Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
BAB 70 Lebih Cepat Dari Jadwal


__ADS_3

Beberapa bulan telah dilewati, penuh drama dan tawa. Seorang perempuan cantik berperut besar tengah duduk bersantai di halaman rumah.


Valerie mulai kesulitan mengatur napas, badannya semakin membesar, kaki dan pipi membengkak, dua bulan belakangan tidak pernah tidur nyenyak. Jadwal persalinan sudah ditetapkan dua minggu lagi.


Banyak alasan menjadi pertimbangan, lantaran Valerie ketakutan harus merasakan sakit melewati proses pembukaan yang berjalan selama lebih dari satu jam. Baginya lebih baik berada di bawah pengaruh obat bius daripada menjerit tidak karuan, metode sectio pun dipilih.


Sebagai suami, Ethan patuh, semua kembali pada kenyamanan istrinya. Biaya persalinan yang mencapai ratusan juta telah disiapkan, rumah sakit terbaik, para dokter pilihan, ruangan ternyaman serta obat- obatan penunjang masa pemulihan disiapkan.


Sepasang suami istri itu menunggu kelahiran bayi mereka. Menurut dokter, kembar tidak identik, jenis kelamin masih menjadi rahasia. Valerie dan Ethan enggan mencari tahu.


“Kamu kenapa sayang?” Mom Fredella mengamati wajah Vale yang muram dan lemas. “Kalau badannya sakit, jangan ditutupi, Mom nggak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan kedua cucu Mommy.” Mom Fredella menghapus keringat kecil yang menjalar di kening Valerie.


“Iya sayang. Mama dan Mommy sengaja menemani kamu di sini, selagi Ethan kerja kamu tanggung jawab kami berdua.” Mama Ayu menjawab, menunjuk diri sendiri dan besannya.


Valerie menelan ludah dengan terpaksa, sungguh dia tidak mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Bingung, begitu pegal dari pinggang, dan sedikit ngilu pada perut bawah. Kedua pangkal pahanya sulit bergerak barang sedikitpun.


Namun Valerie menggelengkan kepala, seraya tersenyum, menampik rasa tak nyamannya. “Aku nggak apa-apa kok.”


Valerie melirik ponsel, memeriksa notifikasi, sama sekali tidak ada kabar dari suaminya. Wanita hamil besar ini sebal, lantaran Ethan sejak pagi menghilang. Alasannya meeting mendadak, padahal waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.


Mama Ayu tersenyum simpul, memiliki menantu masih muda, emosi meledak-ledak dipicu hormon yang belum stabil. Ayu mengerti perasaan Valerie, menunggu suami memberi kabar sangat melelahkan. Apalagi Ethan tengah sibuk menangani mega proyek, syuting iklan melibatkan Miss World sebagai bintang utama.


“Sabar ya sayang.” Tiga kata keluar dari bibir Mama Ayu, mengelus punggung menantu cantik nan baik hati.


“Iya ma, Ethan nyebelin banget. Aku ke kamar dulu ya Mam, Mom. Ngantuk mau tidur, kaki aku juga pegal.” Menunjuk kedua betis yang membengkak.


Valerie malah memasuki kamar tamu di lantai satu, dengan kondisi tubuh seperti ini tidak memungkinkan melewati setiap anak tangga menuju kamar utama di lantai dua.

__ADS_1


“Aku capek. Ini kenapa ya sakit nggak jelas banget. Masa mau buang air? Kan tadi pagi sudah.” Valerie mengeluh, mengusap punggungnya yang kian panas.


Baru saja memasuki kamar mandi, membuka kain segitiga khusus ibu hamil. Dirinya terkejut ada bercak merah muda serta cairan menempel di kedua paha. “Apaan nih? Masa ngompol.”


Valerie kebingungan, keningnya mengerut. Sungguh dia awam seputar kehamilan apalagi tanda-tanda melahirkan.


Benar-benar dihindari sebab ketakutan lebih dulu singgah. Demi menjaga kenyamanan dan keamanan hati serta pikiran, Vale menjauh dari banyaknya mitos dan fakta.


Mendadak panik melihat setitik darah, bahkan kesulitan bernapas. Valerie menangis, khawatir terjadi sesuatu dengan dua bayinya.


Peluh pun semakin membanjiri seluruh tubuh, cairan yang keluar dari bagian inti kewanit@4-n bertambah banyak.


