
“Valerie, kamu mau menikah dengan Ethan?” tembak Daddy Dariel di luar prediksi. Pasalnya sekalipun Valerie tak pernah memikirkannya. Dia masih fokus kuliah dan mengejar mimpi, menikah muda rasanya hal aneh dan tidak akan mungkin dilakukan.
“Daddy bilang apa?” Valerie yang cerdas dan brilian mendadak super lemot, loading-nya sangat lama.
Mereka semua masih di dalam kamar rawat Ethan, ya Daddy Dariel jelas menolak tapi alangkah baiknya jika bertanya lebih dulu. Jika Valerie bersedia, maka berat hati pria itu pun melepas putri satu-satunya.
Daddy Bobby dan Mama Ayu tidak masalah, sebab di usia Ethan terbilang cukup mapan dari segi ekonomi. Tempat tinggal atas nama pribadi, penghasilan pun ada walaupun diperoleh dari e-sport serta deviden saham yang dia investasikan.
Ethan menatap cemas, jantung berdetak cepat, tak karuan. Menanti jawaban calon istri. Pemuda ini sangat berharap Valerie menjawab ‘Iya’.
“Ayo Vale, bilang iya.” Hati Ethan berteriak keras.
Para Ibu tertawa melihat tingkah Ethan yang meneguk air liurnya, tegang. Sama halnya dengan Daddy Bobby, mungkin dengan menikah, putranya ini bisa benar-benar berubah menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab. Apalagi Ethan sangat mencintai Valerie.
“Sayang, ayolah. Daddy tanya, kamu mau menikah dengan Ethan dalam waktu dekat? Dia melamar kamu. Bocah gila itu tidak sabaran menunggu lima sampai sepuluh tahun lagi.” Geram Dariel melirik Ethan.
Tentu saja mendengar kata lima atau sepuluh tahun mata Ethan membola, mana mungkin bisa menahan selama itu. Kalau sepuluh tahun artinya usia Ethan ketika menikah nanti 30 tahun, terlalu tua.
“Uncle … mana bisa selama itu.” Pekik Ethan, jantungnya seakan berhenti mendapat penolakan calon mertua.
“Vale jawab! Kamu mau kan?” kali ini Ethan menatap kekasihnya, di kedua bola mata sangat mengharapkan jawaban sesuai keinginan hati.
Valerie sendiri bingung, dia menatap Daddy Dariel yang melotot tajam, Mom Fredella tampak santai. Mama Ayu dan Daddy Bobby selalu tersenyum, serta Ethan mengiba.
“Menikah? Masih muda?” gumam Valerie, memikirkannya saja membuat geli. Segudang tanggung jawa istri tidak mudah. Dia masih harus kuliah, dan … bagaimana kalau hamil?
“Hamil?” kata hati Valerie, pikirannya melayang ke atas ranjang, memadu kasih dengan Ethan sahabat kecilnya. “No … tidak. Ini gila, mungkin Ethan sakit, kepalanya juga dipukul oleh Eberardo.” Batin Valerie bergejolak.
Dia ingin saudara kembarnya yang lebih dulu menikah. Sehingga memiliki kesempatan untuk menikmati dunia dan kasih sayang orangtua, tanpa berbagi dengan Theodore.
__ADS_1
Namun Valerie tidak tega menolak Ethan, ya sebagai mahkluk perasa, tentu saja mengutamakan hal itu di atas segalanya. Pasti Ethan malu dan tidak percaya diri jika ditolak.
“Katakan ya, sayang.” Suara Ethan dalam hati. Tidak bisa lagi menahan, Ethan berusaha mendekati pacarnya.
“Santai anak muda. Sepertinya sifat Bobby menurun kepadamu Ethan. Awas saja kau bocah, kalau menyakiti putriku.” Tukas Daddy Dariel masih menatap tajam, mengintimidasi.
“Yang mana?” Daddy Bobby merasa disebut namanya. Tentu saja Ethan memiliki sifatnya karena darah Daddy Bobby mengalir dalam tubuh Ethan.
“Casanova.” Celetuk Daddy Dariel sinis. Lalu melirik Mama Ayu yang mendadak menunduk, teringat dia pernah hamil di luar pernikahan.
“Aku tidak … Uncle Dariel boleh cari tahu. Aku bukan lelaki seperti itu. Ok, aku akui memang nakal tapi hanya balapan, berantem tidak gonta ganti pasangan. Aku serius.” Ethan membela dirinya. Seenaknya saja calon mertua mengatakan bahwa Ethan seorang ‘pemain’.
