
Ethan, David dan Josh serta beberapa mantan anggota D’Dragons lain berkumpul di salah satu cafe milik Tantenya Valerie. Mereka berbagi suka duka menjalani hidup setelah lulus kuliah, serta mencari pekerjaan tidak semudah membalik telapak tangan.
Sebagian lagi menggunakan jasa orang dalam memuluskan tujuan. Memiliki banyak relasi memang penting di saat seperti ini, mengadu nasib di kota besar tidaklah mudah. Ethan dan David terbuka lebar, dengan catatan teman-temannya serius bekerja.
Sedangkan Josh tampak murung karena Rebecca mendadak pulang ke rumah mertua, tanpa pamit atau meninggalkan pesan sedikitpun.
“Kenapa lemes bro? kurang asupan lo?” David menyenggol bahu Josh hingga terjungkir dari kursi. “Eh sorry bro.” membantu temannya bangkit.
“Iya, kenapa lemes? Ada masalah apa?” Ethan menimpali, yakin sahabatnya ini tidak baik-baik saja.
“Becca, udah dua hari ini kabur. Gue nggak ngerti alasannya apa. Setiap gue ke rumah mertua, dia nggak mau ketemu.” Lesunya Josh, menghela napas pasrah.
“Serius lo? Pantas saja acara minggu lalu dia engga datang, kalian berantem? Masalah anak? Santai aja bro, masih baru juga.” Ucap Ethan merangkul bahu rekannya, memberi semangat.
Mengingat Mami Josh sangat menginginkan kehadiran seorang cucu, Ethan yakin hal itu menjadi beban bagi Rebecca dan Josh.
“Gue sama Becca engga pernah ribut masalah anak. Kita sepakat sabar, tapi gue engga tahu kalau Mami bilang sesuatu.” Adu Josh, pandangan menerawang ke depan.
__ADS_1
“Rumah tangga memang ribet ya, Valerie yang sabar masih bisa marah, Becca yang dewasa bisa kabur. Natasha yang masih anak-anak, apa kabar? Bisa perang terus gue. Sepupu lo rese bro.” David memajukan bibir, kemudian menunjukkan ponselnya sepi.
“Kenapa?” tanya Ethan dan Josh bersamaan.
“Lo kan udah engga jones, seharusnya senang. Bukan sedih, lagipula Uncle Daniel bilang pernikahan kalian menunggu Natasha lulus sekolah. Santai aja bro.” Ethan menenangkan David sekaligus meledek temannya yang selalu patah hati.
David memutar bola mata, menghisap jus sirsak hingga habis tak bersisa, mengigit roti bakar memenuhi mulutnya. Kesulitan mengunyah sudah tentu, tetapi di paksakan.
“Rakus lo, benar kata Ethan seharusnya senang bukan sedih. Nikah itu enak sob. Ya sesekali ada problem wajar lah.” Josh memesan air mineral untuk David yang terlihat tidak nyaman akibat menelan roti.
“Uhuk … uhuk.”
“Kuda lo.” Sergah Josh mendelik.
“Secara tersurat gue punya tunangan, tapi kembali lagi dalam makna harfiah gue jones. Paham lo?” kesal David, mengacungkan tangan, ingin memesan sesuatu untuk melepaskan rasa sedih dan bencinya.
“Lama-lama juga saling cinta. Natasha baik bro, sentuh dengan kasih sayang, dihujani penuh cinta, gue yakin kalian pasangan termanis sepanjang zaman.” Kelakar Ethan menggerakkan tangan bagai pujangga di atas panggung.
__ADS_1
Tidak lama kedua suami itu menerima telepon dari seseorang, mereka pun berpisah di cafe.
“Bro, gue balik. Biasa, Vale dan anak-anak kangen, maklum lah resiko dikelilingi para bidadari.” Sombong Ethan menyambar kunci motor tergeletak di atas meja.
“Gue juga sob, mertua nelepon nih, katanya Becca sakit, masuk IGD. Sorry ya, tolong bayarin lupa bawa dompet gue. Ok calon pengantin, mantan presiden jomblo.” Ucapan Josh ini mengundang gelak tawa rekan yang lain. Riuh tepuk tangan pun menggelegar memenuhi cafe.
David yang selalu ingin diperhatikan, melirik ponselnya, tak ada satupun pesan dari Natasha, semua berisi notifikasi tidak penting. “Nasib ya Vid, sabar aja deh gue, siapa tahu dalam waktu dua tahun ini ketemu cewek yang benar-benar sayang dan tulus, bukan kucing liar model begitu. Amit-amit.”
Daripada memikirkan kehidupan asmaranya, David memilih berkaraoke bersama teman-teman, menggoyangkan badan, demi menghibur diri.
Pria itu tidak sadar bahwa smartphonenya bergetar, satu dua pesan masuk dari seseorang tak terduga.
TBC
***
ada apa dengan becca?
__ADS_1
siapa yang kirim pesan ke david?