
"Sepertinya mas Hamzah masih sibuk, kita makan saja dulu. Mbak juga sudah lapar." Ayu menoleh, lalu mengangguk dan langsung berdiri mengikuti langkahku menuju ke dapur. Kami makan dalam hening, Ayu terlihat begitu lahapnya, sedangkan aku entah kenapa perasaan ini terus gelisah.
Nasi dalam piring hanya diaduk saja, memikirkan suami yang tak kunjung datang, takut terjadi sesuatu padanya, karena tak ada kabar darinya sama sekali.
"Mbak, kok cuma diaduk saja makanannya?
Kepikiran mas Hamzah ya?" Celetuk Ayu yang kini menatapku dengan lekat, piringnya terlihat sudah kosong.
"Iya, ini sudah malam, masak lembur sampai jam segini. Takut terjadi apa apa." Balasku lirih, mengutarakan kecemasan yang kini mengganggu pikiran.
"Coba di telpon saja, tanyain apa gitu. Dari pada terus menduga duga, mbak yang jadi gelisah sendiri." Sambung Ayu memberikan idenya.
"Yasudah, mbak akan coba hubungi mas Hamzah dulu. Tolong kamu bereskan bekas makannya, mbak ya."
"Kok gak dihabisin, mbak?
Habisin dulu, biar mbak gak sakit."
"Mbak gak selera, nanti kalau lapar, mbak pasti makan lagi. Kamu gak usah khawatir." Setelah menjawab kecerewetan adikku, akupun langsung pergi ke kamar untuk mengambil ponselku. Memberanikan diri untuk menghubungi mas Hamzah, entahlah kenapa perasaan ini sedari tadi tidak baik baik saja.
Sudah panggilan yang ketiga kalinya, tapi tak kunjung diangkat oleh mas Hamzah. Lalu aku putuskan untuk mengiriminya pesan saja.
[Mas, lagi dimana?
Mas Hamzah baik baik saja, kan?] Terkirim, dan masih centang dua abu abu.
Aku duduk di atas ranjang dengan gelisah, menunggu balasan dari mas Hamzah.
Sudah lima belas menit berlalu, tapi tak kunjung ada balasan, padahal centang dua sudah berubah warna menjadi biru, itu artinya pesan yang aku kirim sudah dibaca tapi kenapa tidak kunjung di balas.
Hampir satu jam, akhirnya pesan itu terbalas juga, tapi sungguh membuatku kian tak baik baik saja, hati semakin perih terasa.
[Jangan mengganggu kami, Anniyah.
Aku dan mas Hamzah sedang menikmati malam berdua, lihatlah suamiku tengah tertidur lelap, karena dia kelelahan.] Bunyi pesan yang disertai foto mas Hamzah yang tengah tertidur pulas dengan bertelanjang dada. Itu artinya yang kini membalas pesanku adalah mbak Bella.
[Iya, mbak. Maaf, tadi cuma khawatir saja, kalau mas Hamzah baik baik saja, Alhamdulillah.] Balasku, yang entah kenapa sudah meneteskan air mata. Cemburu dan sakit mulai membuat hatiku tidak nyaman.
__ADS_1
[Tidak usah terlalu tinggi bermimpi, Anniyah.
Mas Hamzah suamiku dan hanya mencintaiku. Jadi berhentilah berharap. Jangan usik kebahagiaan kami, karena kamu cuma perempuan yang kami bayar untuk mengandung anak suamiku. Sadar dirilah, ingat siapa kamu sebelumnya.] Balasnya lagi, bahasanya sungguh menyakitkan, namun apa yang dikatakan mbak Bella benar adanya, aku hanya perempuan yang dibayar untuk mengandung anak mas Hamzah.
Tak lagi berniat membalas, aku letakkan ponsel kembali ke atas nakas. Memilih merebahkan tubuh ini di atas kasur empuk, menikmati tetes demi tetes air mata yang mengiringi rasa sesak di dalam dada.
"Mbak, mbak Anniyah.
Ayo bangun, sudah jam lima pagi, mbak gak sholat subuh?" Suara Ayu terpaksa membuatku membuka mata yang masih ingin terpejam. Entah aku menangis hingga jam berapa, sepertinya aku baru bisa tertidur setelah melaksanakan sholat malam sekitar jam dua pagi.
"Mbak, kenapa?
Sakit?" Sambung adikku, yang sudah memegang keningku, dengan wajah cemasnya.
"Enggak, cuma masih ngantuk saja. Semalam gak bisa tidur, karena keasikan baca novel." Sahutku beralasan, lalu segera pergi ke kamar mandi, karena waktu subuh sudah hampir kesiangan.
Saat keluar dari kamar mandi, ternyata Ayu masih berada di dalam kamarku, dia menatapku dengan wajah menyelidik.
"Yakin, mbak Anniyah gak papa?" Tanyanya lagi, adikku itu memang peka dan sangat sensitif, sehingga bisa membaca jika diri ini sedang tidak baik baik saja.
"Iya, mbak gak papa kok, cuma tadi kurang tidur saja. Yasudah, mbak mau sholat dulu. Kamu siap siap gih, harus sekolah kan?" Aku berusaha bersikap biasa saja, agar tidak menambah pikiran Ayu yang memang tak seharusnya ikut memikirkan apa yang jadi urusanku.
Aku juga harus mulai kembali menata hati, agar saat perjanjian itu telah tiba waktunya, hatiku tak lagi sakit. Aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Pernikahan ini memang terjadi atas perjanjian saja, aku tidak boleh lagi banyak berharap dan harus belajar menghapus perasaan yang mulai tumbuh. Semoga aku bisa melewatinya, meskipun aku tau, cinta tidak pernah bisa ditebak kapan dia hadir dan bagaimana dia tumbuh. Namun aku masih bisa mengendalikan hati agar tidak semakin besar perasaan cinta ini.
Aku harus sadar, sebesar apapun kesalahan mbak Bella, dia adalah wanita yang sangat dicintai oleh mas Hamzah. Sedangkan aku, hanyalah wanita yang baru datang dan tak mungkin bisa menyamai kedudukannya mbak Bella di hati mas Hamzah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
#Anak yang tak dianggap
__ADS_1
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️