
Untung saja, nyonya cerdik dan berpikir panjang.
Sehingga memudahkan bisa masuk ke kamarnya Bu Bella. Aku harus cepat cepat menemukan sesuatu itu, sebelum Bu Bella pulang kerumah.
Akupun memulai membuka satu persatu laci milih Bu Bella, namun tak menemukan apapun.
Lalu aku beralih ke lemari pakaian, memeriksa secara hati hati pakaian di dalamnya.
Dan, di rak paling bawah, ada sebuah kotak dari kayu jati. Sewaktu aku membukanya, isinya hanyalah segala macam pernik aksesoris miliknya yang jarang dipakai.
Namun fokus ku ada pada selembar foto yang ada di paling bawah tumpukan aksesoris.
Sewaktu aku mengambil foto tersebut, mata ini melotot melihat apa yang ada di foto itu.
Ya Tuhan.....
Terus mengucapkan kalimat istighfar, apa yang kami curigai ternyata benar adanya.
Pantas saja, semenjak menikah dengan Bu Bella pak Hamzah berubah total, tak lagi pernah mau sholat, dan bahkan sikapnya yang aneh, selalu memaklumi semua kesalahan Bu Bella, padahal nyata nyata istrinya itu salah. Ternyata, Bu Bella melakukan hal serendah ini untuk membuat pak Hamzah tunduk dan manut padanya, kok ada perempuan seperti ini, astagfirullah.
Aku harus menghubungi nyonya, dan mengambil bukti ini, tapi aku harus periksa dulu yang lain, barangkali masih ada sesuatu untuk menguatkan prasangka ini. Bismillah...
Kembali aku menggeledah seluruh ruangan yang ada di dalam kamar, dan saat membuka laci yang ada di ranjang yang biasa buat tidur, lagi lagi aku dibuat terperangah, buntelan kain hitam yang berisi berkaitan dengan perdukunan, astagfirullah, astagfirullah.
Dengan cepat aku pun langsung mengamankan semua benda temuan ku itu. Lalu segera keluar dari kamar dan kembali menguncinya.
"Nya, ternyata apa yang kita pikirkan selama ini benar, saya menemukan benda benda yang berkaitan dengan ilmu perdukunan. Ini gimana, nyonya mau kesini, atau saya yang antar ini pada nyonya?" aku langsung menghubungi nyonya, dan memberitahu apa yang aku temukan.
"Simpan saja dulu, bi.
Baru besok kita ketemu dan langsung bawa ke ustad Karim. Bi Titin hati hati, jangan sampai Bella curiga.
Besok biar Rena yang jemput bibi, nanti urusan Hamzah dan Bella, biar jadi urusanku, bi.
Yasudah, terimakasih ya Bi." akhirnya, kejahatan Bu Bella terungkap, tak habis pikir, kenapa wanita secantik Bu Bella masih bisa melakukan hal sehina itu. Mungkin harta dan juga tahta membuatnya terlalu silau, hingga melupakan tentang dosa dari perbuatannya tersebut.
Aku kembali, melakukan aktifitas membereskan rumah. Bersikap seolah tak tau apa apa, karena Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Takutnya Bu Bella akan pulang.
Saat sedang menyetrika, terdengar bunyi bel, siapa yang datang, kalau itu Bu Bella dan pak Hamzah, pasti mereka akan langsung masuk ke dalam.
"Ya, sebentar."
"Lama banget sih, bi.
Lagi ngapain, pasti enak enakkan tidur ya?
Mentang mentang majikan tidak dirumah, kamu enak enakkan tidur. Mau dipecat?" cerocos bu Lasmi, ibunya Bu Bella. Dia memang bermulut pedas dan angkuh, padahal bisa kaya juga karena pak Hamzah.
"Astagfirullah, Bu.
Saya sedang setrika di belakang Bu, gak mungkin tidur, sedangkan kerjaan saya masih belum selesai." sahutku memberanikan diri, karena memang tidak melakukan apa yang Bu Lasmi tuduhkan.
__ADS_1
"Huh, jawab saja kamu. Gak sopan!" bentaknya dengan wajah angkuh.
