Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 18 Liburan Bareng


__ADS_3

Sembari menunggu kekasihnya selesai kuliah, Ethan masuk perpustakaan. Hal pertama yang dilakukan setelah lima semester ini, keterlaluan memang. Penjaga pun tidak asing dengan wajah tampannya, karena Ethan Adrian terkenal di dalam atau luar kampus.


Seketika ruangan luas ini gaduh, mahasiswi pecinta buku kehilangan fokusnya. Mereka semua teralih memandangi Ethan.


‘Ya ampun akhirnya bisa lihat dari dekat’


‘Sayangnya kakak itu sudah punya pacar, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial.’


Bisik-bisik yang masih bisa didengar oleh Ethan, tapi dia malas menanggapi. Akhirnya Ethan keluar dan meminjam buku bisnis untuk mengejar sks yang tertinggal.


Ethan melangkah mantap menuju kelas Valerie, melirik jam tangan, kurang lebih 10 menit lagi pacarnya itu selesai.


Kehadirannya kembali mengundang atensi, mahasiswi yang menggilai Ethan mencuri kesempatan mencari perhatian. Lelaki ini tampak sibuk membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan, Ethan duduk tepat di depan ruang kelas Vale-nya.


Tak menunggu lama, gadisnya keluar kelas. Ethan terpesona melihat Valerie mengikat rambut, mengibaskan seolah memanggil untuk mencium harum aroma sampo yang digunakan. Rupanya perempuan itu kegerahan, padahal dalam ruangan terdapat pendingin suhu.


Ethan segera berdiri, mengeluarkan saputangan dan membawa jus alpukat yang dia beli sebelumnya.


Baru saja mulut Ethan terbuka hendak memanggil nama sang pujaan hati, lebih dulu ada lelaki pengganggu yang mendekati serta mengajak Vale pulang bersama.


“Dia engga tahu berurusan sama siapa.” Sinis Ethan tak mengurungkan langkah, dunia harus tahu bahwa bidadari bermata hazel itu milik Ethan Adrian.


“Sayang?” panggil Ethan, menyorot tajam kepada teman satu kelas Valerie. “Ini untuk kamu.” Ethan membuka segel penutup botol dan membantu pacarnya minum. Kemudian menghapus keringat di kening, hidung dan leher Vale-nya.


“Lo siapa bro? Gue yakin, lo tahu kan siapa gue? Kalau lo mau selamat, jauhi pacar gue!” posesif Ethan sekaligus terbakar cemburu.


“Ethan, kamu apa-apaan? Kita pulang aja sekarang. Ayo jangan lama.” Valerie enggan membuat keributan, menarik tangan sahabatnya menjauh dari kerumunan mahasiswa.


Di area parkir motor, Ethan menyerahkan buku ke tangan David untuk diantar ke apartemen. “Bro banyak banget? Yang benar aja.” David mendengus sebal, dia harus memenuhi tugas dari ketua bucin, baru kembali ke basecamp.


Ketua gangster yang dimabuk asmara tidak menggubris semua celoteh wakilnya. Ethan membantu Valerie memasang helm. Tertawa sejenak memandangi wajah imut di dalam helm.


"Mau langsung pulang, sayang? Atau jalan-jalan dulu mungkin?” sungguh daya tarik cinta memang kuat, karena Ethan hanya ingin berduaan dengan gadisnya.

__ADS_1


“Ke rumah aja deh, aku mau packing. Besok pagi ikut Kakak Denver ke puncak. Eh kamu ikut ya. Kita liburan di sana!” ajakan Valerie ini tentu saja tidak akan ditolak. Di mana ada Vale di situlah Ethan berada.


“Kamu ngajak aku kencan di villa keluarga?  Engga takut terjadi sesuatu? Aku laki-laki normal Vale.” Goda Ethan, mencubit hidung kekasihnya yang tampak kebingungan.


“Kenapa harus takut? Kamu kan manusia. Bukan makhluk tak kasat mata. Masalah Daddy, nanti aku aja yang minta izin. Kamu tidur di kamar Theo ya.” ucap Valerie sangat lancar tanpa mengerti apa maksud kekasihnya itu.


Sekalipun pernah menjalin kasih dengan Eberardo tapi hubungan keduanya tidak dekat, mereka terpisah jarak, antara Madrid-Spanyol dan Birmingham-Inggris.


“Engga tidur di kamar kamu aja?” celetuk Ethan melengkungkan senyum.


“Ish gak boleh. Ayo Ethan pulang.” Rengek Valerie, sifat yang sangat dirindukan Ethan. Gadisnya akan menjadi manja ketika merasa nyaman. Walaupun lebih sering memasang raut wajah galak.


