Tawanan Cinta Ketua Gangster

Tawanan Cinta Ketua Gangster
Bab 72 Need You


__ADS_3

“Maaf”


Satu kata yang keluar dari bibir Ethan. Selesai mengerjakan tugas magangnya, Ethan bergegas pulang ke rumah mertua. Missed call dan belasan pesan dari istri menambah beban pikiran seorang Ethan Adrian.


BRUK


Sekarang, Valerie melempar bantal dan selimut, tidak mengizinkan suaminya masuk kamar. Apalagi berbaring di atas ranjang, tidak.


“Buka sayang pintunya. Malu sayang, Daddy dan Mommy pasti heran menantunya tidurnya di luar, nggak apa-apa di sofa atau lantai, buka ya!” lemah lembutnya suara Ethan yang kelelahan, mengerahkan tenaga fisik serta pikiran selama seharian penuh.


KLEK


“Hmmm masuk, jangan dekat anak-anak. Kamu tidur di lantai.” Sengit Valerie dengan mata sembab dan memerah, seperti baru saja menyusut air mata.


“Eh kamu nangis? Maaf. Aku ….” Ucap Ethan terpotong Valerie yang lebih dulu menjawabnya.


“Maaf, aku sibuk banget, pekerjaan numpuk.” Mencibir suami, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. “Alasan kadaluarsa, nggak mutu banget.”


Demi tercipta suasana sedikit kondusif, Ethan memiliki stok kesabaran sedalam palung Mariana. Kata-kata Mom Fredella dan Mama Ayu terngiang-ngiang, bahwa perubahan hormonal seorang ibu pasca melahirkan begitu kuat. Valerie yang memang belum stabil tidak bisa menguasai diri.


Ethan membersihkan dirinya, tidak banyak bicara dan menuntut. Menggelar selimut sebagai alas tidur di atas karpet bulu tebal, duduk menatap pujaan hati yang sedang mangASIhi buah cinta.


Ethan yakin Vale-nya membutuhkan bantuan, walaupun rasa kantuk menyerang sekuat tenaga ditahan demi istri tercinta.


“Aduh … sakit. Pelan-pelan Dara, Mora. Kalau masih begini Mommy menyerah.” Valerie melepas gendongan dua buah hati. Sehingga tangisan Gamora dan Adhara memenuhi seisi ruangan.


“Anak Daddy kenapa?” Ethan meraih satu anaknya, melirik Valerie yang mengipas puncak kedua aset sumber nutrisi. “Kasihan Mommy, putri Daddy harus pintar ya, sayang sama Mommy kan?”


Upaya menenangkan Adhara berhasil, bayi kecil ini terlelap tanpa menyusu sama sekali. Terlalu nyaman dalam buaian Ethan Adrian. “Good, sekarang Gamora bobo ya.”


Valerie mendelik tajam ketika Ethan curi-curi kesempatan memandangi benda kebanggaan yang terbuka lebar. “Apa lihat-lihat? Nggak boleh.”

__ADS_1


“Iya sayang, tenang aja. Selama dua tahun ini aku nggak menyentuh itu, untuk anak-anak aja.” Jawab Ethan seraya mengusap pelan punggung Gamora, menciumi kepala dengan rambut tipis berwarna coklat.


Ethan yang kelelahan tidak diam saja, dia mendekat dan membuka laci khusus persediaan kebutuhan ibu dan bayi. Membawa sesuatu di tangan. “Aku bantu, aku udah cuci tangan. Tenang aja.” Ucapnya sedatar mungkin, padahal jantung berdebar tidak karuan.


“Heh, mau ngapain? Kamu kan janji engga akan sentuh aku. Menjauh, sekarang!” sentak Valerie yang dilanda tanda-tanda baby blues.


Tidak peduli akan penolakan dan semacamnya, Ethan membuka penutup tube. Mengoleskan salep khusus anti peradangan di kedua puncak yang lecet. “Selesai. Kamu tidur ya. Besok Josh, Becca dan David ke sini.”


Valerie terpekur karena suami menyebalkannya membantu mengobati bagian tubuh yang menggembung, akibat belum terbiasa dihi-s-4p bayi.


Memandangi punggung Ethan yang naik turun, tanda terlelap dalam tidur. Mendadak setitik rasa bersalah menggelayut, kepalanya penuh pertanyaan mengapa bisa membenci suami sendiri. Padahal Ethan sudah jelas memberikan road map pekerjaan, demi menduduki posisi pimpinan utama Running Creative Media.


