
Hari berlalu, usia kandungan Valerie memasuki lima bulan. Tetapi sikapnya sama, selalu menjengkelkan dan marah-marah tidak jelas. Menguji kesabaran seorang Ethan Adrian, rasa lelah akibat seharian bekerja di kantor bertambah berat usai menginjakkan kaki di rumah.
Mendadak istri cantik bak bidadari itu cemberut tak jelas, padahal sebelum Ethan keluar kamar, sang istri baik-baik saja, meminjam dan bermain ponsel miliknya dengan alasan bosan menyentuh punya sendiri.
Ethan yang jengah dan jenuh menghadapi perubahan hormon Valerie, memilih diam saja daripada menambah runyam masalah.
“Isssh si paling nggak peka banget jadi suami.” Celetuk Valerie melempar smartphone keluaran terbaru, untung saja Ethan sigap menangkap, kalau tidak benda itu bisa retak, mungkin.
Helaan napas Ethan terdengar berat, kemudian menoleh ke samping. Namun Valerie lebih dulu mendorong tubuh suaminya hingga tersungkur dari atas ranjang.
“Aduh sayang kenapa lagi? Aku cape mau istirahat. Apa ada? Kamu mau makan sesuatu? Jangan gini Vale! Kamu yang hamil ya aku engga tahu maunya apa.” Tegas Ethan bernada sindiran.
Seketika Valerie menggigit bibir bawa begitu kuat, tubuhnya juga bergetar menahan sesuatu yang berkecamuk tapi sulit di kemukakan. “Aku hamil juga anak kamu, karena perbuatan kamu. Jangan marah sama aku.” Balas Valerie tak mau kalah.
__ADS_1
Valerie menyusut air yang keluar dari hidung dengan piyamanya. Lalu memberi tatapan setajam mata pisau kepada Ethan. Begitu mengkilap dan menyilaukan mata, membuat lawan menciut.
Tapi, ini Ethan bukan orang lain. Berusaha menyingkirkan ego, menghempasnya jauh dan membendung agar tidak kembali menghampiri dan mengacaukan malamnya bersama istri tercinta.
Resiko Ethan Adrian yang menggebu ingin menikah muda di saat mental belum sepenuhnya matang, apalagi Valerie mengandung, mood ibu hamil tidak bisa ditebak. Sewaktu-waktu meledak bagai bom yang sudah disetting sedemikian rupa.
“Maaf sayang. Aku engga maksud membentak. Iya aku salah. Iya karena aku, kamu hamil, dan terima kasih udah mau jadi ibu dari anakku.” Sekarang yang terbaik hanyalah mengalah, mengalah dan mengalah entah sampai kapan. Biarkan saja seperti ini demi kebaikan ibu dan bayinya, selama tidak melampaui batasan.
Jurus jitu wanita adalah menekuk wajah, mengomel tak jelas, marah dan memberi bahasa kode yang diharapkan dimengerti oleh pasangan. “Kamu jahat.”
Ethan mengerutkan kening seraya berpikir, kejadian seharian ini. Mengurutkan momen mulai dari bangun tidur, di kantor dan dalam kamar. “Sayang. Aku berbuat apa? Kasih tahu aku.”
Alih-alih menjawab, Valerie malah menunjuk benda pipih yang ada di ujung kasur tepat di sisi badan suaminya. “Itu bawa ke sini!”
__ADS_1
Patuh dan menurut tanpa banyak bicara. Menyerahkan ponsel yang hampir rusak dibanting Nona Muda kesayangan Ethan Adrian Armend. “Sabar Ethan, dia istri kamu, di dalamnya ada anak kalian.” Dalam hati.
“Kamu nonton sama siapa? Ini apa buktinya? Pemesanan tiket gala premier satu hari yang lalu?” tubuh berisi ibu hamil bergerak, membuka laci lalu mengambil catatan kecil. “Pantas aja kamu pulang terlambat.”
Ethan membacanya, tapi bukankah Valerie tahu alasan pulangnya sedikit larut, lantaran kendala syuting iklan yang terganggu karena sang artis mendadak sakit. Daddy Bobby pun membantu Ethan menjelaskan masalah yang terjadi di luar dugaan.
“Bohong. Kamu pergi sama cewek lain kan? Siapa? Selebgram itu? Si genit yang doyan pamer dada? Oh aku tahu, karena istri kamu sekarang gendut, jadi cari lagi yang lain, iya kan? Cinta kamu basi tahu engga?” sembur Valerie, amarahnya membuncah mengeluarkan kesal dalam hati.
TBC
****
boleh ya minta semangat?🙊
__ADS_1
thor-nya lagi lesu letih lunglai lemyees