Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 68 Rayuan Buaya


__ADS_3

R & B Cafe


Hari ini selepas jam pulang kantor, Ethan dan Josh menyeret paksa David ke salah satu tongkrongan terkenal di ibu kota. Cafe milik Opa Rayden yang kini dikelola Denna, adik bungsu Daddy Dariel.


David pasrah dibawa ke manapun, hatinya masih terluka. Pertama kali jatuh cinta tapi nasibnya sangat sial. Untung saja tidak mendapatkan cap perebut istri orang,  kalau iya, nama besar keluarganya tercoreng.


Mantan wakil ketua D’Dragons dan Ketua BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) tidak menyangka tingkahnya berbuntut panjang. Tujuan utama menghilangkan kepedihan, tapi istri sahabatnya mengamuk, menuntut penjelasan.


David semakin lesu, letih, lemah, lunglai. “Enak banget sih ada yang perhatian, cemburu pula. Gue? Nasib jomblo akut.” Gumamnya, menatap perih dua pasang suami istri yang duduk di depannya.


Ethan dan Valerie tidak perlu diragukan lagi kebahagiaannya, tengah menanti calon buah hati. Kedua tangan bertautan, selalu memberi perhatian satu sama lain.


“Iri gue.” Lirih David, menoleh ke kanan, menatap diri pada pantulan kaca. “Kurang apa sih gue? Lumayan cakep, lumayan tajir, tapi … kurang beruntung.”


Sedangkan Josh dan Rebecca walaupun tidak menunjukkan kemesraan, kentara sekali jika Rebecca begitu menyayangi suaminya. “Jaga Rebecca, beruntung lo Josh.” Ucap David pelan.


“Silakan deh kalian mau tanya gue apa? Gue engga masalah.” Lemah David.


Helaan napas panjang terdengar dari bibir Valerie, mata hazelnya mulai menatap tajam, kedutan hidung dan bibir menunjukkan sekali jika Ibu hamil muda ini sedang menahan amarah. “Siapa yang punya ide nonton? Gala premiere lagi. Pergi sama siapa aja kalian?”


Mendengar hujaman Valerie, Ethan hanya mengelus dada, istrinya tidak akan bisa dikendalikan. Selama belum puas menemukan jawaban sesuai keinginan.


“Nah pasti ada cewek lain, iya kan? Gue nggak masalah kalau lo, tapi ini Josh. Bukannya gue cemburu sih, tapi gemana kalau ke gap sama orangtua kita? Masalah baru buat gue, paham kan?” samblung Rebecca, kompak satu suara dengan Valerie. Menghakimi para suami serta David.


GLEK


Ethan dan Josh kompak menelan air liur, saling memandangi, sebab dua perempuan cantik ratu hatinya dalam mode marah. Masih belum percaya, padahal bukti booking tiket terlampir, struk bioskop pun ada. Bahkan Ethan memohon kepada mertuanya untuk membantu mendapatkan rekam CCTV mall, satu gedung.


Bayangkan, semalam tidak tidur. Menghabiskan waktu memeriksa CCTV, dari mulai pinggir jalan hingga bioskop, basemen menjadi pusat perhatian Valerie.


“Sayang, jangan galak-galak, kasihan David! Kamu juga lagi hamil.” Peringatan Ethan, mengelus perut Valerie.

__ADS_1


“Beneran Vale, Becca. Gue jujur. Untuk apa bawa perempuan lain? Engga ada yang sepadan. Cewek lain juga minder setelah satu kalian. Maaf ya, semuanya karena gue patah hati.” David memasang wajah iba, sangat memprihatinkan. Tatapan matanya kosong, garis wajah lelah kurang tidur tercetak jelas.


David membuka mulut, mendongeng pacar pertamanya. Berkata jujur semua tidak ada yang ditutupi, menyerahkan bukti berupa video, mantan pacarnya di jemput suami. Kesaksian sejumlah orang yang mengetahui hubungan mantan kekasihnya pun, David rekam.


Valerie dan Rebecca kompak memperhatikan David, “Kasihan juga lo.”


“Makanya cari cewek yang bener, kenapa harus istri orang?” kini Valerie menggerutu, tapi ekor matanya melirik Ethan. “Awas ya kamu kalau cari masalah, aku gak mau kasih maaf.”


“Maaf ya Vale, Becca. Lain waktu gue ajak kalian berdua bukan Ethan atau Josh.” David memang kehilangan akal tidak menyangka bibir lancangnya menjadi boomerang.


