
David merasa keputusan menghampiri istri sahabatnya pilihan yang buruk. Lihat kan? Dia bertemu dengan gadis paling menyebalkan. Gadis yang selalu membuat kepalanya pusing, terlalu banyak permintaan. Tapi penampilan seseorang ini berbeda, jauh lebih manis dan girly.
“Ish bukannya minta maaf. Siapa yang salah, kamu kan?” celotehannya menyadarkan David dari lamunan, memerhatikan betapa uniknya gadis cantik dengan bibir berbisa.
“Kamu yang salah, enak aja cuci tangan tanpa tanggung jawab.” Balas David tidak kalah sengit, sebab gadis kecil yang terlalu banyak bicara jangan dibiarkan terbang ke angkasa, semakin angkuh dan menyebalkan.
Natasha mengibaskan tangan, lalu mendorong David agar tidak menghalangi jalan. “Kenapa masih diam di situ? Aku mau ambil kue.” Mata hazel indah menatap tajam.
“Cantik tapi galak lo.” David mulai menggerutu tidak jelas, meratapi nasib yang bertambah sial.
Natasha mendelik, mata elangnya seakan menerkam David dan mencabik tiada ampun “Terima kasih. Aku memang cantik.” Berlalu begitu saja, bahkan menyempatkan diri memberi hadiah pada punggung kaki mantan wakil ketua D’Dragons.
“Sakit gila.” Pekik David, begitu nyeri dan memerah punggung kakinya. “Tahu gini gue engga lepas sepatu.” Mengusap kakinya.
Kendati dalam hati mengumpat dan mencibir Natasha. Tetapi kedua mata David tidak berpaling, hingga rambut panjang gadis cantik mirip tokoh Aurora tetapi tingkah laku bagai Maleficent menghilang di balik pintu.
Meski diakui saat ini pesona Natasha jauh bertambah, lebih manis, menggemaskan dan pipi kemerahannya menggoda naluri lelaki David.
“Heh, sadar Vid. Jangan jatuh cinta sama cewek modelan begitu. Susah hidup lo, setiap hari marah-marah terus.” Mengelus dada, menyadarkan diri sendiri bahwa di dunia masih banyak wanita yang sangat cantik, dan baik, melebihi sosok Natasha Matthew.
Ethan dan Josh melambaikan tangan, memintanya kembali berkumpul lalu mengabadikan momen langka reuni seluruh anggota dan mantan anggota D’Dragons. “Foto dulu sob.”
**
Satu tahun kemudian
“Ma ma ma ta ta ta gi gi gi aaah ngan.”
“Da da ga ga ga, au ma ma da da di.”
“Maaf sayang, Dara dan Mora baik-baik ya di rumah, Mommy kuliah dulu. Nanti sore Mom pulang kita jalan-jalan, oke ya sayang.” Valerie mencium puncak kedua kepala putrinya, dengan rambut kuncir dua oleh pengasuh.
__ADS_1
Ibu muda satu ini melanjutkan studi program magister, melalui izin suami yang selalu mendukung. Apapun Ethan berikan selama bernilai positif.
Sebagai kepala keluarga, Ethan tidak ingin istrinya terhambat mengepakkan sayap. Lagipula selama ini Vale menunjukan sosok ibu sekaligus istri yang baik.
Sibuk dengan segudang tugas, penelitian serta pekerjaan di hotel tidak membuatnya lupa diri, selalu mencurahkan perhatian untuk Adhara dan Gamora serta Ethan.
Ethan dan Valerie sama-sama melanjutkan studi di dalam negeri. Semula Daddy Bobby dan Daddy Dariel memilah Universitas di US dan UK.
Lelucon luar biasa memang, mana bisa Ethan melakukan LDM (long distance marriage). Bisa-bisa ayah dua orang anak sawan setiap hari, tak kuasa menahan rindu.
Melewati perdebatan alot dan menegangkan, akhirnya Vale dan Ethan mendapat lampu hijau memilih Universitas dalam negeri.
Sepasang suami istri itu kembali seperti pasangan kekasih, di luar rumah tingkah keduanya tak terpisahkan selalu lengket. Ketika di rumah, Vale dan Ethan disibukkan dengan dua batita manja dan menggemaskan.
“Sayang ayo, nanti terlambat. Aku harus ketemu dosen.” Panggil Ethan dari dalam mobil.
