
Rasanya waktu 30 menit cukup untuk mengisi energi. Ya begitulah Valerie Bradley, mengetahui adik sepupunya sudah mendengkur cukup keras. Gadis bermata hazel ini membuka mata lebar, mendengar ketukan halus di jendela kamar, diiringi bisik-bisik.
Valerie yakin itu suara Ethan bukan mahkluk halus. Gegas membuka jendela, benar kan sesuai dugaan. Pemuda yang memakai jaket tebal masih setia menunggu Vale-nya, kencan malam yang direncanakan harus berhasil.
“Kamu?” tunjuk Valerie cukup terkejut. Tapi kalau boleh jujur, hatinya berbunga-bunga.
“Ayo sayang keluar. Aku bantu.” Ethan tidak menunggu persetujuan kekasihnya, sekali angkat, tubuh Valerie kini berada dalam dekapan.
“Muka bantal banget sih kamu.” Ucap Ethan mengusak rambut singa Vale-nya.
“Ish apaan sih? Kamu kenapa engga tidur? Besok kan harus ketemu kepala desa. Nanti ngantuk gemana?” bibir merah muda itu bergerak-gerak mengudang Ethan untuk mampir, tapi urung, karena lebih senang memandangi Valerie yang mengoceh.
“Ke sana yuk, tapi pasirnya udah gak sehangat tadi. Aku punya teh jahe untuk kamu, mau kan?” Ethan membuka termos air panas yang sengaja dia siapkan dari rumah.
“Kamu suka warna pink, gambarnya kucing, lucu banget Ethan.” Tawa Valerie, tidak percaya sosok ketua gangster ini bisa memiliki benda yang sangat menggemaskan.
“Sssst berisik sayang, ini punya Mama. Aku pinjam sebentar.” Jawab Ethan benar adanya.
“Kamu tahu gak sih aku kangen banget. Maaf ya hari ini diluar dugaan. Dia maksa satu kamar sama kamu sayang, ya aku bisa apa? Kalau engga, dia mau tidur di bungalow laki-laki, kan gila adik sepupu kamu.” Keluh Ethan berbaring di atas pasir dan menjadikan paha kekasihnya bantal.
“Eh eh Ethan kamu mau apa?” panik Valerie, tentu saja gugup, karena terlalu dekat.
“Manja sama pacar sayang, memang gak boleh ya? Terima kasih Valerie, karena kamu pelan-pelan hubungan aku dan Daddy mulai baik, ya meskipun masih terhalang jarak.” Ucap Ethan, sambil memandangi deburan ombak.
“Sama-sama, aku senang kalau bisa bantu. Daddy Bobby sebenarnya baik kok Ethan, cuma mau kamu menjalani hidup lurus. Menurut aku wajar sih mungkin caranya sedikit keras dan kasar aja.” Tanggapan Valerie mengundang fokus Ethan untuk melirik kekasihnya.
“Vale? Kita jangan sampai putus ya. Aku gak mau kehilangan kamu lagi. Hati aku sakit karena kamu memilih laki-laki itu. Apa dia masih ganggu kamu?” tanya Ethan, sebab dia rajin mengawasi akun sosial media Valerie. Banyak like yang diberikan Eberardo, serta komentar memuja kepada Vale-nya.
“Engga ada kok, aman.” Mana mungkin Valerie memberitahu Ethan, kalau mantan kekasihnya sering kali menelepon, bisa dibilang meneror.
“Aku percaya sama kamu sayang.” Ethan duduk dan mencium pipi mulus kekasih hati.
“Ethan jangan! Gak enak sama yang lain! Ini juga area terbuka.” Tolak Valerie tertawa hambar, sembari mendorong dada bidang pacarnya dengan tenaga dalam, sampai tubuh Ethan terjatuh ke pasir.
“Padahal baru bangun tidur, kuat banget tenaganya.” Keluh Ethan mengusap punggung yang sakit.
__ADS_1
“Aduh, maaf Ethan. Aku sengaja.” Valerie bukannya membantu malah menjulurkan lidah dan tertawa puas.
“Kamu ya sayang, nakal banget. Kamu makan apa sih? Aku heran, ada perempuan kuat kaya kamu gitu.” Tukas Ethan mencoba meraih pipi Valerie, tapi sayang kekasihnya ini lebih dulu berdiri. Lagi-lagi Ethan terjatuh, hidung mancung dan bibirnya mencium pasir.
Hahaha
Valerie semakin senang melihat wajah pacarnya dipenuhi pasir.
