Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 35 Kecewa Berat


__ADS_3

Malam hari di rumah sakit, pinggir kota. Gadis bermata hazel panik setelah menerima telepon dari salah satu anggota D’Dragon. Menurut berita yang Valerie tangkap, Ethan mengalami kecelakaan motor. Maklum saja dia mendengarkan dalam keadaan setengah mengantuk.


“Di mana Ethan? Kenapa bisa kecelakaan? Ini luar kota kan? Kalian balapan?” tembak Valerie langsung tepat sasaran. Baik David, Josh, Erlangga, Indra semua menunduk tidak bersuara. Kompak menutup mulut karena takut salah menjawab.


“Keterlaluan banget sih, semuanya pembohong.” Teriak Valerie yang kesal tak menerima satu patah kata jawaban.


Tiba-tiba seorang wanita menampar pipi Valerie sangat keras, suaranya pun terdengar nyaring.


PLAK


“Tinggalkan Eberardo, dasar pembawa sial.” Ucap wanita cantik seumuran dengan mantan kekasih Valerie.


“Kurang ajar banget sih, apa masalahnya? Hubungan dengan Eberardo apa? Jaga mulut! Jangan sembarang menuduh.” Valerie membalas, menyerang wanita bernama Estefania yang tidak lain saudari kembar mantan kekasihnya.


“Kalau kamu engga serius, tolong jangan beri harapan. Kamu engga tahu kan seberapa terlukanya kembaran aku? Dia sakit hati Valerie. Kamu mempermainkan perasaannya.” Wanita berambut pirang itu tak henti mengoceh membela saudaranya.


“Maksudnya?” Valerie berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari bibir Estefania. Mata hazel-nya pun melirik Wakil Ketua D’Dragons, bertanya dengan bahasa isyarat. Sungguh tidak dimengerti, Ethan yang terluka kenapa para saudara Eberardo datang menyerang Valerie?


“Iya Valerie, Ethan dan Eberardo balapan. Sorry gue engga tahu kalau mantan lo yang ….” David tak kuasa menyelesaikan kalimatnya, karena mendapat tatapan intimidasi dari Valerie.


“Bukannya kalian janji engga balapan lagi demi solidaritas terhadap Ethan. Terus Ethan gak nolak? Udahlah gak ada yang bisa dipercaya omongannya.” Kesal Valerie. Kemudian membalik badan menghadapi para saudara Eberardo.


“Kalian semua kenapa ada di sini?” tanya Valerie sengit, dia tidak peduli salah satu dari mereka rekan bisnis Daddy Dariel.


“Ok Vale sebaiknya kamu tenang. Pasti ini kesalahpahaman. Eberardo terluka karena dikeroyok Ethan dan teman-temannya.” Kakak tertua Eberardo menjelaskan apa yang terjadi, dan tujuan mereka ke sini menemani saudaranya.


“Pardon me? Kalian pasti salah, aku kenal Ethan dari kecil, rasanya gak mungkin kalau dia memukuli orang lain tanpa alasan yang jelas.” Bibir Valerie masih lancar membela Ethan, bagaimana pun dia tidak mau terbawa emosi termakan penjelasan dari satu sisi.

__ADS_1


Kedua pria itu terluka, memang Eberardo mengalami luka serius. Tulang rusuknya patah, akibat hantaman kepalan tangan David.


Valerie yang merasa bersalah menjenguk mantan kekasihnya, penuh lebam dan perban serta terlelap damai. “Apa kata dokter?” tanya Valerie, suasananya tidak menegangkan seperti tadi. Walaupun saudari kembar Eberardo masih melayangkan tatapan permusuhan.


“Dia perlu mendapat penangan lebih lanjut Vale, Kakak bisa minta bantuan kamu tetap di sini sampai Eberarado siuman?” Kakak kedua Eberardo yakin adiknya lebih cepat pulih jika bersama gadis yang dicintai.


Valerie terdiam, dia tidak bisa memutuskan secara langsung. Ethan, kekasihnya sama-sama memerlukan bantuan. Dia juga ingin mendengar, kenapa Ethan masih menerima tawaran balapan.


“Aku permisi. Mau ke kamarnya Ethan.” Pamit Valerie begitu sopan kepada ketiga saudara mantan kekasihnya.


“Kalau kamu menolak, kasus ini kami limpahkan ke kepolisian. Aku tidak terima saudara kembarku dipukuli habis-habisan. Keterlaluan.” Bibir pedas Estefania kembali meluncurkan kata-kata yang membuat Valerie pusing.


