
Ethan mengikuti calon ayah mertua ke ruang kerja, di sana dia mendapat surat perjanjian. Iya berisikan segala syarat dan ketentuan. Awalnya Ethan keberatan tapi setelah di pikir ulang akhirnya setuju.
“Ingat ya Ethan, jangan menghamili Valerie sebelum dia lulus kuliah, aku tidak ingin anakku kehilangan fokus belajarnya. Kau akan paham ketika suatu saat nanti memiliki anak juga.” Daddy Dariel serius, dia hanya bisa memberi perjanjian ini untuk mengikat Ethan tanpa sepengetahuan putrinya.
“Satu lagi, berikan yang terbaik untuk putriku. Awas saja kalau sampai melihatnya menangis atau sakit hati, ku pisahkan kalian selamanya.” Pandangan Daddy Dariel terhadap Ethan tidak main-main sangat tajam dan menusuk.
“Siap Uncle. Jadi apa aku bisa menikahi Valerie besok?” keinginan Ethan ini di luar nalar.
Calon mertua pikir satu atau dua minggu lagi tapi Ethan tak bisa menunggu sebab rivalnya masih terus mengincar Valerie.
**
Keesokan harinya di kediaman Bradley pagi-pagi sudah ramai oleh petugas, acara yang digelar cukup sederhana. Memanfaatkan taman rumah yang sangat luas.
Sementara Valerie karena pulang malam langsung tidur, sama sekali tidak tahu kalau hari ini Ethan menikahinya.
“Kenapa kamu gak kasih tahu Vale?” Mommy Fredella terus memukuli suaminya yang mengambil keputusan tanpa diskusi lebih dulu.
“Maaf sayang semalam aku lupa dan Vale langsung masuk kamar. Jadi sekarang gemana?” Daddy Dariel pun kebingungan menjelaskan kepada putrinya. Satu jam lagi keluarga Armend datang, gadis itu masih terlelap tidur dan bermimpi lulus kuliah lalu menikahi pangeran tampan.
Belum sempat Daddy Dariel membangunkan Valerie, asisten pribadi masuk ke kamar menyampaikan pekerjaan serta meminta tanda tangan Bosnya.
Sepuluh menit berlalu, Valerie bangun dan meregangkan otot tubuh. Dia memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang. Iya rasanya mendadak, padahal semalam masih baik-baik saja.
“Apa aku kena penyakit jantung?” gumamnya meraih satu gelas air di atas nakas. “Aku harus buat janji dengan Uncle Dewa, aku masih muda mana mungkin sakit?” Valerie ketakutan, kemudian dia turun ke bawah untuk menikmati mentari pagi.
Betapa terkejutnya Valerie menatap pelayan hilir mudik, banyak bunga indah terpajang serta makanan yang mengundang selera.
“Wah acara apa sih? Ulang tahun pernikahan Daddy dan Mommy? Atau Theo tunangan? Aku rasa hari ini gak ada yang spesial.” Kaki Valerie semakin melangkah turun mengambil beragam makanan yang tersedia, dengan percaya diri memasukan satu per satu makanan ke mulut.
TIN
Tiba-tiba dia mendengar suara klakson mobil, Valerie yang masih menggunakan piyama berwarna merah muda penasaran. Bahkan membawa piringnya ke depan, melihat tamu siapa yang datang.
“Waw Ethan.” Celetuknya karena sahabat sekaligus calon suaminya terlihat tampan memakai setelan jas.
__ADS_1
Ethan yang tidak sabaran datang lebih awal bersama kedua orangtuanya.
Merasa telah kenal, Valerie menghampiri calon suami, dia juga menyuapi Ethan potongan kue. Tidak lupa menyapa calon mertuanya.
“Vale?” tatap Ethan tidak percaya sebab gadisnya itu belum bersiap sama sekali.
“Ya?” sahut Valerie mengunyah makanan.
“Kenapa belum ganti baju sayang? Apa kamu tegang menikah hari ini?” tanya Mama Ayu. Sontak saja Valerie tersedak makanannya, dia menajamkan bola mata dan telinga. Kemudian menggeleng kepala.
“Siapa maksud Tante?” kedua matanya berkedip-kedip.
Suara melengking dari dalam rumah pun mengejutkannya.
“VALE? Kamu di mana, ayo dandan sebentar lagi Ethan datang.” Teriak Mom Fredella, sangat nyaring sebab Valerie menghilang dari kamar.
Bola mata hazel melotot tidak percaya, ditambah jajaran mobil mulai memasuki pelataran rumah. Di mana para sepupunya sangat rapi dan cantik.