Ethan frustasi karena Valerie tidak juga menjawab pertanyaan itu, padahal jawabannya hanya butuh satu kata. Kenapa gadisnya lama sekali berpikir. Tidak tahukan Valerie kalau Ethan menanti?
“Valerie?” panggil Ethan, mengalihkan perhatian gadis itu yang masih tampak berpikir keras.
“Aku mau jawab, tapi mohon semuanya duduk, jangan menyela sebelum aku selesai.” Ujar Valerie berusaha tetap tenang. Bijak mengambil keputusan adalah hal terbaik saat ini.
Sudah pasti gadisnya itu bersedia. Ethan akan menunjukkan kepada Eberardo bahwa dialah pemenangnya.
“Uncle, Tante dan Ethan, aku juga minta maaf. Semua ini keputusanku.” Lanjut Valerie. Sekarang gantian, Daddy Dariel begitu puas melihat wajah pucat putra sahabatnya.
“Jangan senang dulu anak muda.” Daddy Dariel akan menghasut Valerie untuk menunda menerima Ethan. Dirinya belum siap tersaingi dengan bocah.
Melihat Ayahnya terus memojokkan Ethan, gadis itu mendengus sebal, diam memperhatikan semua wajah yang menunggu jawaban.
“Aku mau …” belum selesai Valerie menuntaskan kalimat. Perdebatan kedua orangtua sudah terjadi. Sama halnya dengan Ethan yang tak sabar memeluk calon istrinya.
“Tidak boleh.” Geram Dariel.
__ADS_1
“Biarkan saja, aku ingin segera menggendong cucu.” Daddy Bobby mengangkat bahu, dia yakin sahabatnya ketar ketir.
“WHAT? Aku tidak mau menjadi tua sebelum waktunya.” Daddy Dariel tak bisa membayangkan harus memiliki cucu dalam waktu dekat.
Valerie terus menggeleng kepala, para orangtua ini seakan berubah menjadi anak-anak dalam hitungan detik. Kenapa sama sekali tak mendengar instruksinya dengan baik?
Tanpa menunggu perdebatan diantara para Ayah selesai, Valerie menjawab, menyelesaikan kalimatnya dengan suara tegas dan lantang.
“Aku mau menikah setelah lulus kuliah. Syaratnya, Ethan harus lulus tahun depan dengan nilai terbaik. Kalau tidak, dia harus menunggu sampai aku lulus strata dua.” Jawab Valerie menghentikan adu argumen dalam ruangan rawat ini.
Daddy Dariel bersorak bahagia, sementara Ethan lemas mendengarnya. Artinya dia masih harus sabar dan berjuang.
Lulus dengan nilai terbaik bukan masalah, otaknya cerdas, yang jadi penghalang adalah kurang rajin, hingga para dosen tidak memberi nilai A kepadanya.
“Kalian dengar sendiri kan? Putriku ini menjawab apa. Ayo sayang kita pulang.” Daddy Dariel bangga kepada Valerie, jawaban yang sangat memuaskan.
“Tunggu! Ethan … patuhi janji kamu, engga ada lagi balapan, tawuran dan janji mendapat nilai terbaik. Setelah kamu lulus kuliah, tepat di hari wisuda aku mau jadi istri kamu, asalkan semua syarat itu gak dilanggar satupun, mulai hari ini.” Valerie serius tidak main-main. Dia yakin Ethan berubah menjadi lebih baik.
“Oh ya satu lagi. Kamu juga harus setia. Aku gak suka lelaki yang main hati. Kalau itu terjadi, semua yang kamu lakukan gugur, dan hubungan kita berakhir.” Kalimat terakhirnya ini menyesakkan dada. Mana mungkin Ethan bisa hidup tanpa pujaan hatinya.
“Ok . Aku terima syarat dari kamu. Jangan lupa Vale satu tahun lagi kita menikah. Kamu harus siap, dan aku engga mau menerima penolakan.” Balas Ethan, dia bersungguh-sungguh. Baginya ini keringanan, tidak harus menunggu lima sampai sepuluh tahun.
“Deal.” Keduanya berjabat tangan sambil mengangguk.
“Aku buktikan ke kamu Vale, kalau aku yang terbaik. Kamu engga boleh kembali bersama Eberardo.”
TBC
__ADS_1
***
sabar ya Ethan 😇