“Enak banget lo, seara terang-terangan dating sama bini sahabat sendiri.” Seru Ethan, tidak terima Vale-nya pergi dengan pria lain.


Tidak cukup dengan kemarahan Ethan. Josh menoyor kepala David cukup keras, “Makanya lo jangan sembarangan ngomong. Udah lah gue duluan ya, ada perlu.” Josh menarik tangan istrinya, keluar dari cafe.


**


Rebecca dan Josh tiba di apartemen, sepanjang jalan hanya Josh yang bersuara. Mengoceh segala macam, mulai dari hal kecil dan receh hingga keinginannya menjadi suami seutuhnya bagi Rebecca.


Kening Josh mengerut, kebingungan dan menerka. Masalahnya terakhir mereka terlibat percakapan di basemen. “Maksud kamu? Ngomong yang jelas dong sayang!”


Merasa malu dan gugup, lidah Rebecca kelu, keringat dingin merambat ke sekujur tubuh. Dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Setelah kejadian di cafe, benar-benar menyadari jika suaminya, mantan playboy telah berubah.


“Ehem … katanya mau jadi suami sempurna.” Cicit Rebecca menahan malu, kepalanya menunduk, menyembunyikan rona merah yang menghias wajah.


Jujur saja, lama tak menyentuh wanita. Josh mendadak bod-0h, kurang peka. “Eh … kenapa menunduk? Kamu kejatuhan barang? Aku bantu cari ya sayang.” Suara merdu mantan buaya.


Josh mendekat, mengamati karpet, berusaha menemukan sesuatu yang dicari istirnya. “Barangnya apa sayang? Nggak ada.”


Rupanya ini hanya strategi Josh, agar bisa melihat muka cantik yang sedang menahan sesuatu. Rebecca begitu memesona, lebih dari sebelumnya. Josh mendongak, mendapati sang istri tengah kikuk setengah mati.


Josh mengulas senyum semanis madu, pelan-pelan berdiri, merangkum pipi panas istrinya. “Kamu mau? Kalau belum siap, santai saja. Aku setia menunggu.”

__ADS_1


Lagi-lagi kata-kata bijak keluar mulus, sebagai umpan bagi mangsa, tujuan utamanya agar Rebecca merasakan simpatik dan menaruh kepercayaan. Bahwa Josh adalah pria penyabar, berbeda dari sebelumnya yang selalu menginginkan sentuhan wanita.


Dan


Berhasil


Rebecca mengangguk malu, mengizinkan sesuatu yang seharusnya dia berikan untuk Josh beberapa bulan lalu.


“Makasih, aku janji engga akan sakit.” Bisik pejantan bersama Josh. Bahkan si dia sudah siap memasuki sarangnya, berdiri sempurna.


“Ke kamar yuk.” Josh sabar membimbing Rebecca, tahu ini pertama kali. Mengikis rasa canggung dan tidak nyaman. Sebagai pakar wanita, tentu saja mudah bagi Josh membangkitkan n*f** sang istri. Menyentuh titik sensitif penuh kelembutan.


Mulanya Rebecca malu mend3s@-h, tapi sikap Josh yang hangat sanggup meruntuhkan rasa gugupnya. Mereka berdua sama-sama terbuai dan menginginkan satu sama lain.


“Boleh ya di mulai sekarang?” tanya Josh, bagaimanapun izin dari sang pemilik tubuh nomor satu. Suara


“Janji pelan.” Rebecca sangat kecil, nyaris tidak terdengar. Matanya membelalak melihat benda tumpul kebanggan pria pertama kali, seketika dia merengut, lalu menggeleng. “Takut gak masuk, punya kamu besar dan panja**.”


Gairah yang sudah di ujung kepala terpaksa tertunda, Josh harus menjelaskan pelan-pelan demi mendapat situasi kondusif. “Tenang sayang. Aku yakin bikin kamu ketagihan dan melayang. Jangan cemas.”


Josh tidak langsung memposisikan diri, lebih dulu mencium Rebecca hingga terbuai dan tak tertahankan lagi. Semakin membanjiri jalan sempit untuk memudahkan tamu spesial dan satu-satu mengunjungi tempat teristimewa.


“Kita mulai, sekarang giliran aku.”Josh mengambil ancang-ancang. Melesak cepat, sembari merasakan miliknya terjepit sesuatu.


“Sa-sakit Josh.” Tangis Rebecca pecah.  


TBC


***


Josh 🤗

__ADS_1


__ADS_2