
“Huh huh huh sakit, Bu. Engga bisa.” Valerie merengek, kedua tangannya menahan, memegang Mama Ayu dan Mom Fredella yang turut menemani dalam ruang bersalin.
“Bisa, pasti bisa. Mba cantik kuat ya. semua ibu di desain menjadi kuat, kalau dede dalam perut bikin mulas, langsung mengejan ya Mba. Sekarang istirahat dulu.” Bidan cantik yang sudah berusia begitu sabar membantu Valerie.
Kemudian keluar ruangan memanggil seseorang, perempuan muda, cantik, wajahnya bersinar, menatap Valerie dengan senyum sembari menggunakan sarung tangan karet, serta masker. Membantu memeriksa kondisi janin dalam kandungan.
“Semangat ya, Bu. Semua rasa lelah terganti setelah buah hati lahir.” Ucapnya mengalun lembut, melodi indah yang menenangkan Valerie. Seolah terhipnotis, pandangan Vale tertuju pada wanita muda yang mungkin usianya berbeda tiga hingga empat tahun.
Valerie meringis, merasakan mulas, desakan kuat dari dalam luar biasa. Kedua bayi itu saling dorong, membantu satu sama lain agar melihat indahnya dunia dan mendekap wanita yang mengandungnya.
“Huh, sakit lagi.” Celetuk Valerie, diiringi bidan memberi instruksi agar Valerie bersiap mengumpulkan tenaga mengeluarkan bayi.
“Ayo Mba semangat ya, kepala dede sudah terlihat. Ya dorong terus, sekali lagi dorong lagi. Terus …” ucap bidan memerhatikan bagian tubuh bawah Vale yang terbuka tanpa penghalang apapun.
Seketika ruang bersalin berisik, tangisan bayi mungil berkulit merah muda, mata terpejam, kedua tangan mengepal takut terjatuh dari pangkuan bidan. “Satu lagi dede-nya. Sebentar ya Mba, biasanya ada jeda. Nanti ketika mulas langsung dorong keluar, ok?”
Valerie menyaksikan bidan berambut putih memotong plasenta bayi, kemudian melekatkan satu bayi ke atas dadanya. “Selamat, satu anaknya cantik banget.”
Pintu ruangan diketuk dari luar , terus menerus dan memaksa. Tidak kunjung terbuka, seseorang memaksa masuk dan menyembulkan kepala. “Sayang?”
“Ish kamu dari mana aja Ethan.” Bukan Valerie yang bersuara, melainkan Mama Ayu, memukul, mencubit dan menjewer kuping putra tunggalnya, sebab dinilai lalai.
Ethan meringis, selain mendapat siksaan fisik, sudah tentu dewi cantik yang terbaring di atas ranjang enggan menatapnya, malah membuang muka.
“Duh sayang, mulai lagi.” Gumam Ethan, menghela napas lesu. Tapi sesosok mahkluk kecil di atas tubuh sang istri mengalihkan perhatian Ethan. Bayi yang menggerakkan kedua tangan, berusaha menggapai sesuatu.
“Perempuan, anak kamu. Satu lagi Mom belum tahu.” Pungkas Mom Fredella sebab tatapan Ethan tidak berhenti dari bayi mungil cantik nan menggemaskan.
Akhirnya ruangan sempit ini menjadi sesak dan penuh dengan kehadiran Ethan, memaksa menemani Vale-nya. Walaupun ditolak, tetap kukuh, karena dia memiliki hak utama di sini sebagai suami sekaligus ayah.
“Akh mulas lagi. Bu, perut aku…” Valerie mengatupkan bibir, mengambil oksigen sangat banyak, kemudian mengeluarkan bayi keduanya.
__ADS_1
Bidan pun sigap membantu, “Iya terus Mba, kepala dede sudah di luar, sekali dorongan lagi ya. Ayo.”
Sedangkan Ethan menyaksikan perjuangan istri melahirkan bayi kembar tidak mampu berkata apapun. Antara takjub, terkejut, takut dan bersalah sebab membuat pujaan hati kesusahan.
Tangisan melengking khas bayi merah kembali menggema, bahkan saling bersahutan satu sama lain, tidak mau mengalah, atau mungkin terkesan bercakap-cakap.
“Wah, dua-duanya cantik. Mirip Mama ya.” Seloroh bidan, menyelesaikan sesuatu yang seharusnya. Lalu meletakkan bayi satunya di dada kanan Valerie.
“Sekarang dijahit dulu. Sebentar ya Mba, engga sakit kok. Angkat pinggulnya sedikit!” suara lembut kembali mengalun.
