Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 37 Kangen


__ADS_3

Universitas Internasional


Valerie duduk di kantin bersama teman-temannya, jumlahnya bukan satu atau dua orang melainkan setengah kelas.


Mudah bagi Valerie mendapatkan teman apalagi sifatnya menyenangkan dan tidak mudah ditindas. Mengingat status sosialnya, sudah pasti menjadi kebanggan berteman dengan Tuan Putri yang baik hati tetapi berubah menyeramkan ketikan mendapati dirinya diganggu.


Sebanyak apapun teman satu kelas yang ikut makan siang bersama, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan posisi Ethan.


“Kangen.” Lirih Valeri sangat dalam. Kalau jam makan siang kaya gini, selalu ada Ethan duduk disampingnya.


Valerie pun melirik ke samping, bayang-bayang Ethan begitu nyata sedang tersenyum manis. “Kenapa harus kaya gini lagi?” gumam Valerie.


Ya dia juga merasakan hal serupa ketika dirinya pindah ke Inggris. Sangat kesepian dan merindukan Ethan.


“Jadi sebenarnya aku udah cinta sama kamu dari dulu, gitu?” batin Valerie terus bertanya-tanya.


“Tapi kita sahabat, ya mungkin wajar aja kalau kangen. Aku sama Ethan kaya saudara, tapi …” bibir dan otak Valerie terus saja merasa aneh. Iya mencintai sahabat sendiri, terdengar lucu dan mustahil.


Namun, hati Valerie secara nyata sangat menginginkan Ethan tetap di sisinya, menjadi kekasihnya, bahkan Valerie bertekad mempertahankan kisah ‘cinta monyet’ bersama Ethan. Janjinya di hadapan keluarga terpaksa dia langgar.


“Ish … apa-apaan sih mana boleh begitu. Aku gak setuju ah, sama ungkapan cinta tak harus memiliki. Huh.” Kesal Valerie, dia membanting sedotan ke atas meja hingga beberapa temannya terkejut.


‘Vale kangen ya sama Ethan’


‘Ayang lo ke mana Vale? Masa bolos lagi, kapan lulusnya dia?’


‘Sabar Vale, kan bisa video call, santuy aja sih. Ethan ke mana? Josh dan David juga gak ada’


“Kata siapa aku mikirin Ethan, engga tuh. Tugas aku aja masih banyak, bantu dosen periksa kuis kelas kita.” Bibir tipis Valerie berdusta. Malu kalau mengakui memang merindukan seorang Ethan Adrian.


Drt … drt


Ethan menelepon kekasihnya, mode video. Pemuda itu juga merasakan hal yang sama. Rumah sakit sangat tidak nyaman. Ethan menanti kekasihnya datang menjenguk.


Kalau saja tidak minum obat, ketua D’Dragons enggan untuk makan.


Valerie segera menggunakan earphone dan menerima sambungan telepon itu.


“Selamat siang pacarnya aku. Lagi makan ya? Enak banget. Aku mau coba, bungkus ya sayang.”


Kata Ethan sebab Valerie menunjukkan mangkuk soto yang sudah habis setengah isinya.


“Engga boleh. Kamu makan aja makanan dari rumah sakit, kecuali statusnya udah bukan pasien lagi.” Jawab Valerie begitu ketus, masih marah karena Ethan membohonginya.

__ADS_1


“Eh kamu lupa ya? Aku kan pasien cinta, tuh lihat aku terluka, pacar aku lagi marah.”


Ethan sengaja membuka kancing piyama, otot dada yang kekar itu memenuhi layar ponsel Valerie.


Deg


Deg


Deg


Mendadak jantung Valerie berdegup kencang. Ingin rasanya dia menyandar di otot tersebut. “Hush Vale, mikir apaan sih. Kaya pertama kali lihat aja, punya Daddy dan Theo juga sama. Malah lebih besar.” Batin Valerie, fokusnya menjadi hilang, dan tatapnya sangat mendamba.


“Sayang … mengedip dong, nanti matanya kemasukan lalat gemana? Tenang aja ini milik kamu, semua di badan aku punya kamu. Aku berani jamin kamu yang pertama merasakannya.”


BLUSH


Kicauan Ethan berhasil membuat Valerie malu setengah mati, semburat merah memenuhi pipi gadis ini.


