua.


Ethan memberanikan diri masuk rumah, bertemu Daddy Dariel bahkan sempat menemani bermain catur dan game. Setelah bosan, keduanya duduk di taman belakang, Ethan langsung bicara ke inti tanpa basa basi.


“Aku ingin menikahi Vale secepatnya Uncle. Aku menepati janji, lulus tahun ini, nilai memuaskan dan tidak balapan, tawuran atau selingkuh.” Ethan benar-benar berubah menjadi lebih baik, sesuai tantangan calon istri.


“Dua bulan lagi Ethan, sebentar.” Daddy Dariel menghela napas.


“Tapi Uncle lihat sendiri hadiah di luar rumah. Itu dari Eberardo, sebagai calon suaminya Ethan tidak terima. Aku janji bisa membahagiakan Valerie.” Bicara sebagai sesama pria yang menyayangi satu perempuan sama.


Daddy Dariel mengangguk paham, mengerti kegelisahan Ethan. Dia juga telah melihat perusahan signifikan seorang Ethan.


“Ok. Tapi ada syaratnya.” Daddy Dariel menatap tajam kepada Ethan.


TBC


***


Satu ya kakak hari ini, maklum seharian di liar rumah. 😁🙏


ditunggu likenya 🙏

__ADS_1


 


__ADS_2