Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 8 He Was Angry


__ADS_3

Akhirnya hari kedua perkuliahan yang menguras emosi selesai. Memiliki otak cerdas membuatnya dipilih sebagai salah satu asisten dosen killer yang terkenal pelit nilai di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.


Semua mahasiswa berbondong-bondong merapat mendekati gadis cantik berusia 19 tahun itu, demi meraih nilai A ya setidaknya B, jangan sampai C karena menodai transkrip nilai.


Valerie dibantu dua teman lelakinya membawa tugas ke ruangan dosen. Tidak mungkin badan mungilnya harus memangku makalah hasil penelitian seorang diri, tebal dan berat.


‘Valerie, tolong bantu nilai gue ya. Bisa dihukum kalau dapat nilai C apalagi D, duh jangan sampe deh’


‘Nanti gue traktir makan di kantin selama satu semester gemana?’


“Umm … boleh, aku bantu kalian ya. Tetap harus belajar, jangan mengandalkan aku.” Tukas Valerie memasuki koridor, dengan hiasan pahatan dinding unik terpatri kuat yang dilapisi emas.


Selesai menyimpan seluruh tugas, Valerie melihat Ethan keluar dari Ruang Dosen Manajemen Bisnis. “Ethan … Ethan tunggu, boleh numpang gak? Aku kan gak bawa mobil.” Panggil Valerie berusaha mengejar temannya yang melangkah cepat.


“Ish Ethan kenapa sih kaya bunglon, selalu berubah. Apa ada masalah ya?” gumam Valerie masih berjalan menyusul Ethan Adrian Armend.


Naasnya lelaki itu menghilang di area parkir, motornya pun lenyap, diikuti David membonceng Rebecca, lalu Josh yang baru sampai di sini


“Tunggu! Josh. Wait … Josh aku ikut.” Teriak Valerie mengundang perhatian mahasiswi yang tidak menyukainya karena berhasil dekat dengan Ethan.


“Kalian mau ke mana? Aku ikut. Ke basecamp ya? Ikut ...” pinta Valerie begitu manis. Iman Josh sangat lemah hingga tak mampu menolak sejuta pesona.


“Ayo sayang naik, ah gue gak punya helm. Gak apa-apa ya sebentar ini kok.” Tukas Josh mulai melaju sangat pelan menuju basecamp.


Sampai di tujuan, Valerie tersentak mendengar suara menggelegar dari dalam ruangan berdinding grafiti itu.


“Siapa diantara kalian yang cari masalah dengan kelompok lain? Lihat akibat gegabah, salah satu anggota kita luka parah. Mikir sedikit lah punya otak!” teriak Ethan. Dia terkejut ketika di kampus mendadak menerima banyak pesan dari pengasuh anggota baru. Salah satunya mendapat luka tusukan.


“Kalian itu belom siap. Percuma selama satu bulan ini gue mati-matian jaga kalian semua, kalau ujungnya kaya gini.” Geram Ethan, lelah.


‘Beneran ketua, kita engga punya masalah apapun sama anggota lain. Tiba-tiba ada orang menerobos barisan konvoi.’


“Ya kalian gila, kenapa konvoi siang bolong di daerah kekuasaan Mario? Cari masalah aja.” Kesal Ethan mendaratkan bokong di atas kursi ketua D’Dragons.


Membaca surat terbuka dari seseorang, bahwa malam ini ditunggu untuk berduel, imbalannya pun tidak main-main.


“Malas banget kalau harus adu kekuatan di tengah ring. Ini pasti dari anak jalanan kan? Sekarang kalian semua keluar dari basecamp. Mending pulang dulu!” nada marah Ethan, para anggotanya akan terlibat masalah kalau dia tidak menuruti keinginan tersebut.

__ADS_1


“Kamu mau berantem? Sama siapa? Aku engga setuju ya.” Valerie memberanikan diri masuk ke dalam sangkar menyeramkan ini. Dia bergidik ngeri melihat ukiran tangan pada dinding.


“PERGI! KELUAR SEKARANG JUGA!” bentak Ethan, pikirannya pusing memikirkan segala macam masalah.


Terancam dikeluarkan dari kampus, uang jajan menipis, lalu sekarang salah satu anggotanya diserang.


“Gak mau. Aku keluar, kamu juga harus ikut.” Tegas Valerie mendekati Ethan. Dia bingung sendiri, akan sikap yang selalu berubah-ubah.


