
PLAK
Valerie memukul kepala Ethan cukup kuat.
“Ethan kamu gila ya? Lelucon macam apa ini? Oh kamu lagi latihan ya?” tanya Valerie masih sangat kebingungan. Pasalnya tidak mungkin kalau Ethan benar-benar ingin menjadi pacarnya? Mereka hidup dan saling menyayangi selama belasan tahun sebagai sahabat.
“Serius Valerie. Ya memang ini mendadak. Lelucon apa? Mencintai seorang gadis apa bisa disebut lelucon?” Ethan tidak menyangka sikap gadisnya berbanding terbalik.
Keberanian Ethan meningkat setelah mendapat sedikit restu dari Daddy Dariel. Walaupun saat ini Valerie belum memiliki perasaan yang sama tetapi Ethan yakin perjuangannya tidak sia-sia.
“Ya bukan. Tapi Ethan mana bisa kita jadi pacar? Aku rasa di badan kamu masih ada efek obat bius ya?” Valerie menyentuh kening sahabatnya, khawatir Ethan demam atau sakit kepala, ya mungkin saja.
Mendengus napas kesal, kenapa bisa seorang Valerie tidak menyadari bahwa selama ini Ethan teramat sangat menyukainya? Apa Valerie tidak merasakan sesuatu? Lalu bersama Eberardo dengan mudahnya menerima pria itu, padahal baru saja datang di kehidupannya.
Ethan memanfaatkan situasi, dia meraih pinggang gadisnya hingga merapat padu. “Serius Vale? Mau bukti yang lain?” tidak peduli lagi pada sekitar yang kini memusatkan perhatian ke arah keduanya.
“Tapi Ethan mana bisa? Kita itu bersahabat dari kecil. Aku engga mungkin jadi pacar kamu.” Lirih Valerie sangat pelan. Dia juga tahu diri tidak mau membuat lelaki di depannya ini malu atas penolakan.
Ethan menelan saliva, lalu berkata, “Kalau kamu belum cinta sama aku, izinkan aku yang mencintaimu Valerie Wylie. Aku memang egois ingin memiliki kamu sepenuhnya. Vale … percaya lah, aku gak mau kehilangan kamu kedua kalinya. Semalam juga aku melamar kamu di depan Daddy Dariel.” Tukas Ethan, jujur saja dia bingung bagaimana mengungkapkan perasaan terhadap gadisnya.
“Excuse me? Kamu salah makan Ethan!” Valerie masih menyangkal semuanya. Sekalipun dia memiliki perasaan yang sama, Valerie selamanya akan tetap menjadi sahabat bagi Ethan, dia tidak mau melanggar janjinya.
“Beri aku waktu dua bulan. Aku yakin bisa bikin kamu jatuh cinta. Ok mulai sekarang kamu pacar aku, nanti siang aku jemput ke kelas.” Paksa Ethan tidak lagi mau menerima penolakan, pasti hatinya semakin sakit dan berlubang.
Ethan merubah posisinya, menekuk lutut di depan Valerie, masih tetap memegang erat kedua tangan lembut itu.
“Valerie Wylie Bradley. Be my girl!” dua mata Ethan sama sekali tidak ada keraguan. Hanya ada pengharapan begitu besar.
Gadis ini memang tersentuh, seketika ingat akan permintaan Mama Ayu untuk membantu Ethan. Selain itu disaat bersamaan, Valerie melihat Rebecca melintas, menatap tidak suka kepadanya, melotot karena sikap Ethan begitu memuja seorang Valerie.
“Ok aku terima. Aku mau jadi pacar kamu. Tapi …” belum selesai Valerie menjawab, Ethan lebih dulu memeluk kekasih hatinya.
Jawaban Valerie ini mendapat riuh tepuk tangan dari mahasiswa lain, ada yang menangis terharu, patah hati, dan acuh.
__ADS_1
Ethan tersenyum bahagia, biar saja jika Vale-nya saat ini terpaksa, mungkin tidak enak hati karena di tempat umum. Tapi Ethan yakin kurang dari 60 hari gadisnya ini mengatakan ‘I love you’.
Keduanya berjalan beriringan menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Bahkan di depan kelas, sikap Ethan sangat manis. Membelai pipi kenyal Valerie. Pemandangan langka ketua gangster yang disegani satu kampus, lantaran bisa tersenyum.
“Belajar yang rajin ya sayang.” Imbuh Ethan.
