
Semakin hari kepala Ethan rasanya bertambah besar seperti balon yang sedang ditiup, siap meledak kapanpun. Pelaku utamanya Valerie, selalu mengoceh tidak jelas, menginginkan sesuatu yang sebenarnya mudah tapi terasa rumit.
Keduanya tampak akur dan romantis dihadapan banyak orang, tetapi di rumah saling menjaga jarak. Bicara seperlunya, tidak ada kata-kata sayang lagi yang keluar dari bibir Valerie. Hanya menggerutu setiap kali bertemu suami.
“Ethan? Kamu ganti merek selesai kacang?” tanya Valerie membuka lemari persediaan.
Ethan menganggukkan kepala, menurut pria ini bukan masalah besar, selama kelezatannya sama tetapi membawa musibah tersendiri. Memancing emosi Valerie semakin meledak.
“Kenapa bukan yang biasa? Aku kan bilang engga suka kalau merek lain, bau.” Bibir Valerie maju beberapa senti, terlihat lucu memang. Tapi sedetik berikutnya mampu membuat perut keroncongan.
“Kamu aja yang bikin sarapan, aku engga mau. Mending berangkat kerja.” Ketus Valerie, berjalan keluar rumah sembari membawa satu bungkus roti tawar di tangannya.
Ethan melongo tidak percaya, lagi-lagi kejadian pagi yang sial ini harus menimpanya. “Sayang tunggu, aku minta dua lembar aja, untuk sarapan.” Teriak Ethan.
Bukannya berhenti atau berbagi, Valerie mempercepat langkah kakinya. Dirinya pun tidak tahu kenapa belakangan ini sangat membenci suaminya. Ethan adalah mahkluk paling menyebalkan di muka bumi.
“Aku sarapan apa sayang? Tega banget.” Ethan menelan saliva melihat kendaraan sang istri menjauh.
Akhirnya pria ini memilih pergi ke rumah Daddy Bobby, sekalian menjenguk Mama Ayu yang sedang sakit. Karena jarak tempat tinggal yang tidak terlalu jauh, memudahkan Ethan mengunjungi orangtua atau mertuanya.
“Ah mungkin Mama tahu, kenapa sikap perempuan berubah galak begitu. Kemarin aku lupa tanya karena Valerie menempel sama Mama.” Ethan memutar setirnya, memasuki gerbang rumah kedua orangtua.
Keluar dari mobil, sejenak menghirup udara segar dari pepohonan, harum pohon pinus menyeruak ke dalam hidung.
__ADS_1
“Ethan? Kamu tumben ke sini pagi-pagi, ada apa?” kebetulan Mama Ayu baru selesai olahraga ringan di teras rumah.
“Ah mau sarapan masakan Mama, boleh kan? Mama sudah sehat?” Ethan memeluk, merangkul ibunya.
“Kenapa jadi manja? Lucu banget kamu, jangan-jangan mengidam ya?” Mama Ayu mencubit lengan putranya.
“Ngidam apa Ma? Vale belum hamil.” Ethan tersenyum, hatinya berharap kenyataan, karena sudah dua bulan ini tidak menggunakan alat kontrasepsi.
Mama Ayu memasak nasi goreng kesukaan Ethan. Ibu satu anak ini menggelengkan kepala karena putranya makan seperti orang kesetanan. Piringnya bersih dan licin tidak ada satu bulir nasi tersisa.
“Mah? Aku mau tanya. Ini lebih personal karena kehidupan pribadi. Di awal pernikahan mungkin dua tahun setelahnya, bagaimana perasaan Mama terhadap Daddy?” Ethan menyelidiki, apakah setiap wanita memang memiliki siklus serupa.
“Umm … kami memiliki kehidupan yang rumit sejak hari pertama menikah. Berbeda dari kamu dan Valerie. Ada apa?” Mama Ayu yakin ada yang tidak beres pada pernikahan putranya.
“Aku takut kalau rasa cinta Valerie berkurang. Tiga minggu ini sikapnya aneh mah, selalu mengomel, marah karena masalah kecil. Berdebat pun percuma, mendadak menangis.” Keluh Ethan, menghela napas.
Mama Ayu tertawa mendengar penuturan anaknya, Ethan benar-benar tidak tahu jika Valerie berubah bukan keinginannya, melainkan ada sesuatu yang memaksa bersikap seperti itu.
“Apa Mama boleh memberi saran?” Mama Ayu menyesap teh bunga telang.
“Tentu Mah, apa?” Ethan yakin sesama wanita pasti mengerti apa yang dirasakan wanita lain.
“Kamu bawa Valerie ke dokter kandungan, di sana ada jawabannya.” Mama Ayu mengedip sebelah mata, semakin menambah pusing Ethan Adrian.
__ADS_1
“Percuma tanya ke Mamah. Vale engga sakit, mana mau diajak ke rumah sakit.” Ethan menghela napas.
**
Di sisi lain, Josh dan Rebecca tengah berselisih paham. Pasangan itu bertengkar karena masalah sepele. Iya, Josh merasa berhak atas Rebecca apalagi hanya tidur satu ranjang, bukan masalah besar kan?
Namun yang terjadi pagi ini, mendengar suara melengking khas Rebecca. Sialnya lagi, Josh jatuh dari atas ranjang karena ditendang oleh istrinya.
“Lo mesum.” Kata Rebecca menunjuk batang hidung Josh.
Josh akui memang dirinya mesum dan mantan casanova, tapi tidak pernah menerima perlakuan kasar dari para mantan kekasihnya. “Lo brutal, eh maksudnya kamu. Kenapa sih teriak? Ini masih pagi.”
“Lo tidur di samping gue, jelas aja gue teriak. Kenapa engga di kamar lain?” Rebecca melindungi diri sendiri, meraih bantal dan guling, siap memukul suaminya bila diperlukan.
“Memangnya kenapa sih? Bukan masalah kan? Kita suami istri. Aku kedinginan kalau tidur di kamar sebelah, maunya sama kamu.” Josh mulai melancarkan tatapan penuh pesona, kedua kaki bergerak mendekati wanita galak ini.
“Ya jelas salah. Eh m-mau apa lo? Jaga jarak!” Rebecca melemparkan guling dan bantal ke muka Josh.
Josh mencengkram tangan Rebecca di depan dada, mendorong hingga tubuh keduanya mendarat di atas ranjang. “Kalau aku bilangnya mau kamu, gemana? Ini udah terlalu lama Becca. Coba dulu sekali, aku yakin kamu ketagihan.”
Josh memang nakal dan tak tahan lagi, membenamkan bibirnya cukup kuat. Memberi gigitan kecil pada bibir Rebecca yang sensual.
TBC
__ADS_1
***
Semangat Becca jangan mau sama Josh💪