
Ethan siap menerima jawaban menyakitkan yang keluar dari bibir pacarnya ini, asalkan Valerie tidak minta putus atau hal apa pun yang bersinggungan dengan perpisahan.
Kalau itu terjadi Ethan akan melakukan hal nekat demi mempertahankan Vale-nya. Tubuhnya pun menegang, debar jantungnya selalu tak menentu menanti kata-kata keluar dari bibir manis Valerie.
“Kamu pasti tahu, aku terpaksa jadi pacar kamu, ya kan? Aku gak mau kamu malu di kampus, selain itu …Tante Ayu …” Ethan lebih dulu menyela kalimat kekasihnya dia penasaran, apa hubungannya dengan Mama Ayu.
“Mama kenapa sayang?” sambar Ethan tak sabaran.
“Aku janji bantu Tante Ayu, supaya kamu keluar dari gangster dan menjalani hidup sewajarnya aja Ethan. Aku senang banget, kamu mau pulang lagi ke rumah, memulai hubungan baik dengan Uncle Bobby. Tapi melihat Natasha, jujur aja, aku gak tega, kasihan.” Tatapan kosong Valerie, pikirannya menjalar ke mana-mana.
“Terus? Kamu mau kita putus? Engga Vale. Gak akan pernah!” Ethan terpancing emosi lebih dulu, dia nyaris melempar gelas karton di atas meja untuk melampiaskan amarahnya.
Valerie berdiri, menarik kursi, duduk di sisi kekasihnya, menatap dalam manik coklat Ethan. “Aku rasa … aku engga bisa kehilangan kamu Ethan. Aku … aku mulai suka sama kamu lebih dari sekadar sahabat.” Cicit Valerie begitu sulit mengatakan isi hati.
BLUSH
Pipi gadis ini merah, malu, Valerie yang selalu percaya diri kini menundukkan wajahnya.
“Gue gak salah dengar kan? Serius nih? Benar kan, sebelum 60 hari dia pasti jatuh cinta. YES GUE BERHASIL.” Teriak Ethan dalam hati. Dirinya girang bukan main.
“Sayang kenapa? Malu ya? Akhirnya Vale, cinta aku gak bertepuk sebelah tangan. Makasih ya sayang. Aku janji, berubah demi kamu.” Ethan memeluk gadisnya, kesayangannya. Usahanya tidak sia-sia, mungkin memang takdirnya perlu menjalani kehidupan pahit dan sekarang berganti kebahagiaan.
.
.
Hari-hari terus berlalu hingga hubungan Ethan dan Valerie sudah berjalan dua bulan. Pemuda itu sudah satu minggu selalu sibuk tugas kuliah yang menumpuk. Valerie yang setia menemani Ethan di basecamp, tentunya membawa banyak makanan untuk anggota D’Dragons.
Otak cerdas Valerie pun turut serta membantu tugas, memberi saran untuk proposal seminar Ethan. Meskipun berbeda fakultas bukan masalah.
“Wah, makan dulu bro. Vale makasih yah, tahu aja kita lagi lapar, memang paling pengertian.” David mengambil satu kotak makanan yang tersimpan di atas meja.
__ADS_1
“Iya makan aja. Kalian engga balapan lagi kan?” tanya Valerie iseng, karena beberapa hari yang lalu sempat viral video kecelakaan.
David melirik Ethan yang tidak mengerti kode keras, sama halnya dengan Erlangga dan Indra. Semua bungkam lalu sibuk dengan kegiatan masing-masing tidak ada yang membantu David.
“Y-ya engga dong, Vale. Itu bukan kita, Lo lihat kan semua anggota sehat dan baik-baik aja! Udah ya Valerie gue mau makan.” David kabur ke belakang basecamp, dia takut dihujani banyak pertanyaan.
Baru semalam D’Dragon mengalahkan Lil Monster di arena balap dalam kota, tentu saja Ethan yang memimpin dengan catatan merahasiakan semua dari kekasihnya.
BRAK
David menjatuhkan diri sangat keras ke atas dipan kayu, membuat Josh dan rekan lainnya terkejut.
“Eh buset gila lo, jantung gue hampir copot tahu engga? Duduk tuh pakai adab bisa kan? Emang tuh pantat engga sakit? Bengkak baru tahu rasa lo.” Cerewet Josh tiada henti.
‘Kenapa sob?’
“Gue chat aja di grup ya, khawatir ada yang dengar, bisa habis kita.” Balas David sembari membuka kotak ayam goreng di tangannya.
David mulai mengetik pesan panjang lebar, dia takut telinga tajam Valerie mendengarnya, dan berujung pada pertengkaran Pak Ketua dan Bu Ketua. Pasti Valerie mengamuk bila tahu mereka masih menerima tantang geng motor lain.
