
Ethan yang terkenal sedingin es, acuh dan tak pernah dekat dengan perempuan, selalu menolak siapapun yang memujanya, mengejar cinta seorang ketua gangster. Belum ada yang mampu meluluhkan kerasnya dinding yang telah dibangun.
Hanya ada satu nama yang mampu meluluhlantakkan hati seorang Ethan Adrian. Gadis yang disukainya sejak kecil, bahkan sebelum memasuki taman kanak-kanak. Tumbuh besar selama belasan tahun, saling berbagi tempat tidur, makanan. Membuatnya hapal kebiasaan Valerie.
Tapi tidak dengan pujaan hatinya, ketika ulang tahun ke 15, Valerie melupakan tanggal lahir Ethan. Sedih sekali rasanya.
Dan
Sentuhan Valerie kali ini mampu membawa Ethan terbang ke masa lalu, kenangan indah keduanya. Sebelum kehadiran Eberardo merusak segalanya.
“Ethan … kamu kenapa? Melamun? Sakit kah? Aku panggil perawat atau dokter ya.” Oh Tuhan merdunya perhatian Valerie. Bidadari ini benar-benar menghipnotis.
“Valerie? Kamu kenapa?” tanya Ethan kebingungan, sekaligus menutupi getar-getar yang semaki tak menentu arah.
“Kamu sakit beneran ya. Apa Mario pukul kepala kamu? Engga gegar otak kan?” Valeri berdiri, semakin mendekati Ethan. Menyentuh kepala dengan rambut lebat dan berantakan itu. Memeriksa luka di kepala, tidak ada lebam sama sekali atau benjol. Secara kasat mata aman.
“Apa perlu MRI ya? ah masa sih? Nanti aku koordinasi sama Kak Zac atau Uncle Dewa.” Tutur Valerie, mengerucutkan bibir tipis semerah delima itu.
DEG
DEG
Bagai tersengat aliran listrik ratusan volt, tubuh Ethan menegang, menelan ludah beberapa kali, menarik napas dalam, menghembuskan pelan, tetap saja debar di dada tidak hilang.
“Terima kasih perhatiannya sayang.” Lagi dan lagi kalimat itu terucap dalam hati. Lidah Ethan begitu kelu menyampaikan isi hatinya. Dia harus tahu bagaimana perasaan Valerie yang sebenarnya.
“Ethan? Halo … ih kamu diam aja, kenapa sih? Kuping kamu masih bagus kan, masa perlu ke THT juga?” Valerie yang polos tapi bar-bar berpikir, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu, dua bola mata hazel-nya melirik ke atas, kanan dan kiri.
“Kuping sama otak gue sehat, engga perlu berlebihan Vale … tapi jantung gue bermasalah Valerie, dan itu semua karena lo.” Tukas Ethan dalam hati, masih setia memandangi betapa manis gadisnya ini.
“Oh … bagus deh. Aku pulang ya, maaf Ethan. Mommy telepon terus dari tadi, aku takut kalau Daddy sampai rumah lebih dulu. Cepat sehat Ethan yang manis tapi nyebelin.” Pamit Valerie, memberikan cubitan di pipi Ethan.
Kedekatan ini sangat dirindukan, terakhir kali mereka dalam suasana hangat sekitar empat atau lima tahun yang lalu.
“Vale … besok datang lagi? Please jawab iya, gue senang banget. Semoga gue masih ada kesempatan sebelum lo resmi jadi istri pria itu.” Ethan harap-harap cemas, karena hubungannya tidak selancar jalan tol, lebih rumit macam benang kusut.
__ADS_1
“Umm … gemana besok ya, kalau kelas ku selesai cepat ya ke sini. Salam ya untuk Tante Ayu dan Uncle Bobby. Bye Ethan.” Valerie membuka pintu, melangkah keluar.
Walaupun hanya sebentar, Ethan bahagia masih mendapat perhatian dari bidadarinya itu. Melupakan sejenak masalah dengan kedua orangtua.
.
.
Malam yang dingin, di luar hujan lebat. Ethan mengamati cipratan air dari dalam kamar. Biasanya pukul 20.00 menghabiskan canda tawa atau melatih bela dirinya di basecamp.
“Bosan banget, kapan sih boleh pulang.” Kesal Ethan ditemani suara televisi yang menyiarkan pertandingan sepak bola.
“Pulang? Gue kan gak punya rumah. Hahaha. “ Ethan tidak tinggal diam, dia menghubungi teman-temannya di basecamp untuk mencari rumah kontrakan yang biayanya cukup terjangkau, dekat juga ke kamus.
