
Ethan, Valerie dan kedua kakak tiba di tingkat empat air terjun, semakin ke atas sepi, karena pengunjung sudah kelelahan. Mereka pun mengambil banyak swafoto, serta menyantap makan siang, bekal dari villa.
Dua kakak sepupu tidak melanjutkan perjalanan memilih berenang di tingkat empat. Serta lompat tebing beberapa kali, membuat Ethan tertawa puas karena mendengar nasihat Valerie panjang lebar, bahwa kakak itu harus hati-hati.
Mengusir kejenuhan, Valerie mengajak kekasihnya untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini jalan kaki, 500 meter menuju air terjun tingkat lima. Sepi, sunyi tidak ada siapapun kecuali kicau burung dan hembusan angin.
Airnya pun sangat jernih dan bebatuan di dalamnya bisa terlihat dengan mudah.
“Wah bagus banget, kenapa Kak Denver dan Kak Zac engga kesini ya? lebih indah di sini, iya kan Ethan?” menepuk bahu kekasihnya cukup kuat, nyaris saja Ethan terpeleset dan jatuh ke dalam air.
“Vale kalau udah makan, tenaganya penuh lagi. Punya pacar power-nya setara wonder women.” Oceh Ethan dalam hati.
“Iya sayang, dingin juga airnya. Udaranya sejuk banget bikin kepala ringan dan gak mikir tugas.” Gurau Ethan memerhatikan sekitarnya, membelakangi Valerie.
Ketika tubuhnya berputar, Ethan terperanjat. Degup jantungnya semakin kacau. “Kenapa jadi begini?” kata hatinya. Lantaran, Ethan melihat Valerie sudah terjun ke dalam air. Berenang lincah bagai ikan.
Gadis itu membuka celana panjang, kemeja dan jaketnya. Menyisakan kaos putih serta celana pendek.
Valerie muncul dari dalam air, berkata, “Ethan sini. Airnya segar banget.” Melambaikan tangan ke arah kekasihnya.
Ethan bergeming, pandanganya tertuju pada pemandangan yang tercetak jelas di tubuh itu, membetuk lekukan yang sempurna.
“Vale kenapa berenang? Bajunya juga dibuka lagi.” Keluh Ethan, kembali dibuat panas dingin.
“Engga mau Vale, takut masuk angin.” Teriak Ethan. Lebih baik menahan diri dan menjaga Vale-nya di pinggiran.
“Masa ketua gangster takut masuk angin, aneh kamu. Ketemu angin malam berani tapi masuk ke dalam air kaya gini gak suka. Huuuu Ethan.” Ledek Valerie tertawa puas lalu kembali berenang memutari kolam.
Karena terbakar emosi, Ethan menerima tantangan gadisnya, melepas pakaian, menyisakan celana bokser hitam bergambar salah satu super hero.
Hal ini tentu saja mengundang tawa Valerie, tidak menyangka seorang ketua yang disegani menyimpan sesuatu yang lucu di balik celananya.
“Lucu banget sih kamu Ethan. Lain waktu pakai tokoh kartun ya.” pancing Valerie masih terus tertawa di tengah genangan air.
“Vale jangan gitu. Kalau ada yang dengar kan malu. Untung David, Josh, Erlangga, Indra dan Sam gak ada di sini, bisa hilang harga diri gue.” Ethan membatin.
Membalas rasa kesalnya, lelaki ini menampung air menggunakan kedua tangan. Melemparnya ke Valerie yang terus tertawa.
__ADS_1
“Eh ... eh akh.” Valerie memekik karena terpeleset, tidak fokus menginjak batu yang licin.
Secepat mungkin Ethan berlari dan menolong kekasihnya, menahan punggung serta pinggang Valerie. “Kamu gak apa-apa?” tanya Ethan khawatir.
“Makasih Ethan, maaf ya. Hukuman nih udah meledek kamu.” Kata Valerie menyesali perbuatannya.
“Iya sayang. Jangan lagi ya, kamu bikin aku malu.” Bisik Ethan, belum melepas kedua tangan di balik punggung Valerie. Semakin bertambahnya detik, jarak keduanya terus mendekat.
Tangan Ethan meraih pipi Valerie yang mendadak berubah merah padam, mengangkat dagu dan mengikis kesenjangan.
CUP
Ethan menyatukan bibirnya dengan milik kekasihnya yang begitu manis dan lembut.
