
Menerima telepon dari suami tercinta, Valerie segera berangkat ke lokasi yang dikirimkan Ethan. Jari-jari tangannya sudah gemas ingin memukul orang itu karena berani melukai Daddy Dariel.
“Aku engga akan kasih ampun, engga mau. Seenaknya aja dia mau mencelakai Ethan dan Daddy.” Valerie memutar setir mobil dengan genggaman begitu kuat.
Akhirnya dia tiba di salah salah satu rumah. Tidak lagi menggunakan kelembutan, Valerie menendang pintu itu hingga rusak.
“Siapa yang mau bunuh lo? Sembarang.” Bentak Valerie, sangat kental ciri khas wanita yang sedang marah.
Sontak Ethan, David, dan Josh terkesiap karena perempuan cantik itu bertingkah layaknya preman. Ketiganya memerhatikan tatapan tajam Valerie yang ditujukan kepada Devano.
Dia berjalan memutari Devano yang sudah kelelahan karena tangan dan kakinya terikat. “Ada masalah apa lo, menyerang keluarga gue?” Valerie sangat jijik kepada lelaki ini, pernah satu kali bertemu dengannya di arena drag race.
Tidak menyangka jika sosok bertopeng yang selalu mengincar adalah salah satu ketua gangster lain. Valerie sudah terlanjur kesal, hendak melayangkan pukulan ke wajah Devano. Namun tepat jarak satu senti, dia menghentikan gerakannya.
“Kulit gue terlalu berharga dan bersih.” Kata Valerie seakan Devano benda kotor yang tak layak sentuh.
“Biar gue aja Vale yang pukul ini orang. Mau sampai berdarah atau masuk rumah sakit terus engga bisa bangun lagi?” David menawarkan bantuan. Meremas kedua tangan yang tidak sabar meremukkan tulang-tulang Devano.
“Jangan Vid. Manusia kaya gini malah semakin senang. Bubarkan aja gangster-nya, mereka pasti mudah terkontaminasi. Jangan sampai ada Devano lainnya!” Valerie tiba-tiba merubah keputusannya, padahal dari rumah sakit sangat bernafsu memukuli pelaku.
David dan Ethan setuju, gangster yang didirikan Devano memang seharusnya dibinasakan. Kemudian para anggotanya diberi pembinaan, karena hanya berisi anak-anak yang putus sekolah dan tidak memiliki motivasi dalam hidup.
“Siap sayang.” Sahut Ethan.
“Tapi ini engga gratis ya Devano, lo punya keluarga juga kan? Kurang dari 30 menit pasti data keluarga lo bisa ada di tangan gue. Apa mungkin harus pakai pisau lipat yang sama?” Valerie benar-benar membawa pisau yang digunakan Devano menikam Daddy Dariel.
Devano yang kesulitan membuka mata, berteriak sangat keras, tentu saja dia tak ingin keluarga menjadi sasaran dari kemarahan D’Dragons. “Jangan sentuh keluarga gue.”
__ADS_1
“Terus gemana selanjutnya?” tanya Josh benar-benar ingin memukuli Devano.
“Serahkan ke polisi, jangan kotori tangan kalian. Tapi aku pastikan, kamu engga akan bebas dari penjara.” Kata Valerie penuh penekanan. Tentu saja Uncle Daniel akan membantu menangani kasus kriminal ini.
**
GB Hospital
Lelah karena marah-marah sejak siang, Valerie mengeluh perutnya lapar dan pasukan cacing pun melakukan aksi demo di dalam lambung.
KRUK
“Kamu lapar ya? Kita ke kantin dulu kalau gitu, gemana?” ajak Ethan.
“Gak mau, aku ke ruangan Daddy dulu. Tadi belum bangun karena obat tidur, aku khawatir, Ethan.” Valerie yang sebelumnya terlihat menyeramkan, kini berubah seperti anak ayam kehilangan arah dan tujuan.
Keduanya masuk dalam lift, menuju ruangan perawatan khusus pemilik rumah sakit.
Berdasarkan semua sikap Valerie, rasanya Ethan tidak tega kalau malam ini membawa istrinya pulang ke apartemen.
Valerie sangat menyayangi Daddy Dariel, pastinya Ethan mengalah satu atau dua hari tidur tanpa belahan jiwa.
“Hari ini aku boleh menginap di rumah sakit?” tanya Valerie, mata hazel-nya sangat memohon tak kuasa Ethan menolak permintaan ini.
Dalam hati Ethan berkata, “Benar kan apa gue bilang. Engga maslaah deh satu hari aja.”
Ethan mengulas senyum hangat, tangannya membelai puncak kepala Valerie dan mengacak rambut coklatnya. “Boleh sayang. Semua untuk kamu, aku temani ya. Engga enak juga sendirian di apartemen.”
__ADS_1
Ting
Lift terbuka, Valerie dan Ethan sama-sama melangkah menuju kamar Daddy Dariel. Namun belum sempat keduanya masuk, seseorang terdengar memanggil dari jarak dekat.
“Valerie?”
“Kamu? Kenapa ada di sini?” jari telunjuk Valerie terangkat mengarah kepada orang itu. Benar-benar tamu yang terduga, bahkan dia juga tahu Daddy Dariel sedang terluka.
Eberardo Mikael masih belum jera mendekati mantan kekasihnya, dia sengaja datang ke rumah sakit. Semula dalam perjalanan menuju kediaman Bradley, tapi mengetahui Ayah dari kekasihnya tertimpa musibah, dia putar haluan.
“Ya aku di sini. Bisa kita bicara sebentar?” Eberardo begitu mengiba dan membutuhkan waktu berdua bersama mantan kekasihnya ini.
Tidak memberikan jawaban, wanita itu menoleh kepada Ethan, mencari sebuah keputusan terbaik.
“Gue cemburu, kenapa orang ini datang lagi sih?” dada Ethan bergemuruh, petir saling menyambar masuk ke dalam hati.
Namun sebuah pilihan lain diambil, Ethan mengangguk kecil, mengizinkan istrinya bicara empat mata dengan Eberardo.
“Selesaikan masalah kalian, jangan lama ya sayang karena aku cemburu.” Ethan mencium bibir merah delima Valerie tepat di depan mantan rivalnya itu.
“Lo, jangan bawa istri gue. Kalian bisa mengobrol di sini tanpa gangguan.” Ethan memilik sofa yang diperuntukan khusus untuk tamu rumah sakit.
TBC
***
yes Vale dibawa kabur💪
__ADS_1