“Aku memang rajin. Kamu juga jangan bolos!” balas Valerie sedikit melebarkan mata.
.
.
Jam makan siang banyak mahasiswa memburu kantin sebagai tujuan utama, sama halnya dengan Valerie. Bersama teman-temannya duduk menunggu pesanan makan siang mereka.
‘Vale, kamu luar biasa bisa menaklukan Ketua D’Dragons, padahal kalian baru ketemu.’
‘Hebat banget kamu Vale. Rebecca yang selama ini terus mengejar Ethan kalah’
Semua tertawa bahagia, turut senang walaupun ada rasa sesak karena patah hati.
“Wah mereka engga tahu aja kalau aku dan Ethan pernah satu kasur dan mandi bareng. Eh ya ampun, malu banget, semoga Ethan lupa sama kejadian itu.” Valerie menghela napas, kalau ingat masa kecilnya bersama Ethan, memang seperti saudara kandung, tak berjarak sama sekali.
“Hi cantik boleh gabung ya? tolong dong kosongkan bangku di samping situ, kamu dekat aku aja.” Genit David mensterilkan lokasi demi ketuanya.
Ethan tahu kalau pacarnya ada di kantin, saat ini kondisi tempat duduk sudah penuh, jadilah tugas David mengamankan area.
‘Hi David, boleh dong. Aku pindah ke situ ya’
Valerie menoleh ke belakang, menanti pesanan ramen dan sushi, perutnya sudah keroncongan akibat terlalu banyak berpikir dalam kelas.
“Lama juga ya, duh lapar nih.” Keluh Valerie.
“Vale? Lapar ya?” tanya Ethan yang sudah mendaratkan bokong di sisi kosong.
__ADS_1
Tanpa menoleh dan memeriksanya, Valerie menjawab, “Iyalah lapar, ngapain di kantin kalau engga makan. Pertanyaan aneh banget.”
Tiba-tiba satu porsi sushi melayang di depan matanya. Vale mengikuti gerakan tangan, dia terkejut akan keberadaan Ethan.
“Kamu?” tunjuk Valerie hampir jantungan, mendadak temannya berubah menjadi Ethan. Mata hazel pun menatap ramen yang mengepul panas serta sushi.
Semua atas perintah sang ketua, satu kantin ini semua menyukai Ethan, jadi apapun perintah dan pesanannya selalu di dahulukan.
“Makan sayang, jangan kosong perutnya. Masih ada kelas kan?” sikap Ethan ini menyita perhatian sekitarnya. Dia pun berdiri di atas kursi dan berteriak, “Let’s get lunch this afternoon, it’s my treat!"
“Ketua kita jadi romantis gini. Meleleh gue. Makasih ketua, bisa maka bebas sampai kenyang, YES.” Bangga David pertama kali dalam hidupnya menyaksikan perubahan drastis seorang Ethan.
“Iya masih ada. Makasih Ethan.” Vale menyantap ramen dan sushi-nya. Terus fokus tanpa memerhatikan sekitar, termasuk sang kekasih yang memandangi penuh senyum.
Di mata Ethan, Valerie selalu manis melebihi apapun.
“Kalau Daddy Bobby masih marah, gue engga akan mengandalkan perusahaan keluarga. Harus bisa dapat uang yang banyak untuk nikah sama Vale. Gue serius!” ucap Ethan dalam hatinya.
Untung saja Ethan tidak menghabiskan semua uang yang diperoleh dari kejuaraan e-sport dan balapan, 50% sisihkan membeli instrumen investasi. Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi prodi Manajemen Bisnis, sangat paham akan pentingnya dunia investasi sejak dini.
“Loh kamu engga makan? Memang gak takut telat masuk kelas?” Valerie menoleh usai menghabiskan seluruh makanannya.
“Kamu jauh lebih menarik Vale. Nanti pulangnya aku jemput ya. Jangan pulang sendiri, Uncle Dariel dan Tante Fredella tahu kalau kamu bareng aku.” Tutur Ethan, menyambar satu botol air mineral dan membukanya untuk Valerie.
“Manis banget kamu sayang.” Batin Ethan tetap berdebar.
“Widih cepat banget bro. Baru pacaran tapi restu dari mertua udah dapat, sukses ya bro. Semoga gue cepat punya pacar juga, gak enak jadi presiden jomblo.” Keluh David melayangkan sinyal kepda mahasiswi di dekatnya.
TBC
***
mau juga dong Ethan ditraktir 😌
__ADS_1