
“Vale?” Ethan melihat kekasihnya menggigit garpu dan memeluk banyak snack.
“Ethan, kamu mau makan juga? Aku lagi menghangatkan macaroni. Hehehe.” Tawa Valerie, canggung sebenarnya bertemu lelaki ini.
Tidak munafik, Ethan menerima tawaran kekasihnya, duduk di kursi menunggu Valerie selesai menyiapkan makanan. Tapi bau hangus tercium kuat.
“Yah gosong, mana udah lapar banget ini. Masa cuma makan keripik kentang aja?” tangis Valerie. Menghampiri Ethan. Di ruang makan.
“Kenapa sayang? Kok mukanya ditekuk gitu?” tanya Ethan khawatir, segera memeriksa keadaan Valerie, tidak ada luka sama sekali. “Mana makanannya?”
“Huaa gosong Ethan, karena tadi aku lupa tekan mode panggang.” Tangis Valerie serta suara perut semakin brutal menagih jatah.
Keadaan ini mungkin menyebalkan tapi bagi Ethan tidak masalah, ya namanya juga di mabuk cinta. Harap maklum karena semua selalu indah.
Ethan membawa kekasihnya ke dapur, memeriksa kulkas. Hanya ada beef slice dan sayuran hijau.
“Kamu tunggu di sini, tahan dulu ya. aku perlu waktu 30 menit.” Ucap Ethan yang juga kembali menahan lapar karena makan malam mereka hangus.
Valerie diam menatap kekasihnya yang cukup gesit memotong bawang, sayuran. Keahlian Ethan cukup baik di dapur. Padahal dia sering sibuk dengan kendaraan roda duanya.
“Kamu masak apa? Wangi banget, kayanya enak.” Valerie mengintip dari balik punggung.
“Beef teriyaki, pakai bumbu special. Pasti enak.” Ethan tertawa renyah, dua tangan serta badannya aktif bergerak ke sana kemari.
“Bumbu spesial? Apaan ?” tanya Valerie dilanda penasaran dan termakan umpan seorang Ethan Adrian.
“C-i-n-t-a. khusus untuk Valerie Wylie Bradley.” Kata Ethan sangat serius, karena memang benar, dia memasak menggunakan perasaan.
Valerie mengulum senyum, tingkahnya malu-malu. Semula dia pikir aksi ini tidak diketahui Ethan. Tapi ekspresi Valerie terpantau dari kaca yang memantulkan segala gerak geriknya.
“Bener kan, kurang dari dua bulan, kamu akan luluh.” Hati Ethan bersorak senang.
20 menit telah dihabiskan dengan menunggu makanan matang. Saat ini sepasang kekasih itu sama-sama menyantap beef teriyaki, sayur pakcoy dari atas piring yang sama. Alasannya menghemat peralatan makan.
__ADS_1
“Enak banget Ethan, kamu belajar di mana?” tanya Valerie mulutnya penuh makanan.
“Basecamp dan apartemen. Gangster gak selamanya negatif sayang, banyak kegiatan di dalamnya termasuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Seperti kekurangan biaya rumah sakit, ya kita dapat uangnya dari dana kas. Lain kali kamu harus ikut ya, tapi kegiatan kita memang lebih banyak balapan dan modifikasi kendaraan sih.” Ungkap Ethan selaku ketua D’Dragons.
Valerie mengamati kekasihnya bicara, sungguh Ethan yang sekarang sangat berbeda. Bukan lagi pemuda jahil yang menjengkelkan. “Kenapa Ethan keliatan ganteng sekarang? Dia pakai skincare apa ya? keren banget.” Tukas Valerie dalam hati.
Mulutnya berhenti mengunyah, kedua mata hazel setia menatap Ethan yang terus saja membahas sisi positif D’Dragons.
“Akh kenapa jadi gugup gini. Tolong lah Vale, kamu kenal sama Ethan lebih dari 15 tahun, dari lahir sudah berteman.” Kata hati Valerie terus meracau.
“Eh beneran dong Ethan berubah jadi keren, ganteng juga kharismatik. Aduh Stop, Vale jangan sampai dia tahu apa isi kepala aku.” Otak dan hati Valerie setuju jika lelaki di depannya ini memiliki keindahan fisik di atas rata-rata.
Menyadari gadisnya diam saja, Ethan memperhatikan Valerie yang melamun. “Vale? Valerie? Sayang? Vale?” sama sekali tidak ada respon.
