
Natasha pulang ke rumahnya pukul sembilan malam, Papi Daniel membawa putri sulungnya pamit undur diri karena Natasha sedang ujian.
Papi Daniel menangkap kesedihan dari wajah Natasha, pagi ini dia tidak berselera makan, mandi pun dibantu pelayan.
Keceriaan Natasha hilang, sudah tentu alasannya karena Ethan menikah. Papi Daniel bisa apa? Melarang Ethan menikahi keponakannya hanya untuk menunggu Natasha lulus sekolah? Tidak bisa. Ethan pria dewasa yang bisa menentukan pilihannya sendiri.
Lagipula selama ini jasanya sangat berarti, membantu menjaga Natasha dan mencurahkan kasih sayang sebagai kakak.
“Natasha, kamu tidur. Besok pagi Papi ajak kamu jalan-jalan mau ya?” seru Daniel dari bawah tangga.
Duda keren, mapan, tampan dan rupawan itu menghela napas, dia melihat sekeliling rumahnya, sepi. Putra kecilnya sudah tidur lebih dulu. Semenjak sang istri meninggal, Papi Daniel selalu merasa kesepian. Dia menghabiskan waktu menangani ratusan kasus kriminal, tapi menolak perceraian.
Dia tidak tega memisahkan dua insan yang pernah saling mencintai.
“Aku kangen kamu Nadine.” Lirih Papi Daniel memandangi foto pernikahan besar tersemat di dinding.
“Natasha patah hati sayang, putri kita masih belia tapi sudah merasakan sedihnya mencintai pria. Akh seharusnya aku menemukan kamu lebih awal, supaya anak itu lahir lebih cepat tapi … maaf kita terlambat menikah.” Pilu sekali nasib Daniel membesarkan dua buah cintanya tanpa kehadiran sang istri.
Mami Nadine meninggal karena sakit, wanita itu menderita kanker. Dan menyembunyikan selama bertahun-tahun dari suaminya. Setelah melahirkan Nathan, anak keduanya, semakin bertambah buruk.
Parahnya lagi Daniel terlalu sibuk menyelesaikan kasus klien. Entah itu terlibat korupsi, penyelundupan barang, sengketa tanah dan indikasi pembunuhan. Dia lupa memiliki Ratu yang ringkih di istananya.
“Nadine?” panggil Daniel sembari memandangi foto mendiang istri.
Lima tahun ini mencoba jatuh cinta lagi tapi sulit, tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu dari anak-anaknya. Banyak dari mereka hanya mendekatinya, mencintainya tanpa menerima kehadiran Natasha dan Nathan.
Gadis kecil itu tumbuh tanpa kasih sayang penuh, dirinya selalu mencari kepuasan sendiri. Dimanja oleh kakek dan nenek, tidak pernah mendapat penolakan dari keluarga, untuk itu selalu mengamuk jika menerima hal yang tidak sesuai ekspektasinya.
__ADS_1
Daniel memilih mengintip apa yang dilakukan Natasha, benar saja putri kecilnya tengah menangis sembari membanting barang. Kamar princess itu langsung berantakan, beberapa barang pecah.
Prihatin dan sakit melihat putrinya. Daniel masuk kamar, memeluk Natasha, menenangkan gadis itu. Lalu memberinya obat penenang.
“Sabar sayang, kalau dia bukan jodoh kamu, masih banyak laki-laki lain yang lebih dari Ethan. Jangan khawatir nak.” Papi Daniel mencium puncak kepala Natasha setelah tenang.
“Selamat tidur anak cantik papi.” Papi Daniel menyelimuti Natasha, menciumi pipi merah putrinya.
**
Kediaman Bradley
Suara shower di kamar mandi, dan uap air hangat mengembun di kaca serta cermin. Valerie yang kelelahan memanjakan diri, mandi dengan sabun kesukaan. Semula ingin berendam tapi takut ketiduran.
“Hoaam ngantuk … pegel banget sih. Nikah begini ya rasanya capek.” Keluh Valerie menggosok punggung sembari merem melek mempertahankan kesadaran.
Usai membasuh tubuh, langsung menggunakan piyama mickey mouse. Valerie lupa kalau dia memiliki suami. Tengkurap di tengah kasur tanpa menunggu ethan.
Ethan mendesah lesu, karena kakak sepupu Valerie tidak henti bicara. Ada saja yang menjadi topik hangat. Bahkan Theodore semakin jahil karena mengetahui kegelisahan Ethan.
Nasib para pengantin memang selalu tragis di tangan keluarga ini. Turun temurun dilakukan, mulai dari Opa Rayden, Daddy Dariel dan sekarang menular kepada Theodore. Di tambah kehadiran Opa Adam menambah suasana pelik.
Kedua kaki Ethan rasanya dirantai kuat, tidak bisa meninggalkan ruang keluarga yang saat ini berantakan. Penuh bungkus makanan.
“Sabar son.” Daddy Bobby menepuk punggung putra tunggalnya, mengerti apa yang Ethan alami.
“Apa memang begini Dad?” keluh Ethan tidak sabar memesrai istrinya.
__ADS_1
“Yes, dan biasanya terjadi selama satu minggu. Ini sudah tradisi di keluarga mereka. Lihat saja ketika nanti Theo, Denver, Zac, Zoey, Blossom, Asher, Mireya, Mateo, Cedric, Krystal, Zionathan, Rea, Ryan, pasti sama seperti kamu.” Daddy Bobby mengabsen seluruh sepupu Valerie.
Ethan tertawa miris, sudah pilihannya masuk keluarga ini, tidak apalah hanya satu minggu. Setelah itu dia bisa menikmati waktu bersama Vale-nya, istrinya. Ethan tidak sabar pamer kepada David, Josh serta anggota D’Dragons lainnya. Apalagi Eberardo.
Sekarang mereka memiliki kegiatan masing-masing, meneruskan kuliah atau langsung terjun ke perusahaan keluarga. Serta beberapa sibuk mencari kerja.
**
Akhirnya pukul lima pagi Ethan bisa bernapas lega, sebab para sepupu gila istirnya tidur sangat nyenyak.
“Huh bebas juga.” Ethan pun sempat memejamkan mata selama satu jam.
Langkah kaki kecil menaiki tangga, bayang-bayang Ethan sebagai pria normal sangat nakal. Dia mengkhayal jika Valerie saat ini menggunakan baju dinas seorang istri, yang dihadiahkan salah satu sepupunya.
Setidaknya bisa melihat kemolekan Valerie di atas ranjang.
Ethan mengembangkan senyum, dia bahagia bisa memiliki gadis cantik itu. Namun kesialan belum berakhir karena Daddy Dariel bangun lebih dulu. Mengajak menantu pertamanya lari pagi.
“Hey menantu, ayo olahraga. Udara pagi bagus untuk kesehatan paru-paru, tidak perlu ganti baju. Cepat ikut.” Tukas Daddy Dariel.
Pagi ini giliran kaum Ayah yang menggagalkan keinginan Ethan. Daddy Dariel, Uncle Dewa, Uncle Steve Serta Uncle Kevin menyeret paksa Ethan untuk menemani mereka semua.
“VALERIE HELP.” Ethan berteriak dalam hati.
“Ujian pertama dalam rumah tangga.” Gumam Ethan, mengelus dada.
TBC
__ADS_1
***
yang sabar ya Ethan 😔💪