“Semua yang dilakukan demi aku dan anak-anak. Tapi … aku …. Ethan lebih mementingkan pekerjaannya daripada aku.” Valerie menangis, sesenggukan tengah malam. Mengusik tidur buah hati yang selalu terjaga mulai pukul satu dini hari.


“Aku ngatuk, mau tidur.” Kata Valerie semakin terisak.


“Eh sayang. Sebantar aku bantu.” Ethan sigap menggapai bahu istri, menenangkan Valerie, yang tidak berbuat apapun untuk meredakan tangis dua putrinya.


Pintu kamar terbuka lebar, Mom Fredela dan satu orang asisten rumah mengambil alih menenangkan bayi, membawanya keluar kamar. Memberi waktu Ethan dan Valerie.


“Aku maunya kamu jangan ngilang terus. Sesibuk apapun, pasti ada waktu beberapa menit, wajib kirim pesan, wajib calling.” Keinginan Valerie sekaligus perintah memaksa.


“Iya sayang iya, maaf ya. Aku janji, mulai senin. Punya waktu khusus untuk kamu. Maaf ya sayang.” Ethan menghirup dalam puncak kepala Vale-nya, membelai sepanjang tulang puunggung.


**


Akhir pekan berwarna, ramai dan rusuh, penuh canda tawa. Mantan anggota D’Dragons serta anggota baru menyempatkan diri, mengunjungi Baby Gamora dan Adhara.


Josh dan Rebecca kompak memberikan bingkisan besar, keduanya sangat ingin memiliki anak, tapi sayang satu bulan yang lalu, Rebecca baru saja mengalami kuretase.


“Lucu banget, mau pinjam satu aja. Boleh kan?” Josh memang pria yang paling siap memiliki anak, tidak canggung lagi menggendong bayi.

__ADS_1


“Bikin lah sendiri.” Sahut David, wajah menekuk sempurna dan lesu. Alsannya simple, hanya David satu-satunya pria yang tidak memiliki pasangan. Semua rekannya membawa kekasih atau istri.


“Udah, setiap hari malah. Sehari tiga kali, iya kan sayang?” Josh mengerling nakal kepada Rebecca yang duduk bersama Valerie.


“Ish, bibirnya engga bisa dijaga.” Ketus Rebecca membalas tatapan tajam.


Suasana semakin riuh, ketika memasuki makan siang. Taman samping rumah dipenuhi tawa, termasuk Ethan yang reuni, duduk di di atas rumput berlapis karpet.


“Kapan nambah lagi sob? Berbagi resepnya. Kemaren dokter bilang, Becca kelelahan, kandungannya juga nggak kuat. Terpaksa harus keluar, pendarahan.” Josh menghela napas, gagal menjadi ayah.


“Dua aja cukup. Gue kasihan lihat istri melahirkan. Kesakitan bro, belum lagi proses menyusui dan begadang. Jujur gue trauma.” Ungkap Ethan, menunjuk wajah yang kekurangan tidur.


David tergelak, antara beruntung dan sial hidupnya. Di saat teman yang lain mengeluh rumah tangga, David masih tetap ceria tanpa beban. “Haha … artinya gue paling beruntung nih.”


PLAK


PLAK


“Sakit bro, ini kepala bukan samsak. Awas aja kalau gue amnesia, melupakan kenangan indah para mantan.” Guraunya mengusap kepala yang sebenarnya tidak sakit.


“Ck jones lo, berlebihan banget. Udahlah sabar aja pasti Ayah atau Bunda lo sebentar lagi bawa anak gadis pulang, pasrah aja Vid, dijodohin.” Josh mengangkat kedua bahu.


Memang benar, di kalangan anak pengusaha atau pejabat, jodoh berada di tangan kedua orangtua sudah pasti, kecuali bisa mencari pasangan yang sepadan lalu diterima dengan baik oleh keluarga besar. Namun semua itu hal langka, dari 100 kasus hanya dua atau tiga yang berjalan mulus.


“Gak asyik lo pada. Mending gue makan cemilan aja di meja sana bareng istri-istri muda.” David menyingkir sembari cemberut, menghampiri Valerie dan Rebecca serta istri rekannya yang lain.


BRUK


“Aduh ini badan apa baja sih, sakit bener.” David kesakitan, bokongnya perih membentur tanah.


“Aw, siapa sih jalan nggak pakai mata.” Sentak seorang gadis cantik bersamaan.

__ADS_1


“Kamu kan?” ucap keduanya saling menunjuk satu sama lain.


TBC


__ADS_2