
Natasha mendengus sebal, lantaran akhir pekan yang direncanakan penuh kegiatan menantang serta bahagia, kini berujung membosankan dan menderita.
Pagi tadi David dan Bundanya menghubungi Papi Daniel, meminta izin membawa Natasha seharian ini.
“Apa lihat-lihat? Belum puas merusak weekend gue?” tantang Natasha tidak lagi canggung kepada calon suaminya.
“Heh kucing liar, lo pikir hari gue indah gitu? Masalah ini muncul karena siapa? Lo kan? Seharusnya gue nggak bantu lo kabur. Rese lo, nggak tahu balas budi.” Cibir David melayangkan tatapan permusuhan. Bahkan berdiri menjaga jarak dari Natasha, kulitnya gatal dan alergi berdekatan dengan gadis liar itu.
Kalau David yang mengajaknya pergi, mungkin Natasha bisa menolak bahkan memukul pria tampan, menyebalkan.
Tapi, permintaan Bunda, dilengkapi tatapan teduh, menenangkan hati mana bisa ditolak. Natasha enggan menyakiti perasaan wanita itu, karena sudah menyayangi Bunda David.
“Seharusnya dia bisa membuat rencana. Dasar laki-laki pemalas.” Umpat Natasha dalam hati.
“Sayang sini, mana yang paling kamu suka? Kalau David ikut aja ya sama calon istri.” Bunda mengedipkan sebelah mata, menggoda Natasha.
Pramuniaga membantu memasang satu per satu cincin ke jari manis, satu cincin masih belum cocok, dua cincin belum pas, hingga ke sepuluh, Natasha belum menjatuhkan pilihan. Sengaja mengulur waktu demi menggagalkan rencana pertunangannya nanti malam.
__ADS_1
“Gak suka semua ya sayang? Kalau pesan pasti lama, engga bisa dipakai nanti malam.” Bunda terlihat lesu dan sedih, sebab semua rekomendasi cincin tidak satupun merebut perhatian Natasha.
“Jelaslah, dia nggak suka cincin. Perempuan jadi-jadian gini mana paham perhiasaan.” David mencebik, melirik tajam Natasha.
“Awww. Sakit, lo kenapa sih? Ini namanya kekerasan tahu nggak?” pekik David, merasakan panas dan ngilu, karena Natasha menginjak punggung kakinya.
“Oops, maaf ya … gue sengaja.” Bisik Natasha, menyeringai di samping pipi calon suami.
Pada akhirnya Bunda mengambil keputusan memesan cincin, dengan desaign menarik dan cocok untuk gadis seusia Natasha.
Namun memerlukan waktu sekitar dua minggu. Artinya, malam ini Natasha tidak akan mendapat cincin tanda pertunangan. Bunda membeli kalung sebagai gantinya, tentu Natasha dan David tidak mengetahui apapun.
David dan Natasha mengantre jajanan khas Turki, berisi daging iris, sayur dan aneka saus yang memanjakan lidah. Mereka masih membuang muka satu sama lain. Natasha sangat membenci David.
Ketika memesan makanan, Natasha melupakan dompet yang tertinggal di rumah. Sementara store tidak menerima pembayaran non tunai, tidak bisa menggunakan uang elektronik pada salah satu aplikasi ponselnya.
“Ish, mall segede gini masih manual. Heran deh.” Terpaksa membatalkan pesanan, lebih baik menahan lapar daripada mengemis kepada pria di sampingnya yang santai mengeluarkan dompet.
__ADS_1
Mata jahil Natasha mengintip isi dompet David, “Banyak juga itu uang, kalau aku pinjam selembar engga masalah kan?” gumamnya.
“Apa lo? Mau? Bilang bos, jangan ngintip. Kebiasaan lo, rese.” David mendorong pelan Natasha ke samping, keluar dari batas antre. Dia membayar pesanan Natasha, rasanya tidak tega juga melihat kucing liarnya kelaparan.
Setelah menerima dua bungkus panjang makanan, David dan Natasha duduk di ruang tunggu dalam butik. Berlomba melahap makanan, mulut penuh dan saus menetes dari bibir.
Natasha ingin sekali tertawa melihat David, karena matanya melebar berusaha menelan makanan tetapi dirinya malah tersedak. “Uhuk uhuk”
“Eh Nat, lo keselek? Pelan-pelan dong.” David membuka satu botol air mineral, membantu calon istrinya meneguk secara perlahan, hingga pandangan keduanya bertemu dan terkunci.
Natasha diam tanpa kata, sedikit tersanjung dengan sikap David yang sigap menolong. Bibir berbisa yang selalu berisik ini pun terkatup rapat, kata-kata ‘terima kasih’ sulit keluar dari mulut.
“Kalian?” Bunda David tersenyum, merasa masuk di waktu yang tidak tepat. Putranya kedapatan sedang memegang erat pinggang calon menantu.
“Kalau saja Natasha sudah lulus sekolah. Pasti mereka bisa menikah, tapi aku harus sabar.” Bunda tersenyum karena pilihannya jatuh kepada Natasha memang tidak salah.
TBC
__ADS_1
***
nikah muda jangan nih?