“Ethan ngomong apa sih. Malu banget, untung yang lain gak dengar. Huh bisa jadi bahan bully.” Gerutu Valerie dalam hati.


“Nanti sore jadi ke sini kan? Kangen sayang.”


Kata-kata Ethan merayap masuk ke dalam hati kekasihnya, senang bukan main. Karena pemuda itu merasakan hal yang sama.


Valerie berharap jawabannya ‘iya’, sejujurnya dia takut dan marah jika Rebecca atau Natasha yang menemani kekasih hati di rumah sakit.


“Mama pulang dulu. Ada David dan Josh. Tuh lihat.”


Ethan mengarahkan ponselnya kepada dua teman yang sibuk dengan gawai masing-masing.


“Hi Bu Ketua, datang ke sini dong bawa makanan.” Sambut Josh


“Gak ada sopannya. Lo kaya tapi kesannya engga mampu beli makan, heran gue.”


Suara David yang bertengkar dengan Josh memenuhi telinga Valerie.


“Sayang udah dulu ya, kamu juga lagi makan. Sayang, Valerie-ku. I love you, I miss you babe.”


Bagai tersengat listrik, Valerie senang bukan main. Hatinya melompat-lompat dan koprol di dalam sana.


Keduanya sama-sama terdiam, Vale menunggu ponsel mati lebih dulu, sementara Ethan setia menanti balasan dari Vale-nya.


“Sayang kenapa diam? Gak jawab sih.”

__ADS_1


Ethan gemas karena sangat yakin kekasihnya ini gengsi tingkat dewa. Lihat saja Valerie menggigit bibir bawahnya.


“Ah Ethan. Aku malu … Sumpah I love you too. Kenapa sih jam ini lama banget geraknya.” Tentu saja Valerie menggerutu dalam hati.


Rasanya setiap detik begitu lama. Menyedihkan juga jatuh cinta, kala rindu menyerang tapi kesibukan menyita waktu dan tenaga. Membuat pasangan yang kasmaran terpaksa menahannya.


Akhirnya Ethan menutup sambungan telepon, lantaran pegal juga menunggu kekasihnya membawa mengucapkan tiga kata.


**


Rumah sakit


Ethan terbaring miring usai puas menatap wajah pujaan hati melalui panggilan video.


“Duh bibirnya manis banget sih, jadi kangen mau cium dan gigit.” Otak Ethan menerawang, teringat pertama kali mengecap bibir gadisnya itu.


Rasanya darah mengalir lebih cepat, jantung pun tidak kalah berat bekerja, dan paru-paru sangat membutuhkan pasokan oksigen.


“Sobat kita patah hati karena ayang gak bilang ‘I love you too’ sesak ya sob. Sabar, perempuan memang gengsi. Nanti juga lancar bilangnya.” Josh berusaha memenangkan rekannya yang disangka tengah bersedih.


“Gampang kali bro, I love you doang. Gak susah tuh. Nih gue coba ya. I love you Ethan, I Love you Josh, cinta mati deh gue sama lo.” Ujar David sangat tegas bahkan dia juga menyentuh bahu temannya itu.


Bertepatan dengan masuknya perawat muda yang memeriksa tekanan darah serta kebutuhan Ethan.


Perawat itu melirik tajam kepada dua pemuda yang sangat aneh dan menggelikan. Secepat kila dia menyelesaikan tugasnya, karena muak berada diantara para pemuda menyedihkan.


“Ganteng-ganteng tapi kasihan.” Gumam perawat sembari keluar dari ruang perawatan VVIP.


Saat itu juga David menyadari tangannya berada di bahu Josh.


“Eh gila. Buset deh, gue nih masih normal. Masa iya suka sama si Josh.” Buru-buru David masuk kamar mandi mencuci tangan dan kumur-kumur.


Hueeek .... hueeek


“Lah, gue juga sama sob. Masih banyak cewek cantik yang perlu gue taklukan. Terlalu mubazir kalau gue suka sama lo.” Balas Josh, tiba-tiba terbayang wajah Natasha.


“Kepala gue ada yang salah kayanya nih, kenapa mikir itu bocah ajaib sih. Gak boleh suka sama anak di bawah umur, cewek dewasa banyak.” Josh menepuk dadanya meyakinkan diri sendiri.


TBC


***


Ditunggu dukungannya kakak 😉

__ADS_1


__ADS_2