Daddy Bobby mengambil semua fasilitas, termasuk apartemen Ethan, tempatnya pulang di kala jenuh menjalani kehidupan sebagai ketua gangster.
Dalam jajaran nama kontak, Ethan melihat foto cantik Valerie, jemarinya begitu gatal untuk mengganggu gadisnya.
Ethan yakin Valerie sedang mengerjakan tugas rumah atau mungkin bersama Eberardo.
“Argh … kenapa harus kalah lagi sih? Gue bukan Ethan yang dulu! Jangan diam aja Ethan, tunjukkan siapa yaang berhak memiliki Valerie.” Ucap Ethan, tidak menyerah dengan mudah.
“Vale makasih atas bantuannya. Gue berhutang banyak.”
Lima menit
Sepuluh menit
Tak kunjung mendapat balasan, Ethan hanya tersenyum getir, harapan palsu. Lagi-lagi menyakiti diri sendiri, mengoyak luka lama. “Eh jangan lemah lah, perjuangan bro. Malu sama status, ketua gangster tapi kalah saingan.” Keluh Ethan, mendengus sebal.
Tiba-tiba ponselnya bergetar cukup lama, itu bukan balasan pesan. Melainkan Valerie menghubunginya, video call.
“Hah?” kaget Ethan, merasa penampilannya saat ini kacau, jauh dari kata rapi apalagi tampan. Seharian ini hanya diam di atas ranjang, tidak mandi, perawat pria menyeka badannya menggunakan air hangat.
Senang sekaligus gugup, sudah lama sekali tidak pernah berkomunikasi melalui telepon atau panggilan video. Dulu, kalau rindu datang, Ethan biasa bertamu ke rumah Valerie.
__ADS_1
Setelah merapikan sedikit rambut yang berantakan, Ethan meneguk setengah botol air, membasahi kerongkongannya, lalu menerima video call dari Valerie.
“Hi Ethan, gemana kamu mendingan? Tante Ayu ada di sana kan? Apa aku ganggu?”
Lembutnya suara Valerie, perhatian yang sangat Ethan rindukan. Gadis ini selalu berhasil membuat Ethan berdebar.
“Ya lumayan. Mama di rumah, gue sendiri. Lagi apa? Kenapa belum tidur?” tanya Ethan menatap Valerie membenarkan posisi kacamatanya.
“Oh … Memangnya aku bayi yang harus tidur jam delapan? Kamu kenapa belom tidur? Kepalanya pusing?”
Tanya Valerie, meneguk teh manis hangat yang tersisa sedikit.
“Gue belom tidur karena ingat lo. Awas ngompol, minum teh manis sebelum tidur. Jangan lupa gosok gigi.”
Dari dulu Valerie memang sangat manis, melebihi apapun. Kacamata yang dia pakai masih tepat menempel padahal fungsinya tidak penting. Alasan klasik Daddy Dariel, menutupi kecantikan putrinya.
“Enak aja! Aku engga pernah ngompol ya Ethan. Kamu tuh yang ngompol, jahat banget sih, nyebelin ah. Kamu tidur gih, lagi sakit juga. Aku mau gosok gigi aja.”
Valerie meradang, teman kecilnya memang paling ahli mengingat masa lalu. Iya, dulu Valerie yang tidak bisa menahan buang air kecil, terpaksa membasahi kasur saudara kembarnya, tepat sekali Ethan sedang menginap. Jadilah bahan bully selama beberapa waktu.
“Manis banget Vale kalau marah. Sorry ya …” Tawa Ethan menyimpan ponselnya di sisi ranjang.
Mencoba memejamkan mata, berharap besok pagi segera datang. Ethan tidak tahan tidur di rumah sakit.
KLEK
Suara pintu terbuka, wanita cantik masuk. Tersenyum hangat kepada putranya yang tengah berbaring. “Sayang, maaf Mama terlambat. Kamu udah minum obat?” Mama Ayu datang ke rumah sakit menemani Ethan.
“Mama?” Ethan sempat melirik ke pintu, hati kecilnya sangat berharap Daddy Bobby datang.
“Kamu cari Daddy ya? Maaf sayang, malam ini Mama yang jaga kamu ya.” Mama Ayu menyentuh kepala anaknya, menatap penuh sayang, mencium dahi Ethan. “Tidur ya sayang, bagus untuk pemulihan.”
TBC
__ADS_1
**
Minta doanya untuk Ethan supaya cepat sembuh 😇