Sontak kedua mata hazel terbuka lebar, “Ciuman pertama aku diambil Ethan.” Teriak Valerie dalam hati, anehnya dia sama sekali tidak melawan. Sekujur tubuh menerima begitu saja sentuhan Ethan.
Sama halnya dengan Ethan, ini kali pertama. Dia hanya mengikuti naluri, walaupun sekadar menempel. Tapi lima detik berikutnya mulai bergerak secara perlahan.
“Kenyal banget bibirnya.” Ungkap Ethan dalam hati.
Ethan segera melepaskan gadisnya, ketika menyadari ada sesuatu dorongan dalam diri, mungkin sulit dikendalikan jika terus berlanjut.
“Maaf sayang.” Ucap Ethan, cemas kalau hal ini membuat gadis itu menjauh.
“Hu’um anggap aja engga terjadi sesuatu.” Valerie yang malu, membuang wajah ke sisi lain. Dia memutar tubuh, lalu keluar dari air. Dadanya kembang kempis.
“Kenapa aku ikut cium dia sih? Stop Vale, kamu lama tinggal di luar negeri. Hal ini udah biasa, jangan berlebihan deh.” Menetralkan jantung yang menabuh genderang sangat kuat.
“Vale tunggu!” sebelum benar-benar keluar dari air, Ethan memanggil gadisnya mendekati punggung hampir menempel.
“Ethan, kamu mau ngapain?” teriak Valerie sangat panik.
Dua tangan Ethan menelusup masuk ke balik kaos, “Ssst diam. Sebentar lagi selesai.” Bisik Ethan membantu mengaitkan sesuatu yang seharusnya.
"Selesai. Kamu mau pakai baju kan? Aku juga.” Usai membantu gadisnya, Ethan melesat pergi ke tepian.
“Oh dia bantu pasang pengait b**. Eh ya ampun malu banget sih.” Valerie merutuki kebodohannya.
__ADS_1
**
Sore hari Vale dan Ethan serta kakak sepupu sudah kembali ke villa. Keempatnya langsung memasuki kamar masing-masing, membersihkan diri dan istirahat.
Di dalam kamar masing-masing, Ethan dan Valerie tidak bisa tidur. Terbawa pada kenangan beberapa jam yang lalu.
“Engga benar ini.” Gumam Ethan menutupi sekujur tubuh dengan selimut.
“Tapi bibirnya manis banget, gue gak akan mungkin lupa. Apa itu ciuman keduanya? Tapi …” Ethan yakin jauh sebelum ini Vale-nya memberikan ciuman pertama kepada Eberardo, apalagi kehidupan di sana bebas.
Namun ada hal yang mengganjal, gerakan Valerie begitu kaku tidak seperti seorang yang telah memiliki pengalaman.
“Bukan masalah! Yang penting sekarang Vale milik gue, hanya Ethan yang ada di kehidupan Valerie bukan laki-laki lain.” Tegas Ethan, apapun akan menerima kekasihnya.
Lama-lama Ethan terlelap, akibat sibuk bersama praduga yang memenuhi kepala. Hingga terbangun pukul 11 malam, melewatkan waktu makan malamnya, sekarang perutnya lapar sekali.
“Yang benar aja sudah jam segini, lama banget gue tidur. Harusnya pasang alarm, kebiasaan kalau tidur, pasti susah bangun.” Gerutu Ethan, memasuki kamar mandi dan membasuh wajahnya sampai segar.
Dia keluar kamar, menuju dapur di lantai satu. Sebelum ke sini dua kakak sepupu memerintahkan penjaga villa mengisi persediaan di kulkas.
Suara dari dapur mempercepat langkah kaki Ethan, dia mengendap-endap, sudah siap melepaskan tendangan jika pencuri memasuki villa. Ethan tidak ingat lagi jika tempat ini memiliki tingkat keamanan canggih serta petugas keamanan yang berjaga di sekeliling villa.
“Suara apaan ya? sumbernya dari kulkas. Masa iya villa kaya gini ada tikusnya.” Gumam Ethan, iya sesuatu yang sedang membuka toples dan menutupnya, serta tutup botol terlepas dari badannya, dilengkapi benda padat membentur dinding.
Ethan semakin waspada, tangannya bergerak mencari saklar.
TAK
Dapur berubah menjadi terang. Sontak saja seseorang yang membuat dapur gaduh menoleh kepada Ethan.
TBC
***
duh Ethan Vale.🤭😅
__ADS_1