Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 49 Berpikir Positif


__ADS_3

Masih di dalam mall, tepatnya apotek. Ethan menemani istrinya membeli suplemen makanan. Valerie sangat selektif dalam hal itu, membaca satu per satu komposisi yang tertera pada kemasan, bibirnya sangat bawel melayangkan sejumlah pertanyaan kepada pramuniaga.


Ethan tepat berada di belakang istrinya, mata coklat melirik benda-benda yang berjejer rapi hingga menemukan rak khusus. Matanya menyipit semakin kecil, tertarik pada bungkusan itu. Ethan pun membaca keterangan lebih lanjut.


Di usia 21 tahun barulah dia menyentuh benda itu, biasanya melihat dalam tas Josh atau iklan. Sembari menunggu Valerie selesai memilih, Ethan mencari tahu melalui internet sejumlah review. Kepalanya manggut-manggut tanda mengerti. Lalu mengambil satu kotak sebagai percobaan.


“Kayanya ini cocok, pas. Katanya tipis engga mengganjal.” Batin Ethan yakin membelinya.


Dia memberanikan diri bertanya pada bagian apoteker, mengenai perbedaan penggunaan alat kontrasepsi. Petugas pun sabar menjelaskan kepada Ethan. Jelas saja beberapa pilihan langsung Ethan tolak.


“Gue pikir tinggal pasang dan selesai, ternyata masih harus alergi atau semacamnya. Jadi yang aman memang ini.” Ethan menepuk benda kotak itu di atas meja kasir.


“Engga akan merugikan Vale, ya paling dompet aja harus tebal, semakin cari cuan.” Ethan benar-benar memposisikan diri sebagai suami yang baik.


Bibirnya tersenyum melihat pujaan hati yang semakin mendekat, berhasil mendapatkan vitamin yang dimaksud.


Valerie terbelalak melihat barang yang dibeli suaminya, karena Ethan sudah mempersiapkan hingga sejauh itu. “Ethan yang benar aja udah persiapan padahal aku belum.” Kata Valerie menelan ludah secara paksa.


Pasangan muda ini malu-malu di depan umum, pipi Valerie merah merona karena Ethan.


**


Dalam perjalanan pulang, Valerie sempat terlelap, terpaksa Ethan menghentikan laju motornya di pinggir jalan dan singgah di warung kopi. Mereka menikmati semangkuk sekoteng untuk menghangatkan tubuh dan mengusir rasa kantuk.


Usai menghabiskan satu mangkuk makanan tradisional. Motor sport Ethan kembali membawa tuannya ke tujuan akhir.


Motor yang kendarai Ethan memasuki basemen khusus parkir motor di gedung apartemen.


“Vale, kamu engga tidur kan? Heran aku. Memangnya engga takut jatuh kalau tidur di motor?” Ethan melepas helm yang digunakan istrinya. Merapikan rambut Valerie dan kedua kelopak mata yang nyaris tertutup itu.

__ADS_1


“Ya ngantuk Ethan, gemana? Aku mau tidur.” Kata Valerie memutar tubuh seperti orang mengigau.


Ethan yang khawatir akhirnya menggendong wanita itu ala bridal, memasuki unit apartemen mereka. Valerie semakin nyenyak, menghirup harum aroma parfum suaminya, rasanya candu. Selalu ketagihan, tapi hanya ingin mencium aroma dari tubuh Ethan, bukan dari botol secara langsung.


Tidur Valerie tidak terusik saat Ethan mengganti pakaiannya.


Satu-satunya yang tidak nyaman hanya Ethan, karena harus menahan hasratnya. Beberapa kali menelan ludah, ketika kulit bersentuhan dengan sang istri.


“Menyiksa banget rasanya.” Lirih Ethan dalam hati, bagian bawah tubuh melakukan aksi protes. Ya akhirnya membawa Ethan ke dalam kamar mandi, untuk menuntaskan apa yang seharusnya dilakukan bersama Valerie.


