
Satu minggu pertama berumah tangga, adalah ujian kesabaran yang harus dilalui oleh Ethan. Dia bahkan langsung pisah ranjang dari istrinya. Suka atau tidak, Ethan terpaksa tidur di kamar saudara kembar Valerie.
Bukan hanya Theodore yang mengikatnya tetapi dua sepupu Valerie seakan betah tinggal di rumah luas ini. Pagi sampai siang mereka semua menghilang tak berjejak, tapi ketika surya tenggelam. Rumah mendadak ramai.
Ethan yang baru pulang dari kantor terpaksa menemani iparnya, membongkar motor di garasi. Padahal dia merindukan Valerie.
“Memang motor kamu kenapa lagi Theo? Bawa ke bengkel. Aku mengantuk, mau tidur. Kamu bisa minta tolong Kak Denver.” Ethan memijat kepala yang pusing.
Memendam rasa rindu yang sudah menggunung sangat menyakitkan sekali.
“Memang mau ke mana? Vale juga belum pulang. Dia di jemput Kak Denver.” Sahut iparnya sembari menggerakkan kunci ring ke sekrup.
“Hah belum pulang?” tentu saja Ethan kaget. Pasalnya sore tadi Valerie bilang mau pulang, sekarang pukul tujuh malam belum menginjakkan kaki.
Ethan mencoba menghubungi istrinya dan sayangnya tidak tersambung, sebagai suami sangat khawatir. Takut terjadi sesuatu dengan belahan jiwa.
Tidak lama kakak sepupu datang menggendong Valerie yang tidak sengaja tidur di dalam mobil. Mata Ethan terbelalak, walaupun sepupu tetap saja cemburu. Tidak boleh menyentuh Vale-nya berlebihan.
“Kak biar aku yang bawa Vale ke kamar!” tegas Ethan merebut istrinya secara paksa.
“Ok. Nih. Dia juga berat. Makan apaan sih istri kamu Ethan, badan kecil tapi berat.” Sepupu Ipar itu menggerutu, lalu menarik napas dalam, untuk mengganti oksigen yang sempat terbuang.
**
Ethan membaringkan Vale-nya di atas ranjang. Ditatap wajah manis, cantik, menggemaskan Valerie. Mengabsen seluruh permukaan kulit muka menggunakan tangan. Mencubit kecil bibir merah delima Valerie.
“Aku kangen kamu Valerie.” Ethan mencium kening. Tidak masalah kan mereka suami istri?
Tidak mau mengusik Valerie. Ethan perlahan turun dari kasur, menyambar handuk dan mandi. Tubuhnya lengket akibat seharian ini membantu Daddy Bobby menyelesaikan iklan produk salah satu klien penting.
Gemericik air shower cukup bising, suara pintu yang bergeser pun tidak terdengar. “Selesai juga. Besok harus pindah ke apartemen, gak enak juga terus-terusan di sini.” Menghela napas cukup panjang.
Ethan meraih handuk dan melingkarkan di pinggang, dia membuka partisi kaca. Lagi-lagi terkejut. Seorang wanita duduk di kloset, Valerie sedang buang air kecil. Tapi ada sesuatu yang salah.
Istrinya, Vale-nya membuka pakaian atas dan bawah. Sontak degup jantung Ethan tidak karuan, penampakan indah tersaji di depan mata.
__ADS_1
Valerie masih tidak menyadari tengah diperhatikan. Matanya saja tertutup tapi kedua tangan bergerak lincah, sudah hapal isi ruangan ini.
Bahkan wanita itu berdiri, membuka bra yang menutupi, melempar asal ke keranjang kosong. Tidak peduli pria yang berdiri di belakang menelan saliva berkali-kali.
Keindahan yang tertunda memantul dari cermin besar di depan. Kedua mata hazel masih terpejam. Kaki jenjang Valerie berputar 180 derajat. Kini semakin jelas tertangkap oleh mata Ethan.
Ketua D’Dragons tidak bisa berkutik, mematung dan terbakar, sesuatu di bawah sana berdiri tegak sempurna, menyembul dari balik kain handuk.
Ethan tetap setia memandangi Valerie yang keluar kamar mandi dalam keadaan dua mata tertutup. Degup jantungnya tak terkontrol. Dia ingat ketika kecil pernah berenang dan tidur bersama, tapi kali ini Valerie berbeda, sangat.
Didesak oleh g@-1r4h, Ethan mengikuti Valerie yang sibuk meraih piyama di dalam walk in closet. Tangannya terulur membantu Vale-nya.
“Sayang?” suara serak Ethan membangunkan Valerie.