Masih dalam keterkejutan, Valerie bergeming. Mungkin ini namanya mimpi. Tapi wajah semua orang tampak jelas tidak buram sama sekali.
Di kamar, kakak sepupu membantu menjelaskan secara rinci. Valerie tidak mengerti kenapa pernikahannya harus maju dan tidak sesuai kesepakatan. Jujur saja dia tidak siap.
Hatinya pun luluh usai Mama Ayu masuk kamar mengatakan alasan Ethan mempercepat jadwal pernikahan. Tentu saja Valerie tidak marah, dia hanya terkejut.
“Oke baik. Nanti menikah, sekarang juga menikah.” Gumamnya menerima sentuhan alat-alat make up.
**
Setelah selesai bersiap, Valerie bertambah gugup. Mencintai dan menikahi sahabatnya sendiri adalah hal gila, tapi mau bagaimana lagi hatinya memang untuk Ethan, dia pun ingin memiliki Ethan seutuhnya.
Valerie turun ke bawah, menemui Ethan yang sudah siap menyambutnya. Valerie berjalan gugup ditemani para sepupu, berulang kali menarik napas dan menetralkan irama jantung yang tak tentu arah.
“Pengantin aku cantik banget.” Sambut Ethan.
Pasangan muda itu meresmikan hubungan mereka, terikat secara sah dimata hukum. Hari ini, menit ini, detik ini Valerie resmi menjadi milik Ethan Adrian Armend, menyandang gelar Nyonya Muda Armend.
__ADS_1
“Terima kasih istriku.” Bisik pria berusia 21 tahun tepat ditelinga pujaan hatinya.
Ethan bangga bisa memiliki Valerie, melalui perjuangan yang tidak sebentar. Melewati segala rintangan yang menguras tenaga serta pikiran.
“Hah? Oh iya.” Valerie masih bingung akan status barunya. Kini bukan lagi hanya putri Daddy-nya tetapi juga seorang istri, mulai memiliki tugas dan tanggung jawab.
Keduanya menjadi bahan perbincangan keluarga apalagi kakak sepupu yang memang jahil. Diantara mereka baru Valerie yang menikah.
“Akhirnya Ethan, bisa gelap-gelapan ya berduaan. Kakak gak akan ganggu lagi, serius. Malah dukung kalian untuk sering di tempat gelap.” Tawa Kakak Sepupu yang berprofesi sebagai dokter.
“Iya benar, gak pelu mandi malam lagi untuk menurunkan suhu.” Semakin tertawa puas.
Valerie yang memang selalu ceria kapanpun, dengan keberanian menjitak satu per satu kepala sepupunya. Gaun pengantin yang melekat indah tidak menjamin sikapnya lembut serta feminim, jangan harap.
Acara berlanjut hingga malam hari, pestanya benar-benar untuk keluarga. Kehangatan serta kebersamaan satu dan lainnya tercipta, semua kompak tidak ada yang menyendiri.
Termasuk sepasang pengantin yang tidak lelah bercengkrama sejak siang.
Karena sedang berkumpul, kakak sepupu mengajak adik-adiknya bermain ‘turth or dare’.
Sebatas mengisi waktu luang sekaligus mengganggu Ethan dan Valerie. Sudah mejadi tradisi di keluarga Bradley, bahwa menggagalkan malam pertama pengantin adalah misi utama.
Di mulai dari kakak sepupu yang menunjuk adikny, memaksa memilih jujur mengatakan sesuatu daripada mendapat tantangan.
“Apa kamu pernah pacaran? Kapan? Dan siapa?” tanya Arkatama Denver kepada Zac Kaivan.
“Ehem, sebagai pria sejati dan pecinta wanita. Walaupun terlihat kutu buku dan jenius tentu pernah. Sudah lama, aku juga lupa wajahnya. Dia teman SMP.” Jawab Zac lantang mengingat ‘cinta monyet’.
Denver tertawa miris karena diusianya yang matang belum pernah merasakan apa itu memliki kekasih hati.
Kini giliran Zac dan pilihannya jatuh kepada Ethan, memberi tantangan kepada suami muda itu. Tentu saja hal yang sangat disukainya.
Mencium bibir Valerie, bahkan Ethan hampir kebablasan, sebab ingat statusnya sudah sah, memagut liar bibir istrinya.
Pemandangan ini pun menyayat hati gadis kecil yang tahun ini memasuki Senior High School Internasional, Natasha menangis dalam diam.
__ADS_1
TBC