“Tapi belum tentu Ethan yang salah. Aku yakin.” Tegas Valerie, melenggang pergi.


Kakinya melangkah lemas, sakit sekali. Kepercayaan yang sangat besar dia berikan kepada Ethan, tapi sayang disia-siakan begitu saja.


“Mereka berdua sama.” Keluh Valerie berjalan menuju ruang perawatan pacarnya.


Tangis Mama Ayu pun menyayat hati selalu membela putranya, sedangkan Ethan diam tidak berkata apapun. Menurutnya disaat seperti ini apapun yang keluar dari bibi, semua dianggap salah. Daddy Bobby tidak akan percaya begitu saja.


“Dasar anak berandalan. Di mana sih otak kamu? Kurang apa Ethan? Semua fasilitas Daddy kasih, uang, mobil, motor, masa depan kamu juga terjamin. Tapi tingkah laku kamu sama sekali engga berubah. Kamu berani cari masalah sama keluarga Torres, Daddy gak bisa bantu, silakan selesaikan masalah kamu sendiri Ethan Adrian.” Daddy Bobby tidak habis pikir, putranya begitu brutal memukuli anak orang.


“Jadi, aku diusir lagi? Gak takut, udah biasa hidup di jalanan.” Ethan tidak gentar. Dirinya memang tidak bersalah. Eberardo yang memancing emosi lebih dulu.


“Itu mau kamu, tetap tinggal di rumah. Daddy sendiri yang mengawasi kamu Ethan.” Kali ini Daddy Bobby tidak mau termakan rayuan istrinya yang selalu mengatakan bahwa Ethan telah berubah.


“Terserah Daddy, aku capek. Lebih baik Daddy istirahat di rumah.” Ethan jengah selalu di tatap sinis oleh Ayahnya sendiri. Lebih baik tidak siuman secepat ini, mungkin koma dalam jangka waktu lama lebih baik, dibanding terus menerima hukuman dari kesalahan yang tidak diperbuatnya.

__ADS_1


Tatapan mata Ethan mencari keberadaan Valerie, dia yakin kekasihnya pasti marah karena melanggar janji.


“Kamu cari Valerie ya?” Mama Ayu menghapus air mata, menyadari saat ini Ethan sangat membutuhkan semangat dari pujaan hatinya.


“Dia menjenguk Tuan Muda Torres, lukanya lebih parah dari kamu sayang. Mungkin Vale me …” Mama Ayu terdiam karena Ethan mengangkat satu tangan, tidak sanggup mendengar semuanya.


Calon istrinya, kekasih hatinya, Vale-nya lebih memilih bersama Eberardo dibanding pacarnya sendiri. “Apa Valerie masih memiliki rasa cinta untuk pria itu?” nyeri yang dirasakan dada Ethan lebih sakit daripada luka akibat pukulan tinju.


KLEK


Pintu terbuka, wajah Ethan sumringah berharap gadisnya masuk dan menemaninya malam ini. Tapi sosok lain berlari sembari menangis kemudian memeluk Ethan tanpa tahu malu.


“Ethan, kamu kenapa? Ya ampun. Kenapa engga kasih tahu aku?” isak tangis Rebecca, matanya bengkak, hidung dan pipinya merah.


“Lepas, Becca. Gue sesak napas. Lo mau paru-paru gue kena masalah juga?” imbuh Ethan tidak bisa melepaskan diri dari rangkulan Rebecca.


“Kamu kenapa sih Ethan? Jangan ketus sama aku. Sekarang lihat, di mana pacar kamu? Engga ada kan, jelas aja dia engga mau berbagi susah sama kamu.” Rebecca sengaja duduk di samping Mama Ayu. Menarik simpati wanita itu.


“Tante, aku Rebecca temannya Ethan. Bolehkan aku main ke rumah, ya selama Ethan sakit pasti engga masuk kuliah. Aku bisa bantu Ethan belajar selama di rumah.” Rebecca mengandalkan otaknya yang pas-pasan untuk memanfaatkan keadaan.


“Ck, mau kuliah atau engga, gue bisa belajar sendiri, lo gak perlu repot. Sekarang keluar deh, gue nunggu Valerie.” Usir Ethan sangat kesal dengan sikap teman sekelasnya ini.


“Valerie? Dia di kamar VVIP, aku liat tadi duduk di samping laki-laki lain.” Kata-kata Rebecca ini bagai kompor yang siap mengeluarkan api, membakar Ethan.


TBC


***

__ADS_1


kasihan Ethan atau Eberardo?


 


__ADS_2