
Rebecca terbuai akan sentuhan Josh yang begitu memabukkan. Pertama kali dirinya merasakan sensasi berbeda. Josh adalah pria pertama yang melakukan ini, Rebecca akui suaminya sangat pandai dalam merayu.
Meskipun tubuhnya pasrah, tapi hati Rebecca tak mengizinkan. Beberapa kali mencoba melepaskan diri tidak bisa. Josh sangat lihai mengunci tubuh serta pergerakan.
Sekarang, bibir itu berani menyusuri rahang dan leher Rebecca. Menciumi area bahu dan menghi**pnya hingga merah.
“Aw, sakit. Josh lo mau apa? Lo drakula apa gemana sih? Lepas!” Rebecca tak kehilangan kekuatan. Kedua kakinya kompak menendang milik Josh.
BRUK
“Argh … Lo itu cewek apa titisan dewa taekwondo? Lagi nanggung Becca. Kenapa harus ditunda sampai saling cinta? Gue udah cinta lebih dulu sama lo.” Josh mengusap bendanya yang sakit.
“Tapi gue gak cinta sama lo. Gue mau pernikahan kita pura-pura aja.” Cicit Rebecca setengah takut, pasalnya khawatir Josh mengamuk.
“Apa lo bilang? Pura-pura? Becca sayang, lo harus ingat kita itu sah tercatat secara hukum. Engga ada yang namanya pura-pura, paham?” Josh yang kesal karena ditolak kesekian kalinya, memilih keluar kamar.
“Tapi gue belum siap Josh. Gue takut, kalau kita melakukannya terus gue jatuh cinta sama lo. Tiba-tiba lo berubah gemana? Gue gak bisa.” Batin Rebecca. Dia menatap pintu yang sudah tertutup rapat tanpa celah.
“Maaf Josh.” Lirihnya, rasa bersalah Rebecca semakin besar, setiap hari selalu menolak dan tidak mau berdekatan dengan suaminya.
**
Rumah Keluarga Armend
Ethan mencium pelipis Mama Ayu, pamit berangkat kerja. Memeluk erat tubuh kecil sang Ibu yang semakin kurus akibat penyakit.
“Ma? Ethan berangkat dulu ya. Mama harus sehat.” Ethan tersenyum, kemudian menuruni anak tangga kecil.
Drt … drt
__ADS_1
Ponselnya bergetar, panggilan telepon dari asisten pribadi mertua. Ethan yakin terjadi sesuatu dengan Valerie. “Ya dengan Ethan Adrian, ada apa?”
Sontak Ethan menutup sambungan telepon, kakinya melangkah cepat. Menerima kabar yang kurang baik.
“Ada apa Ethan? Hati-hati jangan ngebut.” Teriak Mama Ayu dari atas, menyaksikan putranya begitu panik usai menerima telepon.
Di dalam mobil Ethan tidak berhenti berdoa, berharap Vale-nya dalam keadaan baik-baik saja. “Pasti karena dia belum sarapan, makanya pingsan.”
Ethan menyalahkan diri sendiri. Seandainya dia lebih giat mencari merek selai kacang kesukaan istri, hal ini tidak mungkin terjadi.
“Maafkan aku sayang.” Lirih Ethan. Hilang sudah rasa kesal di hati berganti kecemasan luar biasa.
**
GB Hospital
“Huh huh huh.” Napas Ethan tak beraturan. “Sayang?” panggilnya cukup keras, sehingga atensi publik berfokus kepada Valerie.
“Tuan, maafkan saya tidak bisa menjaga Nona dengan baik.” Ujar Asisten Pribadi Daddy Dariel.
“Oh ya kamu sudah melakukan tugas sangat baik Terima kasih.” Ethan menepuk punggung asisten pribadi.
Menatap Valerie yang duduk lemas tak berdaya di atas kursi roda, lengkap dengan infus di tangan kiri. “Sayang, maaf ya semua salah aku. Maaf sayang.” Bisik Ethan menciumi puncak kepala Valerie.
Tidak ada lagi tenaga untuk berdebat, Valerie memilih bungkam dan tersenyum samar. Memejamkan mata, menyandar pada suaminya. “Aku ngantuk dan lapar.”
“Iya sabar sayang, periksa dulu ya.” Ethan pun tetap tidak tenang, dia tidak sabar menunggu proses pemeriksaan selesai.
Sepuluh menit menunggu, Valerie dan Ethan masuk ke ruangan Dokter Spesialis Kandungan. Debar pada dada keduanya tak karuan, takut memiliki penyakit tertentu. Valerie mulai salah tingkah dan keringat dingin.
__ADS_1
“Selamat pagi Nyonya dan Tuan Armend. Silakan Tuan bantu istrinya tiduran di atas ranjang.” Perintah dokter sangat ramah, sedikit mengusir rasa cemas di hati Ethan.
“Keluhan apa yang dirasakan Nyonya? Kapan terakhir kali menstruasi?” lanjut dokter.
“Aku? Sekarang pusing, sebelumnya semua benda berputar. Selalu merasa lapar dan emosi naik turun. Kalau menstruasi mungkin satu bulan yang lalu, siklusnya memang tidak menentu.” Jawab Valerie mengingat tanggal pasti mendapat tamu bulanan.
“Baik sekarang saya periksa ya, USG.” Dokter mulai menekan tombol di keyboard khusus. Ethan setia mendampingi istrinya berdiri di ujung ranjang.
Sabar menanti penjelasan dokter, selalu mengukir senyum agar istrinya tetap tenang dan tidak panik.
“Tuan bisa lihat di depan, di layar besar. Di dalam sana sesuatu berbentuk bulat, ada dua.” Kata Dokter menjeda kalimatnya lalu menekan sesuatu di atas keyboard.
Ethan dan Valerie sama-sama mendengar sesuatu, mampu membuat dua pasang mata melotot. “I-i-ini apa dokter?” tanya keduanya bersamaan.
“Nyonya Muda Armend sedang mengandung, selamat ya. Usia kandungan tujuh minggu. Kalian akan memiliki bayi kembar tidak identik, mereka memiliki dua kantung sendiri. Detak jantungnya sangat baik.” Penjelasan dokter yang sangat membahagiakan.
Ethan menitikkan air mata, rasanya seperti terbang ke angkasa. Memiliki buah hati bersama wanita tercinta sangat membahagiakan.
Dokter menuliskan resep vitamin serta beberapa aturan yang harus dijalani ibu hamil selama trisemester awal. Apalagi kehamilan kembar, menguras tenaga ibu.
“Tapi dokter istri saya tidak pernah mual atau muntah.” Ethan sangat ingat tidak ada gejala ibu hamil pada umumnya yang menyerang Valerie.
“Setiap ibu memiliki pola berbeda, tidak harus sama. Tetapi perubahan hormon tetap ada, misal mood naik turun atau mudah menangis, selalu merasa lapar dan masih banyak lagi.” Dokter menunjukkan buku kecil kepada Ethan, berisi perkembangan janin dan tingkah laku ibu sepanjang kehamilan.
TBC
***
horeee akhirnya Ethan 😉
__ADS_1