“Tiga kali apanya?” tanya Valerie mengintimidasi wakil ketua serta anggota yang tertangkap basah ini.
“Itu Vale gue … gue … umm gemana ya bilangnya.” Josh kelimpungan sendiri akibat bibirnya yang tidak bisa menjaga lisan.
“Itu si Josh godain si Betty, maklum lah dia masih jomblo sampai sekarang jadi ya sasarannya kucing tetangga.” Jawab David begitu meyakinkan dan menendang tangan Josh.
“Eh i-iya Vale, santai aja. Eh gue mau makan ah lapar.” Kali ini Josh dan dua rekannya meninggalkan David yang kesulitan menelan makanan di dalam mulut.
“Aku tahu kalian pasti bohong.” Ketus Valerie. Kembali masuk ke dalam.
Gadis ini menemani Ethan yang sibuk menyusun kata pada setiap bab proposal. Valerie mengamati wajah kekasihnya, “Kurang tidur.” Gumam Valerie.
__ADS_1
“Ada apa sayang? Gak kedengaran. Sebentar lagi aku selesai, kamu mau ke mana? Pulang atau nonton film? Ada horor bagus loh, aku udah lihat trailernya. Mau?” ajak Ethan tanpa rasa bersalah padahal dia mengantuk.
Pukul tiga baru pulang ke rumah, tentu mengambil kesempatan ketika Daddy Bobby perjalanan bisnis. Sedangkan pukul enam harus bangun dan bersiap diri karena ada kuliah pagi. Pukul tujuh menjemput kekasihnya.
Di kelas pun Ethan hampir terlelap, namun janjinya kepada Valerie memaksa diri untuk tetap membuka mata. Ethan janji lulus kuliah tepat waktu. Tahun depan dia harus lulus dengan nilai memuaskan.
“Aku mau pulang aja, gak tahu kenapa ya ngantuk bawaannya juga lapar terus. Mungkin aku kurang tidur kebanyakan begadang sama tugas.” Jawab Valerie asal, dia masih berbaik hati memberi Ethan waktu untuk jujur.
“Hah ngantuk? Lapar? Ciri-cirinya sama kaya Nyokap gue yang lagi hamil muda, jangan-jangan …” batin Josh melirik Ethan yang masih santai duduk di depan laptopnya.
“Aku antar ya sayang, sekalian ketemu Uncle Dariel , kangen juga main catur. Hehehe.” Seloroh Ethan sangat polos.
“Gak perlu, aku bawa mobil. Kamu di sini aja, nanti malam aku mau lihat proposal kamu udah sampai mana, bye Ethan, bye Josh.” Valerie sedikit kesel sebab kekasihnya tidak mau jujur. Gadis ini akan sabar menunggu hingga Ethan membuka semua rahasianya.
Selepas Valerie pergi Josh merapatkan diri dengan Ethan. “Sob? Lo udah dp duluan ya? gemana rasanya, pasti enak kan? Sampai kelepasan lo gak main aman, lain kali tanya sama gue.” Percaya dirinya Josh melambung tinggi.
“Maksudnya? Sorry, gue gak paham.” Ethan mengerutkan alis.
“Valerie hamil bukan? Gue dengar dia ngantuk dan lapar terus, itu ciri-ciri hamil muda. Gila lo, tapi gue bangga sama lo. Kebayang gue pasti susah ya sob pertama kali.” Josh masih berceloteh membuka tas dan memberikan sesuatu ke tangan Ethan. “Main aman son, nih.”
“Otak lo sakit. Gue gak pernah menyentuh Valerie selain ciuman aja. Gak mungkin lah gue merusak anak gadis orang. Mending gue nikahin sekarang juga.” Balas Ethan tak kalah sengit.
“Gue lebih baik nikah muda daripada merusak masa depan perempuan yang gue cinta. Sayangnya Valerie gak mau nikah muda, ya gue harus menjaga dia, sampai nanti resmi tercatat secara hukum milik Ethan Adrian Armend.” Ethan menepuk punggung Josh, mengingatkan kawannya agar berhenti menjadi casanova dan menyakiti wanita.
“Bro? nanti malam mau turun gak? Ada perseorangan yang ngajak balapan nih? Motor dan sirkuit dia yang bayar, mau gak?” David tiba-tiba muncul dengan ponsel di tangan, sibuk membalas pesan.
“Siapa?” Ethan penasaran. BIasanya untuk sirkuit, siapa yang kalah dialah yang menanggungnya.
TBC
****
__ADS_1
siapa siapa?