Valerie bisa melihat jarum yang sudah siap menusuk kulit tipisnya, bahkan tersentak saat benda tajam itu menggigit perineum yang sobek.
“Aw. Ngilu.” Valerie meringis tak nyaman.
Ethan bergeming, kedua mata tak lepas dari salah satu organ tubuh yang selalu membuatnya puas dan ketagihan. Dia menyaksikan sendiri bagaimana lapisan kulit kecil merenggang, hingga mampu mengeluarkan bayi.
Sekarang kedua tangan bidan menutup luka cukup mengerikan di area itu. Tiba-tiba saja bibir Ethan mengucapkan hal yang membuat semua orang meliriknya. “Jangan ditutup semua Bu Bidan. Jangan!”
Tidak hanya para ibu, tetapi Valerie memilih menyembunyikan wajah, terhalang dua kepala bayi cantik yang aktif bergerak. “Ish bisa-bisanya dia kepikiran kaya gitu dasar mesum.” Omelnya dalam hati.
**
Valerie menatap jengah, bongkahan batu besar seakan berada di kepalan tangan, siap melempar ke wajah tampan Ethan. Tanpa minta maaf, atau kata-kata puitis bak pujangga, pria itu bersikap santai cemderung tenang.
Dia mencibir Ethan yang tersenyum hangat, tidak sungkan menyelipkan rambut di balik telinganya. Membelai pipi merona Vale dengan ibu jari.
“Kenapa cemberut sayang? Senyum ya, nanti cantiknya hilang.” Gurau Ethan, terdengar garing dan menyebalkan.
“Jangan marah sayang. Iya aku salah, di sini aku yang salah, maaf.” Ethan tak mengalihkan perhatian dari istrinya yang sudah memberi dua putri cantik.
“Anak Daddy semuanya cantik, mirip Mommy. kenapa nggak ada yang mencetak muka Daddy sih?” Ethan mencubit hidung mancung putrinya, sebab terlihat manis. Sama seperti Vale-nya sewaktu bayi.
__ADS_1
Sebagai ayah muda, baru belajar menggendong bayi. Pergerakan Ethan sangat kaku, dua tangan begitu melindungi mahkluk kecil dalam dekapan.
“Anak Daddy Gamora Aquila Armend, dan … kakak kamu Adhara Vega Armend semoga selalu sehat, menyayangi Daddy, terutama Mommy, sudah berjuang mempertaruhkan nyawa.”
“Mba-nya sudah bisa menyusui belum? Saya bantu ya. harus sering di susui, Mba. Supaya ASI-nya cepat keluar, awal-awal memang sulit apalagi dua bayi. Tapi setelah menjadi master, menyusui sambil kayang pun bisa.” Kelakar bidan yang masuk ke ruang pemulihan, menumpuk bantal memberi kenyamanan.
Menutup tirai pembatas hingga tak ada celah sedikitpun, menjaga privasi pasien. “Kalau tidak ada keluhan, besok pagi bisa pulang. Tapi malam ini menginap dulu.” Ujar bidan, membuka kancing baju Valerie dan mengeluarkan sesuatu yang kini resmi menjadi sumber nutrisi.
“Suaminya bisa bantu pegang dede, jangan kabur ya Pak. Bantu jaga istri dan anak-anak. “ peringatan bidan, supaya Ethan siap menghadapi kemungkinan repotnya mengurus bayi kembar di rumah.
**
Ethan memutuskan, sementara Valerie tinggal bersama Mom Fredella. Tentu atas pertimbangan matang, permintaan Mom Fredella serta Daddy Dariel, di susul keinginan Valerie. Karena Ethan sudah melihat sejak malam pertama bayinya rewel.
Sedangkan Ethan sering lembur demi mengejar target sebagai pimpinan magang. Tidak bisa 24 jam menemani sang istri.
Mama Ayu terpaksa mengalah, menantunya lebih memilih rumah orangtua. Dirinya pun sadar tidak sesehat waktu muda. Mama Ayu tidak bisa kelelahan, menemani begadang adalah pilihan buruk.
“Besok Mama balik lagi ya sayang.” Pamit Mama Ayu, sudah dua hari selalu datang berkunjung setiap pagi, lalu pulang ke rumah dijemput Daddy Bobby seusai jam kantor.
“Iya Ma, hati-hati di jalan.” Valerie melambaikan tangan. Diikuti dua bayi kembar di atas ranjang.
Ibu muda yang terpengaruh hormon, memeriksa ponsel berulang kali. “Kan dia hilang lagi. Huh. Dasar nggak peka.” bersungut membayangkan suaminya bersenang-senang di luar sana.
TBC
***
sabar ya Ethan 🤣
Dukungan kakak ditunggu ya 😉
__ADS_1