“Iya sebentar, kamu curang nggak bantu aku bawa tas laptop.” Bibir Valerie maju beberapa senti, sebab Ethan hanya membawa wadah berisi bekal aneka cemilan serta tas dengan peralatan pompa ASI.
“Ih modus kamu.” Mendorong kepala Ethan sedikit menjauh.
Ethan tertawa puas, karena istrinya masih bersikap malu-malu. “Tadi malam siapa yang ketagihan? Selalu bilang terus sayang, lebih cepat, aku cinta kamu. Ethaaaan aahhh.”
PLAK
Bukannya merasa kesakitan karena lengannya di pukul, tawa Ethan bertambah lepas kendali, berhasil menjadikan pujaan hati tidak berkutik.
Di kampus, Ethan menjaga istrinya dari pandangan para pria mapan dan matang. Lantaran mahasiswa magister serta doktor selalu mencuri pandang. Padahal usia mereka jauh lebih tua, status Valerie pun jelas, seorang istri merangkap ibu.
Ethan yang selalu berada di sisi sang istri, seolah diabaikan oleh para lelaki itu. “Kalau kita terpisah kampus, nggak kebayang setiap masuk kelas harus melewati kumpulan penyamun.”
“Ish, kamu berlebihan.” Vale menyikut pinggang suaminya. Ethan sangat posesif, mengantar Valerie masuk kelas, menjemput istri di depan kelas, bahkan mencari makan siang pun bersama- sama.
__ADS_1
“Cemburu sayang. Gak salah aku menikahi kamu lebih cepat, godaannya semakin banyak, Valerie hanya untuk Ethan, begitupun sebaliknya, Ethan untuk Vale seorang.” Ucap Ethan, entah berapa kali kalimat penegasan kepemilikan itu keluar dari bibir sensual Ethan Adrian. Yang jelas Valerie bosan mendengarnya setiap hari.
“Belajar yang rajin istriku, jangan genit ya sayang. Aku ke kelas dulu.” Ethan mencium kening istrinya tanpa rasa malu, lagipula statusnya jelas. Ditambah memberi pukulan telak kepada lelaki kehausan yang menatap Valerie.
“Hoy…” panggil Ethan tertuju kepada pria tampan dalam ruangan. “Titip bini!” kemudian berlalu dari kelas Valerie.
“Iya bawel lo, pergi ke kelas gih!” David kesal, setiap saat sahabatnya itu selalu menitipkan Valerie. Dirinya menjadi pengasuh menyedihkan. Lagi-lagi kisah cintanya kandas karena memilih pasangan yang salah.
“Muram aja kamu, kenapa Vid?” Valerie melirik David, membenarkan posisi buku terbalik yang dipegang David.
“Pasrah Vale. Sabtu kemarin gagal bawa calon istri ke rumah. Kamu tahu sekarang ada lagi kesulitan? Ayah mau menjodohkan aku sama teman anaknya, gila kan? Segitu engga lakunya.” David mencibir diri sendiri.
“Kamu tahu siapa orangnya? Mungkin dia lebih baik, ketemu aja dulu, saling kenal. Nggak masalah kan? Kalian juga perlu waktu, gak mungkin langsung nikah.” Bijak Valerie, sebab berkaca dari pengalaman saudara kembarnya.
Daddy Dariel gencar mencari calon istri sesuai kriteria Theodore, tapi sayang belum satu pun yang berhasil. Daddy Dariel tetap bijak, menempatkan pengambilan keputusan di tangan Theo.
Sementara David menggeleng, menghela napas panjang. “Langsung tunangan Vale, gila kan? Semua karena kondisi kesehatan Ayah semakin buruk.”
“Sabar ya.” Valerie menepuk punggung David. Mengerti kesulitannya, ingin membantah tetapi kesehatan orangtua menjadi taruhan. Tidak bisa gegabah mengambil keputusan, sebab berimbas jangka panjang.
David pun bukan diam saja, semenjak lulus sarjana. Giat mencari calon istri yang siap menikah, tapi sayang beberapa perempuan justru memanfaatkan kebaikannya.
Hingga keluarga memutuskan menjodohkan David dengan salah satu kenalan, sudah jelas latar belakang, pendidikan, status dan kepribadian.
David dilarang menolak, kedua orangtuanya ingin yang terbaik, menganggap wanita di luar sana hanya menginginkan uang dan uang, tidak tulus menyayangi David.
TBC
***
yang sabar ya Vid.😌
__ADS_1