“Duh gerah banget sih ini kampus. Lama-lama gue kirim surat terbuka untuk ketua yayasan, tanam lebih banyak pohon. Dikhususkan kepada para jomblo agar tidak kepanasan.” Celetuk David harus melihat perubahan tingkah ketua yang sangat menggelikan.


“David mending lo cari Josh, dia gak masuk kelas. Diam di klinik kampus!” perintah Ethan sembari menyalakan mesin motornya.


“Penderitaan para jomblo dimulai, terimalah nasibmu David.” Wakil ketua gangster sekaligus Ketua BLM ini mengeluh, berjalan menuju klinik Universitas.


**


“Segar banget, aku kangen ke sini.” Teriak Valerie membuka sunroof, menyembulkan kepala ketika memasuki area perkebunan keluarga.


Ethan dan kedua kakak sepupu Valerie hanya tertawa melihat tingkah adik meraka yang kekanakan.


Seluruh keluarga Valerie menerima Ethan apa adanya, hanya Daddy Dariel masih sangat ketus dan menjaga jarak dengan putra sahabatnya itu.


“Vale, awas masuk angin! Kamu kaya anak kecil.” Ucap Ethan tertawa, akhirnya kehidupan lamanya perlahan mulai dia rasakan.


Kehadiran Valerie merubah keadaan Ethan, biasanya akhir pekan digunakan ke bengkel, modifikasi roda dua, lalu sore hingga dini hari balapan liar.


“Kak, aku turun di sini dong. Mau petik jeruk, boleh kan?” pinta Valerie segera memakai sepatu kets-nya.


“Iya, panen yang banyak! Kakak juga mau.” Kakak sepupu Valerie membuka kunci, Ethan pun ikut menemani kekasihnya berjalan-jalan di kebun jeruk.

__ADS_1


Valerie sangat bahagia bertemu pepohonan hijau, pemandangan pegunungan serta perbukitan memanjakan mata.


Refleks meraih tangan Ethan, membawanya semakin masuk ke area kebun. Memetik satu buah berwana jingga itu, mengupas dan menikmati sensasi manis luar biasa.


“Enak banget, kamu harus coba Ethan. Jeruk di kebun ini memang juara. Ini, aaaa buka mulutnya dong!” menyuapi Ethan. Tawa di wajah Valerie pun mengembang sempurna, karena pacar barunya ketagihan menyantap jeruk.


Dua sejoli itu menghabiskan hingga lima buah jeruk yang dipetik langsung. Valerie masih terus mengambil buah dan mengupas satu lagi, tapi sayang cairan dari kulit jeruk mengenai matanya.


“Aish ini jeruk keterlaluan banget. Aduh perih.” Pekiknya sembari mengibas tangan di depan kedua mata.


“Sayang?” Ethan bergegas menghampiri kekasihnya membantu Valerie, membuka kelopak mata dan meniupnya untuk menghilangkan perih.


“Aku engga bisa jalan kalau kaya gini Ethan, kamu pulang duluan aja.” Usir Valerie, niatnya bersenang-senang jadi menyusahkan orang.


“Mana mungkin aku pergi, kamu sendiri di sini, jangan menambah masalah Vale.” Kata Ethan, segera membungkukkan badan, menuntun Valerie naik. “Aku gendong! Kamu pegangan.” Ethan membantu Valerie.


Berjalan menyusuri area perkebunan, dari jeruk, kopi lalu aneka sayur mayur. Ethan tertawa mendengar suara gadisnya bernyanyi, mengusir rasa jenuh.


“Ethan, mata aku udah sembuh. Aku turun di sini, masa iya kamu gendong sampai Villa sih.” Imbuh Valerie tidak enak hati.


“Engga apa-apa sayang, walaupun harus naik gunung sambil gendong kamu, bukan masalah.” Senyum Ethan sengaja memperlambat langkah kaki, demi berduaan dengan kekasih hati.


“Ethan? Kamu beneran sayang sama aku melebihi persahabatan kita? Kalau boleh jujur aku takut.” Tukas Valerie, menelan susah payah air liurnya.


“Takut kenapa? Aku engga galak.” Jawab Ethan sedikit terengah-engah melewati jalan menanjak.


“Aku takut … kalau status kita pacaran, suatu hari nanti putus, dan hubungan persahabatan kita rusak. Aku engga mau Ethan.” Lirih Valerie tidak ingin kehilangan sosok lelaki sebaik Ethan.


“Kita gak akan putus, kamu tetap pacar aku Vale, apapun aku lakukan untuk mempertahankan hubungan kita. Setelah aku mendapat penghasilan tetap dan cukup mapan, kita menikah.” Lanjut Ethan, sangat yakin bahwa hubungannya ini berjalan lancar.


TBC


**

__ADS_1


doakan langgeng atau putus tengah jalan nih?


__ADS_2