
Aku kembali meneruskan mengetik cerita yang tadi sempat tertunda. Karena waktu hanya tinggal beberapa hari lagi untuk bisa mencapai target. Saat lelah dan tak semangat, bayangan wajah adikku melintas dan membuatku kembali meneguhkan niat. Aku tak ingin dia bernasib sama denganku, aku harus bisa membawanya dalam kesuksesan.
Suasana yang kembali hening, membuat ide kembali lancar mengalir. Aku bisa menulis hingga dua bab dalam waktu satu jam saja.
Entah apa yang terjadi dengan mbak Bella dan mas Hamzah di bawah sana saat ini, aku sudah tak mau perduli lagi. Tak ingin terlalu jauh aku bermain perasaan, agar luka hati ini tak semakin menancap dalam.
Dering ponselku terdengar lirih, terlihat nama Rumi tengah melakukan panggilan. Ada apa dia malam malam menghubungiku, pasti ada hal yang penting, dan akupun langsung mengangkat panggilannya. Rumi adalah sahabatku sejak masih di SMP, kami sama sama sudah yatim piatu, namun nasib Rumi lebih beruntung, dia dinikahi laki laki yang dia cintai dan seorang dokter. Hidupnya bahagia dan tidak sedikitpun kekurangan. Bahkan saat ini, Rumi tengah mengandung anak keduanya.
"Hallo Asalamualaikum." sapaku setelah menekan tombol warna hijau di layar ponsel.
"Waalaikumsallm, Kamu lagi dimana Anniyah?
Aku mau bicara sesuatu yang penting, pastikan kalau suami kamu tidak sedang bersamamu." sahutnya di seberang sana dengan suara yang terdengar serius.
"Aku di kamar, Rum.
Memangnya ada apa?
Kayak serius banget, apa ada yang penting?" jawabku penasaran.
"Penting banget, tapi kamu sendirian kan, ini?" sahutnya memastikan lagi jika mas Hamzah tidak ada disampingku.
"Iya, aku sendirian.
Mas Hamzah ada di lantai bawah dengan istrinya." sahutku menjawab jujur apa adanya.
"Anniyah, kamu harus percaya dengan yang akan aku katakan ini. Ini sangat penting, dan mungkin kamu akan shock mendengarnya." sahutnya yang semakin membuatku penasaran.
"Apaan sih, emangnya Jabar apa yang akan kamu sampaikan, Rum?
Jangan bikin aku deg degan gini dong." balasku yang justru semakin berdebar menunggu berita dari Rumi.
"Tadi aku ketemu sama istri pertamanya suami kamu di mall. Dia sedang bergandengan mesra dengan laki laki lain, masih muda. Kayak brondong gitu. Dih mesra banget pokoknya, mereka kelihatan sedang borong banyak, tapi dugaaanku sih, kakak madumu itu diplorotin sama si brondong. Ya ampun ngeri banget." cerita Rumi berapi api.
"Yang benar kamu, Rum. Awas salah lihat, jatuhnya fitnah loh." sahutku yang ingin memastikan sekali lagi ucapannya itu. Meskipun sedikitpun aku tidak meragukan kata katanya, karena aku sangat tau siapa Rumi, dia tidak suka bergosip kalau mang itu tidak mengganggu dirinya dan benar benar dia melihat faktanya.
__ADS_1
"Mataku masih awas kok, dan tentunya gak salah lihat. Tapi aku sempat ambil foto dan vidio mereka diam diam, nanti aku kirimkan ke kamu. Kamu lihat saja sendiri.
Dan satu lagi, mungkin kamu gak akan percaya siapa brondongnya nenek lampir itu, dia itu Fandi, masih saudara jauhnya mas Romi, suamiku. Gila gak sih? CK." jawabnya berapi api dengan nada yang terdengar semangat sekali.
"Astagfirullah, kamu beneran ini, Rum?
Aku kok jadi merinding gini, gak nyangka saja kalau mbak Bella bisa berbuat seperti itu. Padahal, mas Hamzah sayang banget sama dia loh." sahutku yang tiba tiba merasa kasihan dengan mas Hamzah. Cinta dan kasih sayangnya yang besar, tak berarti apa apa bagi istrinya itu.
"Buat apa kamu bohong, gak untungnya kali.
Yasudah, aku hanya ingin kasih tau kamu saja, biar kamu yakin sama ceritaku, aku akan kirim buktinya.
Kamu harus hati hati, Anniyah.
Jaga dirimu, karena biasanya perempuan seperti itu licik dan berbahaya. Jaga dirimu baik baik, apalagi kamu tengah hamil anak suaminya. Kalau ada apa apa, kamu langsung hubungi aku ya." sahut Rumi panjang lebar dan terdengar dia mencemaskan ku.
"Iya, Rum.
Makasih ya, aku akan ingat selalu pesan kamu." sahutku yang sudah merasa tidak nyaman dengan perasaan ini.
Setelah panggilan berakhir, tak lama setelah itu, ada beberapa pesan masuk dari Rumi berisi foto dan vidio mbak Bella bersama laki laki muda yang cukup tampan, mereka terlihat begitu mesra bahkan seolah seperti orang berpacaran, padahal tengah berada di tempat umum, mereka tidak sungkan menunjukkan kemesraan. Entah apa yang terjadi jika mas Hamzah mengetahui kebusukan istri kesayangannya. Tapi sekali lagi itu bukan urusanku, aku cukup diam saja. Asal mbak Bella tidak mengusikku, kalau dia semakin bertingkah dan membahayakan janinku, aku akan gunakan foto dan vidio ini untuk mengancamnya. Habis kamu, mbak.
Bukannya licik, tapi aku hanya butuh tenang untuk melewati hariku dirumah ini dengan perasaan damai.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ayah Aku Juga Anakmu
#Tentang Luka istri kedua
Novel on going :
__ADS_1
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
#Ternyata aku yang kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️