
Sabtu malam, pertunangan Natasha dan David digelar pada salah satu hotel milik keluarga. Tamu yang diundang pun tidak banyak, cukup keluarga besar sudah mewakili, jumlah mereka pun memadati setengah ballroom.
Papi Daniel kesulitan membujuk Natasha yang mengunci diri di kamar mandi sejak satu jam yang lalu. Presidential Suite Room ini dipenuhi para sepupu yang berusaha menenangkan Natasha, tapi tidak berhasil. Termasuk Ethan dan Valerie, segala macam cara dari yang lembut hingga kasar digunakan.
“Aku nggak mau. Papi aja yang tunangan sama Kak David. Aku masih kecil Pih.” Teriak Natasha dari dalam kamar mandi.
“Papi masih normal sayang, mana mungkin …” jawab Papi Daniel menyandar pada pintu.
“Aku juga masih normal, aku mau kehidupan bebas bukan terkekang. Aku benci Papi dan Kak David.” Natasha meraung, melepas sandal dan melemparnya.
Waktu terus melaju, tersisa 30 menit sebelum pertunangan dimulai, Natasha masih enggan keluar kamar mandi. Akhirnya Papi Daniel menyerah, “Diwakilkan saja, tidak masalah kan?”
Bunda David menggeleng, ia ingin calon menantunya hadir, ibu satu anak ini masuk ke kamar, mencoba meraih simpatik Natasha. Mungkin bicara lemah lembut dari hati ke hati bisa mencairkan suasana.
“Nat, Natasha ini Bunda, keluar ya. Kita ngobrol.” Rayuan Bunda.
Natasha yang tidak pernah bisa menolak sikap lembut Bunda, terpaksa keluar dari persembunyian. Menunduk malu, karena sikapnya mengecewakan Bunda.
__ADS_1
“Maaf.” Cicit Natasha, meremas jemari yang berkeringat. “Aku nggak bisa Bun. Aku … umm …” Natasha ragu mengatakannya, khawatir menyinggung perasaan wanita paru baya yang begitu baik dan penyayang.
“Kamu belum yakin sama David? Begini sayang, kalian coba saling mengenal selama dua tahun ini. Bunda yakin dalam waktu yang cukup, bisa merubah pandangan.” Bunda membelai rambut panjang Natasha yang menjuntai menyentuh ranjang.
“Maksudnya Bun?” Natasha masih terlalu kecil memahami arti dari kalimat tertentu.
“Hahaha, bingung ya. Ya sudah kalau kamu bersedia menerima David, Bunda tunggu di ballroom, banyak keluarga kita, sepupu kamu, sepupu David dan teman Papi Daniel. Apapun keputusan Natasha, Bunda mendukung.” Mencium kening Natasha cukup lama, beberapa detik.
**
“Bagaimana? Gagal?” Papi Daniel dan Ayah David turut cemas.
Sedikit gerakan mengangkat bahu sudah menjadi jawaban bagi Papi Daniel. David yang melihatnya pun mendadak sakit hati. Lelaki itu juga bingung, bibir dan kepalanya menolak tetapi mengetahui sikap egois Natasha membuat dadanya sesak.
“Takdir gue memang jones.” Lirih David, matanya melirik pada pintu, hatinya melambungkan harapan agar pintu terbuka dan sosok gadis cantik, calon istrinya berjalan diantara hamparan bunga.
10 menit
__ADS_1
15 menit
Tepat di menit ke 20. Pintu utama terbuka, seorang gadis memasuki ballroom. Natasha tersenyum manis, seakan tidak terjadi sesuatu dan baik-baik saja.
“Maaf terlambat.” Ucapnya menatap satu per satu anggota keluarga.
“Nasehat Bunda benar, tidak ada salahnya mencoba mengenal Kak David. Dia juga engga kalah ganteng dari Kak Ethan, dipikir-pikir sikapnya cukup baik.” Natasha mengalihkan pandangan, memperhatikan David yang melihatnya tanpa berkedip.
Sesuai panduan Master of Ceremony (MC), David menuntun Natasha ke depan, tidak ada senyum atau percakapan diantara mereka. David kaku, setiap gerakan lamban dan membosankan.
Natasha tidak bisa berkata apa-apa ketika Bunda melekatkan kalung di lehernya. “Cincin menyusul ya sayang. Terima kasih karena Natasha berusaha menerima David.”
TBC
***
Jempolnya ditunggu ya kakak 😉
__ADS_1