
Mereka dengan tak perduli nya pergi meninggalkan aku sendirian dengan perasaan sesak, bahkan laki laki yang baru saja berkata akan bersikap adil ternyata tidak mampu membuktikan kebenaran dari ucapannya.
"Keterlaluan kamu, mas." Lirihku yang kini terisak semakin dalam, menyesali telah percaya dengan kalimat manisnya. Luka ini kian menganga dan aku harus segera menyelamatkan hati dari luka yang semakin dalam. Tak lagi mau, bermain perasaan, namun cinta telah terlanjur tumbuh dan menyiksa hati juga pikiran. Masih sanggupkah aku bertahan?
Kita bertemu dengan hati yang kecamuk dan berpisah jalan dengan dada yang tersiksa. Mencintai terkadang bukan sekadar menyatukan dua rasa, melainkan juga sebagai masa belajar bahwa segala luka penyesalan bisa diobati.
Selalu terpikir jika akan tiba hari di mana segalanya berakhir; dan aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan.
Satu-satunya yang berkelindan di kepala hanyalah keinginan untuk pergi.
Buat apa cahaya, jika selamanya gelap akan bikin baik-baik saja?
Aku terasing dalam keadaan yang sebenarnya aku sendiri penciptanya, kalau saja perjanjian gila itu tak ku penuhi, mungkin aku tak akan pernah berada di situasi serumit ini. Namun, nyawa dan masa depan adikku tak bisa aku abaikan begitu saja, menyesal pun sudah tak ada gunanya lagi.
Entahlah, aku berharap, semoga apa yang tadi mas Hamzah katakan tentang rumah pemberian mama, benar adanya. Agar aku bisa segera meninggalkan rumah ini dan hidup tenang tanpa harus merasa tertekan akan pertengkaran demi pertengkaran.
Tak lagi terdengar suara ribut dari lantai bawah, hening. Mungkin mereka sudah kembali baikan. dan tengah bermesraan. Rasanya tak percaya jika hatiku kini merasakan cemburu, padahal aku tau, aku bukanlah istri yang dia cintai.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
POV author
Sedangkan di dalam kamar, Hamzah dan Bella saling terdiam dengan pikiran masing masing.
Bella yang masih kesal, masih memasang wajah tak sedap di hadapan Hamzah.
"Sayang, kenapa kamu bersikap kasar pada Anniyah?
Harusnya kamu bisa lebih menahan diri untuk tidak menyakiti fisiknya. Dia tengah hamil anakku, anak yang akan kita rawat. Tolong jaga sikapmu." lirih Hamzah yang menatap Bella dalam.
"Kamu sedang membelanya, mas?
Apa kamu sudah mulai jatuh cinta dengan dia?" Bella menatap tajam ke arah suaminya, benci dan cemburu masih membuat hatinya panas.
"Kamu harus ingat, Bella.
Yang memintaku menikahi Anniyah itu kamu.
Dan yang tidak mau hamil, juga kamu sendiri.
__ADS_1
Tapi kenapa, sekarang kamu bersikap kasar pada Anniyah?" balas Hamzah yang tak kalah tajamnya.
"Jangan bilang, kalau kamu melindungi perempuan itu, mas.
Aku tidak suka dan tak terima ya." sahut Bella yang kembali tersulut emosi.
"Anniyah juga istriku, apa kamu lupa kalau aku menikahi Anniyah atas ijin dan permintaan kamu?
Bahkan aku menikahi Anniyah sah di mata agama dan negara. Sebagai laki laki yang bertanggung jawab, aku punya kewajiban melindunginya sebagai istriku. Aku harap, kamu mengerti itu, Bella." tekan Hamzah yang tak ingin di bantah.
"Terserah kamu ya, mas.
Pokoknya aku tidak mau melihat kamu dekat dekat dengan si Anniyah itu. Dia sudah hamil, jadi tugas kamu selesai. Tak ada lagi kamu ada acara tidur bareng sama dia. Paham?" teriak Bella yang kembali terbakar emosi dan rasa cemburu.
"Baiklah, aku akan turuti mau kamu itu.
Asal, kamu jangan pernah kasar lagi pada Anniyah, dia sedang mengandung anakku.
Kalau sampai terjadi sesuatu pada dia dan bayinya, aku tidak akan memaafkan kamu." sahut Hamzah yang pasrah menerima keputusan istri pertamanya.
"Kamu tenang saja, mas.
Setelah dia melahirkan, kamu harus menceraikan perempuan itu dan kita ambil anaknya." balas Bella dengan wajah kusut dan dada bergemuruh.
"Sudahlah, tenangkan dirimu.
Malam ini, aku akan tidur di kamar tamu." Hamzah sengaja tidak ingin memperpanjang obrolan dengan Bella, karena pasti tidak ada ujungnya.
"Terserah kamu saja lah, mas." sahut Bella yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, tubuhnya lelah karena seharian menghabiskan waktu bersama pacar rahasianya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
__ADS_1
#Ayah aku juga anakmu
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️