Mendadak saja ide jahil terlintas dalam kepala sang ketua gangster. Ethan sengaja menjatuhkan sendok ke atas lantai, hingga berdenting nyaring.
TING
“Ada kecoa di kaki kamu, Vale.” Seru Ethan setengah berteriak.
Tidak melihat hewan menjijikan itu, Valerie memukuli bahu kekasihnya sampai puas.
“Ya ampun. Bikin aku jantungan tahu gak sih? Jahat banget kamu Ethan. Lagian di sini mana ada kecoa. Huh.” Keluh Valerie, langsung menarik napas karena organ vitalnya sangat membutuhkan asupan oksigen.
“Maaf sayang. Kamu bengong, kamu lagi memikirkan apa? Ya kalau aku boleh tahu.” Ethan kembali menyantap makanannya.
“Oh itu, tadi aku terus memperhatikan kamu, semakin keren dan ganteng.” Ucap Valerie meluncur bebas dari mulutnya tanpa deteksi sensor sedikitpun.
Ethan tersenyum mendengar pernyataan gadisnya, dia menatap Valerie yang kini menutup mulut, pipinya semerah tomat dan kepalanya menggeleng cepat.
“Aku salah ngomong, Aku bukan …” kalimat Valerie terhenti karena Ethan menghapus jarak. Hingga hembusan napas diantara keduanya begitu terasa hangat.
“Engga masalah sayang. Memuji pacar sendiri bukan kesalahan.” Ucap Ethan, tingkat percaya dirinya terus bertambah untuk menaklukan Valerie. Pemuda ini tak akan lelah, sebelum pujaan hatinya mengungkapkan isi hati yang sangat dinantikan oleh Ethan.
__ADS_1
“Bukan Ethan, salah itu. Kamu salah dengar. Aku … aku.” Valerie kehabisan kata-kata untuk meralat kalimat lancangnya itu.
“Kamu juga cantik, sejak kecil selalu menarik perhatian. Bukan hanya fisik tapi dari hati juga. Makanya aku jatuh cinta sama kamu Vale Aku ingat masa-masa kita sekolah di taman kanak-kanak.” Dada Ethan berguncang, untuk kesekian kali menyampaikan perasaannya.
“M-makasih Ethan, umm … aku permisi dulu ya. Udah kenyang, mau tidur. Besok pagi kita harus pulang. Aku juga ada jadwal kuliah pagi.” Valerie kikuk, bisa-bisanya berkata jujur di depan Ethan.
“Selamat tidur sayang, besok aku antar ke kampus, ingat ya setiap hari harus berangkat bareng.” Ucap Ethan setengah berteriak, kemudian tertawa atas tingkah lucu dan menggemaskan kekasihnya itu.
“Vale, bodoh banget sih dasar.” Bagai memiliki kekuatan super, Valerie melesat cepat memasuki kamarnya.
Di dalam kamar pun, Valerie tidak langsung tidur. Melainkan membuka pintu balkon. Suhu terasa panas, “Semoga Ethan lupa. Aduh Valeri, ah masa iya sih aku suka beneran sama Ethan? Iya memang suka tapi kan …” lagi-lagi isi kepala Valerie terbawa pada kejadian di air terjun.
Alam bawah sadarnya memerintah jemari menyentuh bibir. Ingatan itu sangat nyata.
“Mungkin karena pertama kali jadi aku sedikit gila.” Umpatnya kepada diri sendiri.
Di kamar lain
Ethan berbaring tengkurap membuka ponsel, memutar beberapa video lama. Rekaman dirinya dan Valerie kecil sedang bermain bersama.
“Takdir kita memang harus bersatu Vale.” Ethan tersenyum, ditambah kalimat spontan kekasih hati beberapa menit yang lalu. “Sampai di titik ini gue anggap berhasil, bisa selangkah lebih maju dari Eberardo, sekarang perlu meningkatkan kewaspadaan. Valerie hanya milik Ethan, untuk Ethan bukan lelaki lain.” Tegas Ethan, mengepal kan kedua tangan
Hingga pukul satu dini hari, keduanya terus berguling di kamar masing-masing. Tidak bisa tidur, kedua kaki mereka ingin sekali melangkah keluar dan bibirnya sungguh gatal untuk memanggil nama pasangannya.
“I think I’m in love with you.” Gumam keduanya secara bersamaan dalam ruang terpisah.
Senyum merekah menghiasi di wajah Ethan
Kebingungan hinggap di dalam diri Valerie.
TBC
***
__ADS_1
dukungannya di tunggu ya kakak semua terima kasih 🙏