Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 14 Pertikaian Dua Gadis


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Valerie benar-benar menyetujui permintaan Mama Ayu, memerlukan waktu cukup lama untuk berpikir. Gadis ini juga tidak ingin sahabatnya terperosok ke dalam lubang pergaulan yang salah.


Valerie setia mengekor kemana pun Ethan pergi, termasuk mengikuti lelaki itu terjun ke area drag race. Menjajal mobil baru milik salah satu bengkel yang berhasil mencapai kemenangan, hadiahnya pun lumayan bisa Ethan gunakan sebagai tabungan.


Valerie tidak peduli beberapa kali Ethan mengusirnya, sebab bibir merah delima itu rewel dan bawel, seperti radio rusak yang tidak bisa dikendalikan lagi.


Banyak alasan yang menjadi faktor pendukung Ethan tidak mengizinkan gadisnya ikut, pesaingnya sesama ketua gangster menggoda bahkan terang-terangan ingin merebut Valerie dari sisi Ethan.


“Vale, lo itu keras kepala ya? Pulang sekarang, memang Uncle Dariel engga marah, hah?” Ethan kehabisan kata-kata menghadapi tingkah gila sahabatnya.


“Engga lah, Daddy lagi ke Birmingham ketemu Theo. Kamu sendiri kenapa gak pulang? Kasihan loh Tante Ayu.” Ucap Valerie yang duduk santai di atas tumpukan ban motor bekas.


“Aku laki-laki dan sudah dewasa, beda.” Tegas Ethan tidak suka dibantah. Semua juga demi kebaikan Valerie, angin malam tidak baik untuk kesehatan.


“Dih egois ah. Aku juga perempuan dan sudah dewasa.” Menjulurkan lidah.


“Kalau kamu pulang ya aku juga ikut, kamu sampai pagi ya aku juga ikut. Gak apa kan Ethan kenalan sama semua ketua geng ? Siapa tahu ada yang ganteng.” Valerie nyengir kuda, genit dan mendekati pria sama sekali bukan sifat Valerie, tidak cocok.


“WHAT? Gue lebih tampan dibanding mereka semua, paham? Nih pake! Jangan sampai masuk angin, besok ada jadwal mata kuliah kan?” Ethan melepas jaketnya, melempar ke atas pangkuan Valerie. Tidak tega karena gadisnya kedinginan.


“Makasih kakak.” Suara manja Valerie sengaja sangat manis. Gadis ini sempat melirik Rebecca yang melotot tajam ke arahnya.


Ya baru dua hari yang lalu Valerie tahu, kalau Ethan dan Rebecca tidak memiliki hubungan apapun. Selain teman, atau anggota dan ketua, tidak lebih.


Gadis ini juga cemburu karena Rebecca menjadi grid girl, lihat saja pakaiannya? Rok pendek, mengekspos paha putih, lalu atasan yang super tipis juga ketat. Rasanya ingin melekatkan karung ke badan Rebecca.


“Manis banget sih kamu Vale.” Hati Ethan tersipu malu, berdekatan dengan Valerie sangat tidak baik untuk kesehatan jantung dan pikiran.  


“Jelek dasar. Tunggu di sini jangan ikut ke pinggir sikuit, paham?” tegas Ethan sambil mengacak rambut panjang Valerie yang begitu indah.


“Ok Pak ketua, tapi setelah ini pulang ya, aku gak mau tahu.” Ancam Valerie membuang wajah ke arah lain.

__ADS_1


Setelah balapan berlangsung, grid girl menyingkir ke pinggir lapangan. Rebecca sengaja mendatangi Valerie yang asyik menonton para ketua geng melalui layar besar di depannya.


“Ini pacarnya ketua D’Dragons? Kampungan banget sih seleranya. Kuno tahu gak?” sinis Rebecca cemburu.  Dirinya sudah dua tahun mendampingi Ethan tapi tak pernah dilirik sedikit pun.


Valerie diam saja malas menanggapi omong kosong yang keluar dari bibir Rebecca. Tingkat percaya diri Valerie pun sangat tinggi, buktinya kurang dari satu minggu bisa berteman akrab dengan semua anggota gangster kecuali penyihir muda di depannya ini.


“Eh lo gak punya kuping ya? Dasar perempuan kampungan.” Rebecca menghina Valerie. Dia benar-benar kekurangan informasi, tidak tahu jati diri sesungguhnya Tuan Putri yang dicintai sang Ketua D'Dragons.