"Angkat koper saya di teras depan, taruh di kamar atas. Saya akan menginap disini selama dua bulan." sambungnya lagi dengan wajah sok berkuasanya. Duh anak dan ibu sama sama punya sikap ajaib, sama sekali tidak bisa menghargai orang lain.
"Baik, Bu." jawabku terpaksa menurut. Setelah kebusukan anaknya terbongkar, apakah dia masih bisa angkuh, dilihat saja nanti.
"Buatkan kopi, dan siapkan makanan. Saya lapar." Titahnya, tanpa mau melihat kalau aku masih kesusahan mengangkat koper besarnya naik tangga, harus sabar Tin, sabaaar.
Setelah susah payah membawa koper milik Bu Lasmi ke kamar atas, aku segera turun dan langsung menuju dapur untuk membuatkan pesanannya, karena kalau tidak segera dilakukan bisa fatal akibatnya.
"Bu Lasmi, makanannya sudah siap. Silahkan."
"Oke, kamu boleh pergi dan lanjutkan pekerjaan kamu. Jangan tidur, kamu digaji untuk kerja, bukan enak enakkan tidur. Paham?" jawabnya dengan tatapan tajam.
Tanpa banyak mau bicara, akupun melanjutkan pekerjaan menyetrika, dan sesekali membalas pesan dari nyonya besar. Langsung saja aku juga menceritakan kedatangan Bu Lasmi dan niatnya yang mau menginap selama dua bulan.
Setelah selesai menyetrika, berniat mau menyapu dan juga ngepel lantai. Tapi, mata menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Bu Lasmi di kamarnya mbak Anniyah.
"Bu Lasmi sedang apa di kamarnya, mbak Anniyah?" tegurku dengan dada berdebar. Perempuan dandanan menor itu terlihat melotot dengan wajah tak sukanya.
"Jangan ikut campur urusanku, Bi.
Kamu cuma pembantu disini. Sedangkan saya adalah ibu dari nyonya di rumah ini.
Jadi jangan pernah lancang mencampuri urusanku disini, mengerti?" sahutnya dengan wajah murkanya.
"Tapi ini, kamar mbak Anniyah, Bu." Sahutku tenang, meskipun hati geram. Karena aku melihat Bu Lasmi tengah menaburkan sesuatu di sekeliling kamar mbak Anniyah.
Aku berhak keluar masuk rumah ini dan isi di dalamnya sesukaku, Bi.
Ingat, anakku nyonya dirumah ini." Tekannya dengan mata melotot tajam. Astagfirullah.
"Sekarang, lanjutkan pekerjaan kamu.
Jangan pernah lancang menegur ku disini." Sambungnya dengan suara keras.
Tak mau ribut, akupun segera turun dan melanjutkan aktifitas menyapu. Biarlah, setelah ini aku akan mencari celah untuk masuk ke kamar mbak Anniyah dan membersihkannya dari niat jahat mereka. Aku yakin, Bu Lasmi punya niat tertentu dengan mbak Anniyah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul delapan malam, Bu Bella baru saja pulang dengan wajah cerianya. Entah dari mana, tapi setelah pak Hamzah tidak pulang beberapa hari ini, wajah Bu Bella bukannya sedih, namun justru semakin terlihat ceria. Masalah dengan suami sepertinya tidak membuatnya bersedih.
"Dari mana saja, kamu Bella?
Ibu datang kamu justru tidak dirumah.
Kurangi kelakuan kamu itu, kalau kamu masih mau Hamzah bertahan." terdengar Bu Lasmi menegur anaknya.
"Halah, kenapa sih, Bu?
Ibu tenang saja, Selama masih ada mbah Juki, semua pasti aman kok. Buktinya, mas Hamzah tidak pernah tuh bertahan lama marahnya ke aku. Paling paling dia juga akan kembali minta maaf dan lebih sayang ke aku dan nuruti mauku." sahut Bu Bella dengan percaya dirinya.
__ADS_1
"Kamu harus main cantik, jangan merasa semua sudah aman sebelum kamu mendapatkan semua harta milik Hamzah menjadi milikmu. Segera amankan aset aset berharga kalian. Karena ibu punya firasat buruk. Jangan sepelekan, perasaan ibumu ini." Tekan Bu Lasmi dengan suara di tekan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
#Ayah aku juga anakmu
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️