“Gemana sih, mau suasana romantis malah jadi panggung lawak, semoga anggota geng gak ada yang lihat.” Ethan membatin.
Namun sangat disayangkan. David dan Josh serta dua anggota lain terbahak-bahak karena ketua bucin mereka.
“Berhenti ketawa kalian! Gak ada yang lucu.” Tegas Ethan, jatuh sudah harga dirinya.
“Sob, belajar dari gue dong. Dijamin engga bakal gagal.” Josh melangkah dengan angkuh, menunjukkan diri paling berpengalaman. Tapi dia menerima hukuman, satu kakinya tersangkut batang pohon.
Gedebug
“Sakit, siapa yang simpan itu pohon sih. Malu banget gue.” Gerutu Josh, gagal sudah menarik simpati Valerie.
Hahaha
“Patah hati lah, gue trauma pendekatan sama anak baru. Takut ditikung lagi.” Balas Josh, seketika mendapat tatapan tajam dari mata coklat Ethan.
“Eits ampun sob. Gue kan jujur memang suka Valerie, tapi gak ada niat jadi pebinor, serius.” Klarifikasi Josh menunjukkan dua jari tanda perdamaian.
“Jangan berani sentuh Valerie gue, ingat itu. Valerie untuk Ethan, dan begitu sebaliknya, paham ya!” posesifnya seorang Ethan membuat teman-teman lainnya menggelengkan kepala.
“Ketua bucin lebih seram daripada yang galak.” Gumam David.
Ethan mendengus sebal sebab malam indahnya harus gagal dengan bergabungnya para anggota D’Dragons.
.
.
__ADS_1
Pagi menyapa semua orang berkumpul di salah satu tempat makan untuk sarapan, setelah selesai mereka setia mendengar penuturan Ethan, David dan Valerie. Terbagi dua tim yang akan turut menyalurkan bantuan di satu desa.
Akomodasi yang cukup sulit mengharuskan mereka menggunakan perahu kayu, waktu yang dibutuhkan pun lumayan lama, sekitar 30 menit.
Di atas perahu, Ethan tak henti menatap kekasihnya, anak rambut Valerie terbawa angin ke sana kemari.
"Aku bantu ya sayang.” Ethan melepas ikat rambut Valerie dan merapikannya dengan lembut agar tidak kesakitan. Jaraknya sangat dekat.
Bibir Ethan tepat di depan kening kekasihnya, modus yang terselubung bantuan. Sengaja mencium dahi.
Sontak saja Valerie mendongak, Ethan pun sengaja menurunkan posisi kepalanya. Lagi dan lagi bibir keduanya menyatu disinari mentari pagi yang menyilaukan mata.
Hanya menempel tidak lebih.
“Maaf ya sayang, aku sengaja. Hukuman semalam yang tertunda.” Ucap Ethan tertawa dalam hati. "Wangi banget rambutnya.”
“Ethan kamu jahil banget sih, memang gak malu?” ketus Valerie mencubit pinggang kekasihnya.
Kebersamaan pasangan yang sedang kasmaran ini diperhatikan oleh Rebecca, meremas jemari tanda kesal dan marah. “Gue cemburu, tahu gak sih. Kalian keterlaluan.” Menangis dalam hati.
Tiba di desa pun, tangan Valerie selalu dalam genggaman Ethan. Ke mana Ethan bergerak pasti Vale-nya ikut.
Apalagi melewati jalan licin dan bebatuan, Ethan pasti membantu kekasihnya, dan Valerie juga tidak cemburu ketika Ethan memapah anggota perempuan lain, termasuk Rebecca.
“Makasih ya Ethan sayang.” Celetuk Rebecca melirik Valerie yang berdiri santai.
“Tugas gue menjaga dan melindungi kalian semua.” Jawab Ethan merotasi tubuhnya dan melangkah menuju Valerie.
“Kamu gak masalah kan sayang? Aku pegang tangan perempuan lain, gak ada maksud, cuma bantu aja.” Alasan Ethan masuk akal.
“Tenang aja sayang, justru itu laki-laki dibutuhkan. Aku tahu kamu, kenal kamu belasan tahun. Kamu kan cintanya sama aku.” Kata Valerie, kemudian tanpa di sangka tangannya merangkul bahu Ethan dan berjalan bersama, meninggalkan Rebecca yang melotot tajam.
“Rasain, memangnya enak aku balas. Cari lawan kok salah sih, dasar perempuan genit.” Cibir Valerie dalam hati.
TBC
__ADS_1
***
wah pertama kali dipanggil sayang, senang dong Ethan 😅