Dengan langkah gontai, gemetar bukan main, Vale memanggil dua ibu dari ambang pintu kamar tamu. “Mommy, Mama? Mom? Ma? Aku berdarah.” Jeritannya mengundang semua pekerja menghampiri. Mama Ayu dan Mom Fredella segera berlari menghampiri sumber suara.


Tanpa banyak bicara serta pertanyaan, Mama Ayu dan Mom Fredella kompak memapah Valerie keluar rumah. “Siapkan mobil Pak. Kita ke rumah sakit sekarang!” perintah Mom Fredella.


“Sayang pelan-pelan, kamu pasti bisa, ayo Mama bantu.” Mama Ayu menahan agar menantunya tidak terjatuh. Menahan beban tubuh Valerie sangat berat, sebab tidak ada keinginan dari wanita hamil itu untuk bergerak.


“S-sa-sakit Ma. Aku nggak kuat. Hiks, sakit banget Ma.” Valerie kecewa, pada akhirnya harus merasakan sakit luar biasa menjelang melahirkan.


**


Dalam perjalanan ke rumah sakit. Bibir pucatnya tidak henti meracau dan memaki Ethan. Menyalahkan pria itu karena telah menghamilinya. Sampai Mom Fredella membekap mulut bawel Valerie.


“Keterlaluan kamu Ethan, huhu. Sakitnya aku sendiri yang nanggung. Curang.” Valerie menangis terus menerus, kedua tangan meremas kain baju Mama Ayu dan Mom Fredella.


“Vale, simpan tenaga kamu untuk nanti. Jangan marah-marah nggak berguna. Tahan suara kamu ya.” Mom Fredella mulai kelelahan menangani putrinya yang tak henti mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Semua nasehat Mom Fredella dianggap angin lalu oleh Valerie. Dia mencoba diam, tetap saja sakit, malah terus bertambah tidak bisa dikendalikan. Cara satu-satunya dengan meluapkan dan membuang rasa sakit dengan mengomel.


“S-sakit Ma, nggak kuat banget. Perut aku ada yang dorong dari dalam, huh huh huh. Mau buang air.” Ucap Valerie, membuka paha lebar-lebar.


“Eh jangan sayang ini di mobil kamu tahan, sebaiknya kita cari klinik terdekat. Jalanan juga macet, nggak bisa cepat sampai di GB Hospital.” Mama Ayu ikut meringis melihat menantunya kesakitan.


Mom Fredella setuju, lebih baik mendapat penanganan medis di klinik terdekat, daripada menunda waktu. “Mom setuju. Pak, di depan ada rumah bidan, kita berhenti di sana.”


“Hah? Aku … aku takut Mom, Mama nggak mau. Takut Mom.” Teriak Valerie, bersikukuh pada proses yang telah disepakati.


“Nggak bisa sayang, keselamatan kamu lebih penting. Lihat ke depan, akses jalan ke rumah sakit padat merayap.” Seru Mom Fredella.


Akhirnya, Valerie pasrah. Menanti proses melahirkan normal. Bidan bilang pembukaan jalan lahir sudah enam senti, tinggal menunggu beberapa jam lagi bayinya lahir.


Sedangkan Ethan sukar dihubungi. Termasuk Daddy Bobby, kompak menghilang dari radar. Hanya Daddy Dariel yang terlihat batang hidungnya.


“Ethan mana Ma?” Vale meringis sekaligus sebal. Dia iri, karena dua wanita lain didampingi pasangan.


“Valerie sayang. Di sini ada Mama dan Mommy kamu, jangan cemas. Ethan masih di jalan.” Tukas Mama Ayu telah memerintahkan sopir menjemput Ethan.


Tidak mendengar jawaban Mama Ayu, Valerie lebih fokus pada rasa sakit yang semakin menjadi. Bertambah setiap menitnya, meremukkan tulang-tulang rangka.


Sedangkan Daddy Dariel dan Mom Fredella beradu pendapat. Daddy Dariel ingin membawa putrinya ke rumah sakit, tempat praktik bidan yang kecil dianggap tidak memberi kenyamanan, ditambah banyak orang, menimbulkan suara bising.


Mom Fredella mengutamakan cucunya lahir, tidak mau mengambil resiko dalam perjalanan. Bisa saja Valerie melahirkan di mobil, atau tidak mendapat pertolongan, semakin membahayakan.


Teras rumah bidan, menjadi saksi bisu sepasang suami istri yang saling mencintai bertengkar, menyambut kelahiran cucu pertama dan kedua. Daddy Dariel keras kepala, Mom Fredella enggan mengalah demi kebaikan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2