
Hari–hari terus berlalu, Valerie dan Ethan sudah pulang dari bulan madu mereka. Keduanya bertambah lengket tak terpisahkan satu sama lain. Meskipun sama-sama sibuk, tetapi komunikasi dijaga satu sama lain.
Setiap hari Ethan selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, kemudian mengantar Vale-nya kuliah.
“Nanti siang datang ke kantor kan?” tanya Ethan. Setiap hari selalu sibuk dengan pekerjaan.
“Hari ini aku ada kelas sampai sore. Waktunya engga cukup kalau ke kantor, satu jam aja.” Valerie memberengut, bibir merah delimanya maju beberapa senti.
“Ok aku usahakan ya ke kampus. Tapi aku engga janji sayang. Aku mau makan siang sama kamu.” Ethan melepas setir mobil, dan tangannya merangkum kedua pipi istrinya. Mengabsen seluruh kulit wajah, memberi kecupan basah pada bibir kenyal Valerie.
“Ethan. Kamu nakal banget.” Valerie menghapus sisa saliva yang membasahi bibir.
“Gak apa-apa nakal sama istri. Mana kacamata kamu? Aku engga mau istri cantikku ini digoda laki-laki lain. Maaf ya sayang. Sekarang aku tahu alasan Daddy Dariel selalu memaksa kamu pakai kacamata.” Ethan tersenyum, memperlihatkan barisan giginya.
Minggu lalu di apartemen sudah sepakat, bahwa Valerie tidak boleh berpenampilan berlebihan ketika sendirian di luar, kecuali bersama Ethan. Rasanya Ethan tidak rela berbagi keindahan sang istri dengan para pria.
“Iya, ini aku pakai. Aku turun dulu ya, kelasnya dimulai 15 menit lagi.” Valerie membuka sabuk pengaman, mencium pipi kanan dan kiri Ethan Adrian.
“Kamu juga jangan nakal di kantor, aku engga mau ya ada perempuan gatal lagi. Kamu bisa menghindar atau jaga jarak.” Valerie mengancam suaminya.
Jari telunjuknya menunjuk ke bawah. Terpusat pada anggota tubuh yang selalu berdiri ingin dipuaskan. Kemudian kedua jari membentuk tanda silang, sembari menggelengkan kepala.
Ethan terperanjat, membayangkannya saja mampu mencekik jiwa apalagi menjadi kenyataan. “Iya sayang tenang. Cinta aku hanya untuk Valerie, bukan yang lain. Jangan marah ya.”
Dua orang saling menyayangi, tidak ingin kehilangan satu sama lain. Apalagi Ethan, mendapatkan Valerie membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, menanti balasan cinta selama belasan tahun.
**
__ADS_1
Running Creative Media
Hari yang sangat melelahkan bagi Ethan, sejak pagi tadi dia selalu sibuk mengatasi masalah. Mendadak bintang iklan yang sudah mereka kontrak membatalkan kerja sama, dengan alasan sudah menerima tawaran dari produk lain.
Terpaksa Ethan membatalkan niatnya untuk makan siang bersama istri tercinta. Karena pekerjaan ini tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Ethan sibuk mencari model untuk memerankan sepasang suami istri yang bersedia menjalani proses syuting sore ini juga.
Kepalanya hampir pecah, menghubungi agensi pun tidak berfungsi. Kebanyakan dari mereka enggan melakukannya secara mendadak.
Lalu sulitnya mencari pemeran wanita yang sesuai keinginan klien.
“Aish … waktunya tiga jam lagi, tapi kita belum mendapatkan satupun modelnya. Ganti artis, cari selebgram sesuai kriteria klien. Kenapa harus beradegan mesra juga untuk iklan ini. Hah kenapa aku menyetujui konsepnya.” Keluh Ethan, mengusak rambut ikal gondrongnya.
‘Tuan, tidak ada yang cocok. Mungkin kita perlu menghubungi agensi lain.’
‘Tuan maaf, kalau saya boleh memberi saran. Kenapa tidak minta tolong Nona Valerie? Dan pemeran prianya Tuan Ethan, bagaimana?’
Ide brilian itu disetujui Ethan Adrian, secepat kilat dia merapikan rambut, memangkasnya. “Yang rapi. Perintahkan sopir menjemput istriku! Ingat waktunya sebentar lagi!”
Ethan rasa tidak ada salahnya beradu akting dengan istri tercinta di depan kamera. Sekaligus dia menunjukkan kepada semua orang, tentang hubungan mereka yang tak akan terpisahkan oleh apapun.
Setelah dua jam menunggu akhirnya bidadari cantik milik Ethan Adrian tiba di kantor, semua mata melirik penampilan yang memang sangat mengagumkan. Bahkan kacamata besar dan tebal tidak sanggup menutupi pesona Nyonya Muda Armend itu.
‘Mari Nona. Saya bantu ganti pakaian. Tuan Ethan menunggu di dalam.’
Salah satu pegawai membantu Valerie, mulai dari tatanan rambut hingga alas kaki mana yang cocok digunakan.
__ADS_1
Tidak perlu waktu lama untuk bersiap, Valerie keluar dari ruang ganti. Didampingi asisten pribadi suaminya serta petugas wardrobe. Ketiganya berjalan memasuki studio.
“Sayang?” Ethan terpana, jutaan panah asmara memenuhi dadanya. Memang benar Valerie sangat menarik dan sore ini luar biasa.
“Kamu cukur rambut? Semakin keren.” Puji Valerie mencubit pinggang suaminya.
“Aw sakit sayang. Terima kasih ya mau bantu suami kamu yang masih magang ini.” Ethan meraih kedua punggung tangan Vale-nya, mendaratkan ciuman di atasnya.
‘Mari Tuan dan Nona, kru iklan sudah siap.’
Pasangan yang sedang dimabuk cinta ini memerankan suami istri, beradegan mesra dan romantis di atas ranjang. Tentu saja produk yang diiklankan adalah kasur besar serta sofabed.
Ethan kagum kepada istrinya yang cerdas, Valerie dengan mudah menghapal skenario. Proses syuting pun hanya perlu dua kali pengambilan gambar.
“Sayangnya ini bukan di kamar.” Masih dalam keadaan memeluk, Ethan membisikan kata-kata itu. Bukannya mendapat sambutan baik tetapi hadiah cubitan di pinggangnya yang liat karena otot.
“Sakit, Vale. Kamu … mau aku hukum beneran ya?” Ethan meringis, terlalu berlebihan merasakan sakit di pinggangnya.
TBC
***
jempol, jempol
ditunggu likenya
terima kasih 🙏
__ADS_1