“Oh kamu ngobrol sama aku? Bilang apa sih tadi gak kedengaran?" balas Valerie mengedipkan kedua mata, sangat santai menghadapi semua perempuan di dekat Ethan.


“Kurang ajar banget lo, kasihan sih cantik-cantik tapi kupingnya rusak.” Tawa Rebecca diikuti beberapa lelaki yang duduk di sekitar mereka.


Pertikaian dua gadis cantik ini bukan hal pertama, baik di kampus, basecamp atau arena balap. Tentunya selalu dimenangkan oleh Valerie.


“Terima kasih. Kamu orang yang ke … umm… berapa ya, aku lupa sih banyak banget yang bilang cantik.” Telak Valerie menghitung jemari tangannya, kemudian membuat kesal Rebecca, hingga aksi tarik menarik rambut terjadi kesekian kalinya.


“Ih perawatan rambut gue mahal Valerie.” Teriak Rebecca, bahkan tangannya meraih pipi Valerie berniat mencakar dengan kuku panjang.


“Dasar perempuan jadi-jadian, kasar. Kalau gak mau diganggu, pergi dari kehidupan Ethan, jangan dekati calon suami gue, ngerti lo!” tunjuk Rebecca di kening pesaingnya itu.


Mendengar kata ‘calon suami’, seketika Valerie meradang. Dia teramat sangat tidak terima, hati kecilnya tidak merestui Ethan bersama gadis nakal seperti Rebecca.


“Kamu bilang calon suami? Memangnya Ethan mau sama kamu? Dengar ya, mimpi itu jangan terlalu tinggi, nanti kamu jatuh dan sakit deh.” Kata-kata pedas meluncur bebas dari bibir Valerie. Ethan-nya harus mendapat yang terbaik dalam segi apapun termasuk calon istri.


Valerie menepis tangan Rebecca di keningnya, memutar tubuh hendak bergabung bersama rekan gangster lain. Namun di luar dugaan, Rebecca yang tidak bisa menguasai emosi, menarik kuat rambut Valerie hingga terjungkal keras menyentuh aspal.


“Aw sakit, kamu gila ya? Engga waras, hah?” kesal Valerie mencoba bangkit tapi Rebecca sangat cepat mendaratkan pukulan di pipi.


PLAK


“Jangan ganggu Ethan, pergi jauh dari hidupnya, dia itu milik gue. Lo harus tahu Valerie.” Rebecca mengeluarkan seluruh amarah dalam hati.

__ADS_1


Tidak terima pipinya panas akibat tangan Rebecca. Valerie berdiri, mengesampingkan rasa nyeri di bagian bokong. Membalas perbuatan perempuan yang berani memberi perintah untuk menjauhi Ethan.


PLAK


PLAK


“Sampai kapanpun aku gak akan jauh dari Ethan, sebaiknya kamu sadar diri!” pengakuan Valerie ini didengar oleh sahabat kecilnya, yang baru saja selesai memenangkan pertandingan.


“Ada apa nih? Kalian berantem?” Ethan menggeleng kepala. Dia sangat yakin Rebecca mencari masalah lebih dulu.


“Ethan, sayang. Dia jahat banget pukul pipiku. Sakit tahu, nih lihat.” Adu Rebecca menunjukkan kemampuan akting murahan dan menjijikan di mata siapapun.


“Lo engga apa-apa? Pipi lo merah banget.” Sayangnya pertanyaan ini ditujukan kepada gadis cantik bermata hazel. Ethan sangat mengkhawatirkan Vale-nya melebihi apapun.


“Ya sakit sih. Tapi udah lah. Aku capek mau pulang aja.” Jawab Valerie muak melihat Rebecca bergelayut di lengan sahabat kecilnya.


“Ayo kita pulang” Ethan menggenggam tangan Valerie, melepas Rebecca begitu saja.


“Gue peringatkan sekali lagi. Jangan berani sentuh Valerie, berlaku untuk siapapun bukan hanya Rebecca. Kalau dilanggar, tanggung sendiri akibatnya.” Ethan mengeluarkan cakar dan taringnya sebagai ketua yang paling disegani.


Semua anggota manggut-manggut mendengar ancaman itu, tidak ada satupun yang berani menyela dan membela tindakan Rebecca.


Ethan segera merangkul gadisnya, berjalan beriringan meninggalkan area balapan.


TBC


**


dukungannya kaka ditunggu ya 😅🙏


 

__ADS_1


__ADS_2