“Vale, berisik.” Ethan berdiri, dia perlu menenangkan diri, jauh dari kebisingan. Badannya sengaja menabrak bahu Valerie hingga terjatuh.


“Josh, bawa dia pulang! Jangan bikin susah kelompok kita.” Titah Ethan kepada Josh.


Sedangkan Valerie menatap garang ke arah Ethan. Sahabatnya itu dari dulu hobi menyakiti fisiknya, dan sampai sekarang tidak berubah sedikitpun.


Valerie menolak tawaran Josh, dia bersikukuh tetap tinggal.


.


.


Pukul 22.00 , seluruh senior D’Dragons mulai menjalani aktivitasnya. Sebelum berangkat ke lokasi, mereka semua meneguk minuman tertentu yang diracik salah satu anggota.


Riuh tepuk tangan dan sorakan memenuhi basecamp D’Dragons. Para anggota mulai mengendarai motor mereka satu persatu keluar dari basecamp termasuk sang ketua.


Mendadak Ethan merasa tepukan di bahunya. “Aku ikut!”seru Valerie duduk manis di belakang punggung Ethan.


“TURUN! Jangan ikut ini bahaya Vale, mending lo tunggu di dalam sama Becca! Ini masalah laki-laki dan harga diri.” Sengit Ethan. Sungguh dia tidak mau membawa gadisnya dalam bahaya.


“Pokoknya aku ikut. Kamu jangan gini terus dong Ethan, gak baik. Mendingan kita pulang aja.” Ajak Valerie, berusaha merubah sahabatnya, menjadi Ethan yang dikenalnya dulu.


“Ck keras kepala.” Kesal Ethan, tak berperasaan lagi, segera melaju sangat cepat. Hampir Valerie terpental jatuh.


“Ethan … kamu masih waras engga sih? Ngebut banget, aku takut jatuh.” Teriak Valerie tanpa berpegangan.


“Pegangan!” balas Ethan mengerem kendaraannya, meraih paksa tangan Valerie hingga kini memeluk dari belakang.


Ethan Adrian Armend seperti orang kerasukan, roda duanya melesat cepat. Sampai di lokasi, dia melihat Mario sudah menunggu dalam ring tinju. Tanpa basa basi, menghampiri Mario, membuka baju atasnya dan melempar asal.

__ADS_1


Valerie hanya melongo, dia takut terjadi sesuatu dengan lelaki yang kini menjadi berandalan itu.


“Lo datang juga. Gue pikir tidur di rumah.” Ucap Mario, melempar sarung tangan tinju ke rivalnya.


“Apa maksud lo bikin anggota gue terluka, hah? Mereka engga tahu apa-apa, masalah lo sama gue. Harusnya lo cari gue. Cemen!” Ethan sama sekali tidak takut terhadap Mario. Karena yakin D’Dragons sama sekali tidak salah.


“Asal lo tahu bro. Anak ingusan itu mengusik tidur siang gue, jelas aja salah. Sekarang tanggung akibatnya.” Mario meregangkan otot, lalu maju menyerang Ethan.


Tidak ada wasit di pertandingan kali ini. Peraturan tetap sama, menjatuhkan lawan hingga tumbang dan dialah pemenangnya.


Mario menyerang lebih dulu, Ethan menangkis, kedua tangannya menutupi area kepala. Lalu melayangkan jab berkali-kali.  


Di tribun penonton, Valerie cemas, 30 menit Ethan dan Mario saling menyerang. Bahkan dia melihat pelipis Ethan berdarah.


“Akh pertandingan macam apa sih ini? Gak benar, curang.” Geram Valerie, rasanya ingin naik ke atas ring tinju. Mencuci bersih dua lelaki itu hingga terbebas dari noda dan keluar dari gangster.


Menit ke 45, Ethan mulai kehilangan keseimbangan. Kepalanya tiba-tiba pusing dan tidak jelas melihat lawan.


Mario menyeringai, pukulan straight tepat menghujam wajah Ethan, darah muncrat keluar dari mulut.


“ETHAN …” teriak Valerie tak kuasa melihat sahabatnya terluka.


“Ini kah ketua D’Dragons yang dipuja, malam ini akhir dari kekuatan kelompok kalian. Dan gue akan merebut semua anggota lo. Thanks mau datang, hahaha.” Mario tertawa, mengambil ancang-ancang untuk benar-benar membuat Ethan K.O


“Arrrrghhhh”


BUGH


BRUK


TBC


***


huaaaa kasian banget Ethan


jangan lupa likenya kakak 🤗🙏

__ADS_1


 


__ADS_2