Suami muda ini mengerang usai mendapat pelepasannya. Terjadi untuk kesekian kali. Ethan mengguyur tubuh dengan air dingin di malam hari.


“Sabar bro, minggu depan engga di dalam kamar mandi lagi. Jangan bikin panas dingin terus dong.” Ethan mengomel, keadaan yang sangat memalukan baginya.


Selesai mandi, Ethan kembali mendapat kejutan. Kali ini bukan Valerie melainkan kiriman pesan chat dari Nathan.


Sudah lama sekali Ethan tidak pernah mendapat pesan seperti itu, mungkin terakhir kali, satu setengah tahun yang lalu. Sekarang dirinya sangat dibutuhkan oleh Natasha.


Refleks jemari Ethan segera membalas.


“Tunggu. Kakak datang.”


Ethan bersiap dan keluar apartemen tanpa memberitahu istrinya. Tidak mau mengusik tidur Valerie yang sangat p


Menggunakan motor sport, tengah malam Ethan melajut dengan kecepatan tinggi menuju rumah Natasha. Dia takut terjadi sesuatu dengan adik sepupu istrinya itu.


**


Apartemen Ethan

__ADS_1


Valerie terbangun dalam posisi tidur tengkurap memeluk gajah kesayangannya. Wanita ini segera ke ruang tandas untuk membersihkan diri. Setiap pagi sudah biasa bangun tanpa kehadiran Ethan, Vale yakin suaminya di dapur.


Cukup 30 menit bersiap, Valerie keluar kamar, merasakan sesuatu yang berbeda pagi ini. “Tumben engga harum. Apa masaknya selesai? Yah jangan-jangan Ethan udah ke kantor.” Gumam Valerie menuju dapur.


Dia tersentak karena kondisi ruangan masih cukup berantakan dengan bahan belanjaan mereka, satupun tidak ada yang berpindah. Masih diam di tempat. Saat ini juga Valerie yakin suaminya tidak ada di rumah.


“Ethan ke mana? Kenapa engga kasih kabar kalau mau keluar?” kesalnya, langsung merapikan sedikit perabotan kotor, memasukan ke dalam mesin lalu memanggang roti. Sarapan sendirian.


“Mungkin ke basecamp, nanti sekalian lewat aku beli sarapan dulu aja. Kangen juga sama basecamp.” Menulis agenda paginya dalam ponsel, disertai suara pengingat.


Valerie berangkat kuliah menggunakan mobil pemberian Ethan, dia singgah di salah satu pedagang bubur ayam. Membeli beberapa, tidak hanya untuk Ethan. Kebetulan jarak basecamp kurang dari satu kilometer.


Wanita cantik ini memarkirkan mobilnya tepat di depan minimarket, karena Vale melihat banyaknya kendaraan di sana, pasti motor suaminya pun ada.


Setelah lima menit berjalan, Valerie sadar motor kebanggan Ethan tidak ada di area parkir basecamp. Masih positif thinking, dia masuk menyapa seluruh anggota gangster yang sedang belajar bahkan mengerjakan tugas bersama.


Vale menyimpan bubur ayam di atas meja besar, meminta izin kepada Indra untuk masuk ruangan rider. Lagi-lagi kosong, Ethan tidak ada.


“Ndra? Semalam Ethan engga ke sini? Ke mana ya?” Valerie kebingungan. Tidak biasanya Ethan menghilang tanpa kabar.


‘Engga Kak. Ketua ke sini selalu siang atau sore. Kita juga gak pernah balapan lagi jadi ketua enggan pernah datang malam.’


“Oh ok, buburnya tolong dibagi ke anak-anak lain ya. Aku ke kampus dulu.” Valerie masih tetap berpikir jernih tidak menaruh kecurigaan apapun. Dia yakin suaminya pergi karena masalah pekerjaan.


TBC


***


duh Ethan 😔

__ADS_1


__ADS_2