Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 64 Suami Pelit


__ADS_3

Di tempat lain, sepasang suami istri selalu terlibat adu mulut di manapun tanpa memandang situasi dan kondisi. Rebecca dan Josh belanja kebutuhan bulanan, keduanya berselisih paham mengenai pembelian salah satu merek minyak goreng.


“Udahlah Becca pakai ini aja jangan yang lain. Itu lebih mahal 2000, lumayan Becca!” seru Josh, merebut kemasan minyak goreng di tangan istrinya.


“Ya ampun punya suami pelit banget sih. Josh cuma beda 2000 aja. Lo juga engga akan miskin kali.” Rebecca heran, suaminya ini memiliki uang banyak dan warisan melimpah. Tapi perkara selisih harga tipis menjadi penghalang.


“Udah pakai ini aja, jangan yang lain. Selama ini juga yang masak gue, bukan lo. Ingat ya nurut sama suami.” Tegas Josh memasukkan dua kemasan minyak goreng ke dalam troli.


Rebecca hanya menatap jengah suaminya yang pelit. Seandainya dia tahu Josh memiliki sikap menyebalkan seperti ini membatasi uang belanja, mana sudi menikah dengannya.


Tidak berhenti sampai di satu produk, kali ini pasangan itu memilah ikan segar. Rebecca lebih senang ikan laut, tetapi Josh sangat menyukai ikan air tawar.


“Apaan tuh?” tunjuk Josh ke plastik berisi potongan ikan.


“Ah ini tuna. Enak banget kalau di gulai. Gue aja yang masak, kalau lo gak mau.” Ketus Rebecca, menyimpannya ke troli.


“Eh gue engga suka ikan laut, bau amis tahu engga? Udah ini aja lele. Gue beli banyak, lo juga doyan kok. Kita sering makan pecel lele di basecamp.” Josh menunjukkan catatan kecil dalam genggaman. Dia menegaskan harus belanja sesuai list yang tercatat tidak bisa melebihi dari alokasi dana.


“Ya udah tuna aja. Kalau lo engga mau bayar, gue masih mampu bayar sendiri. Puas?” Rebecca membawa bungkusan ikan miliknya, kemudian berjalan menjauh dari Josh.


Salahnya memang, menawarkan diri membantu Josh belanja bulanan. Tapi ada baiknya juga. Rebecca bisa mengetahui sisi negatif suami.

__ADS_1


“Mana bisa gue hidup sama cowok model kaya gitu. Segalanya diatur, dicatat, mau makan aja ribet banget sih.” Rebecca menggerutu sendirian, mengantre di kasir.


Rebecca melirik ke kanan dan kiri sama sekali suami tidak ada, “Ck bukannya menyusul. Dasar Josh, pantas aja dulu sering banget ganti pacar. Mereka beruntung banget bisa lepas dari playboy. Hah, gue kena jebakan, sial banget nasib gue.”


Setelah membayar ikan, coklat dan beberapa cemilan. Rebecca mengelilingi pusat perbelanjaan dia masuk ke salah satu store penjual pakaian dalam. Memilah bra dan kain segitiga.


“Wah kayanya udah lama banget gue engga nambah koleksi.” Gumam Rebecca, menempelkan dua hanger bra ke aset kebanggaan.


“Mending merah atau pink ya? tapi dua-duanya lucu.” Ujar Rebecca gemas sendiri.


“Beli aja semuanya sayang, aku suka. Aku perhatikan punya kamu semakin berisi, memang harus pakai yang baru. Sebelum tidur aku mau lihat ya warna merah dulu aja.” Josh mencubit pipi istrinya. Menggoda Rebecca merupakan agenda wajib.


“Mba. Lingerie model terbaru yang mana? Jangan yang monoton bentuknya, menantang lebih bagus.” Josh mengikuti pramuniaga berjalan ke salah satu tempat khusus berisi lingerie cantik.


pakai ini ya, jangan piyama lagi.” Josh menyeringai nakal.


Sesuatu di luar dugaan terjadi, Josh membeli semua koleksi lingerie di store pakaian dalam, habis tak bersisa. Dia akan membuang semua piyama dan baju santai Rebecca. Bila perlu selama di apartemen, istrinya menggunakan lingerie baik siang atau malam.


 “Hah?” Rebecca menganga tidak percaya, bisa-bisanya suami pelit seperti Josh memborong baju tidur kekurangan bahan itu.


Beres membayar semua keperluan istri, Josh menggandeng tangan Rebecca. Sengaja menyusupkan jemarinya. “Jangan melawan ya, malu di tempat umum.”

__ADS_1


“Ish, kesempatan banget. Awas aja nanti di apartemen, gue bikin kuping lo bengkak.” Dalam hati Rebecca sudah berencana untuk mengerjai Josh.


“Lo perhatian banget sama suami. Makasih ya sayang, tahu aja kalau gue suka. Kenapa cemberut istriku sayang?” pehatian Josh lebih cenderung mesum dan menyebalkan.


“Malas ah gue ngomong sama lo. Bikin sakit kepala. Beli apa aja untuk sarapan besok? Lo jadi cowok jangan pelit Josh, perempuan engga ada yang betah kalau gitu.” Tukas Rebecca.


"Telur, bubur gandum, roti gandum, alpukat." Josh menjawab sembari melirik goodie bag.


Keduanya berjalan ke area parkir. Di sana, Josh sibuk memasukan semua kantung ke dalam bagasi. Sedangkan Rebecca duduk manis di jok penumpang, menunggu suaminya selesai.


Rebecca membuka satu bungkus coklat. Mengigit dan menghisapnya, sedikit noda coklat menempel di bibir atas.


Tiba-tiba Josh berdiri tepat di sisi kursi penumpang, lagipula pintu itu belum tertutup, masih terbuka lebar. “Gue bukan pelit, kalau belanja jangan kalap, harus sesuai dengan kebutuhan, sayang.”


Josh tersenyum melihat istrinya sangat menggemaskan seperti anak kecil, setiap mengigit coklat, ingin sekali Josh merasakan lembutnya bibir itu.


“Lo cantik.” Kata Josh, sedikit membungkuk, menyentuh pipi lembut istri. Mendekatkan diri, semakin tak berjarak.


Dengan gerakan cepat, lidah Josh menyapu sisa coklat itu. Bahkan tidak membuang kesempatan, menyesap bibir tipis Rebecca cukup lama. Tangannya menahan agar wanitanya tidak menjauh atau berusaha melepaskan diri.


“Malam ini gue pasti bisa mendapatkannya. Gue Josh mantan casanova penakluk wanita, perempuan itu memerlukan kepercayaan dan sentuhan lembut. Siap-siap sayang, menjadi istri sempurna untuk Josh.” Kata hati Josh sudah merencanakan sesuatu untuk memikat istri tercinta.

__ADS_1


TBC


__ADS_2