“Oh kamu Ethan, kenapa ada di kamar aku?” tanya Valerie masih polos.
“Ini kan kamar aku.” Tunjuk ke sekeliling ruangan. Seketika membuka mata lalu melempar banyak pakaian ke arah suaminya.
“Ethan kamu mau apa? Ke-kenapa aku … aku gak pakai baju? Ethan kamu mesum. Daddy …” Teriak Valerie, menggelegar menusuk telinga.
“Kenapa teriak sih? Kamu lupa ya kita ini sudah menikah. Gemana sih sayang?” tegur Ethan dengan nada lemah lembut cenderung nakal. Satu tangannya saja mulai menelusuri kulit tubuh tanpa penutup.
“Kamu milik aku, ya bebas lah kita di sini mau apa juga. Bikin anak juga engga masalah.” Kata-kata Ethan sangat frontal.
Kemampuan bela diri Valerie seolah menghilang, terbang direnggut udara.
Harusnya dia memukul wajah Ethan yang sudah lancang mencolek dua aset berdampingan, yang selalu menggunakan penyangga.
“Kenapa badan aku lemas gini?” tanyanya dalam hati, diikuti tubuh yang gemetaran.
Sentuhan jemari tangan Ethan terus tidak terkendali, telapak tangannya saja mulai menguasai salah satu benda kebanggaan wanita.
Valerie cegukan, beberapa kali.
Sama halnya dengan Ethan, Valerie merasakan sesuatu yang teramat sangat mendesak dari dalam tubuh. Nyanyian merdu untuk pertama kali keluar dari bibirnya. Semakin menambah semangat seorang Ethan melakukan lebih.
__ADS_1
“T-ta-tapi a-aku b-be-belum s-siap. Bi-bisa ditunda E-Ethan s-sa-sayang?” Valerie tidak pernah membayangkan tubuhnya dijamah oleh sahabat kecil, sekarang statusnya berubah sebagai suami.
“Satu minggu aku tahan, aku mau malam ini boleh kan? Kita sudah sah sayang, jangan takut.” Bisik Ethan, tepat di telinga. Dengan nakalnya sengaja menghembuskan napas, lalu menggigit kecil daun telinga Valerie, membuat sang pemilik terkesiap.
“Hah?” mata Valerie terbuka lebar. Tapi suka atau tidak, siap atau tidak memang hak Ethan.
“Mau kan?” tanya Ethan, kini tangannya menelusuri kulit perut dan bermain di atas pusar.
“Aw … aduh sakit. Aku …” Valerie merasakan ngilu pada perut bawah, sesuatu keluar dari bagian inti. Sigap menyentuh area itu, “Darah?” gumam Valerie, mengingat bahwa dirinya bulan ini belum kedatangan tamu penting.
“Ethan maaf aku engga bisa. Maaf.” Sejujurnya sedih mengucapkan kata-kata penolakan, apalagi wajah Ethan berubah lesu, suram dan menyedihkan. Tapi dalam hati Valerie bersorak, dia memang belum siap melepas virgin-nya.
“Gagal lagi?” lirih Ethan melepaskan tangan dari dua aset indah milik sang istri. Menatap punggung polos Valerie yang berlari kecil memasuki kamar mandi.
Akhirnya dia berusaha mencari tahu periode menstruasi wanita melalui internet, mulutnya pun menganga membaca salah satu artikel bahwa hal itu berlangsung selama 7 sampai dengan 14 hari.
“Masa iya satu atau dua minggu lagi. Gini banget. Tapi mau gemana lagi, takdir memang.” Lirih Ethan mengusap dada agar diberi kesabaran seluas lautan di muka bumi.
Ethan yakin istrinya itu lupa tidak membawa piyama, bahkan pakaian dalamnya tergeletak begitu saja. Sebagai suami yang baik, dia mengantar baju ganti ke kamar mandi.
Tok … tok
“Vale sayang, kamu lupa ya engga bawa ganti? Buka dulu pintunya. Jangan kelamaan di kamar mandi nanti masuk angin.” Panggil Ethan penuh perhatian.
Pintu kamar mandi pun terbuka, kepala Valerie keluar dan menampakkan senyum. “Maaf Ethan tapi … umm … aku janji setelah selesai, kamu boleh melakukannya.” Ucap Valerie, kemudian menutup pintu sangat cepat akibat rasa malu.
Bibir Ethan mengukir senyum, dia tak sabar menanti hari itu tiba.
TBC
***
maaf ya kemaleman dan satu
lagi bolak balik RS soalnya 🙏
__ADS_1