
"Ma." Bella yang baru sampai rumah dan melihat ada sang ibu yang tengah duduk di teras, langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya. Bella menumpahkan segala sesak di hatinya, menangis entah apa yang ditangisi, penyesalan, kekhawatiran, kecewa ataukah sakit hatinya. Dia hanya ingin menangis, agar sesak di dadanya berkurang.
"Ada apa?
Apa kamu bertengkar lagi dengan suami kamu?" Sambut Bu Lasmi yang bersikap lembut dan menahan diri untuk tidak menghakimi anak perempuannya.
"Biarkan aku begini ma, biarkan aku menangis seperti ini. Sesak rasanya, sakit." Suara Bella terbata bersama Isak tangisnya yang terdengar menyayat siapa saja yang mendengar.
"Iya, mama akan menemani kamu. Mendengarkan keluhmu. Menangis lah kalau itu membuat kamu bisa merasa lega." Sahut Bu Lasmi penuh kasih sayang. Tak tega melihat putrinya terpuruk dan menderita.
Hampir satu jam, Bella menangis dalam dekapan ibunya. Bi Titin yang tak sengaja melihat keterpurukan Bella sempat tertegun, tak menyangka jika Bella bisa sesedih itu.
"Masuklah ke dalam, istirahatlah, tubuh dan pikiran kamu butuh ketenangan. Semoga ada jalan terbaik untuk masalah kamu." Sambung Bu Lasmi yang mencoba memberi ketenangan pada anaknya dan menuntun Bella memasuki rumah dan menyuruhnya istirahat di kamarnya.
"Mama akan buatkan minuman hangat, agar kamu enakan. Percayalah bahwa semua akan baik baik saja." Bu Lasmi menatap putrinya iba, lalu beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan jahe madu hangat untuk Bella.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas, bangun. Kita sudah sampai." Anniyah membangunkan Hamzah yang tertidur dari awal perjalanan.
"Hmmm, ah iya. Maaf kalau aku ketiduran, kepalaku rasanya berat." Lirih Hamzah yang mengerjapkan kedua matanya.
"Mari mas, aku bantu turun." Anniyah menatap khawatir wajah lelah Hamzah.
"Tidak usah, insyallah aku masih bisa sendiri." Sahut Hamzah yang nampak tak enak dengan Anniyah.
"Duduklah, mas. Aku akan buatkan minuman hangat untukmu. Mungkin kamu masuk angin, kecapean karena belum istirahat sama sekali dari pagi tadi." Balas Anniyah lembut, berusaha untuk mengerti keadaan suaminya.
Hamzah yang merasakan pusing dan sekujur tubuhnya menggigil memilih merebahkan badannya di atas sofa dan memejamkan matanya.
"Loh, kok sudah pulang, mbak?
Bilangnya mau nginep dua hari di Surabaya?" Sambut mbok Atun yang kaget dengan kedatangan Anniyah dan Hamzah.
"Iya, mbok. Mas Hamzah mendadak kurang enak badan." Sahut Anniyah yang tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Owalah, mungkin kecapean. Apa mbak Anniyah butuh sesuatu?" Balas mbok Atun.
__ADS_1
"Tolong buatkan bubur buat mas Hamzah ya mbok, biar dia bisa minum obat. Aku mau buatkan teh hangat dulu."
"Iya, mbak." Sahut mbok Atun yang langsung dengan cekatan melakukan pekerjaannya membuat bubur untuk Hamzah. Sedangkan Anniyah membuat teh hangat dan langsung membawanya pada Hamzah.
"Mas, bangun dulu sebentar. Ini minum teh nya dulu. Habis itu aku anter ke kamar, mas istirahat di kamar saja. Mbok Atun sudah buatkan bubur buat kamu minum obat." Anniyah dengan lembut membangunkan Hamzah yang nampak memejamkan matanya. Dengan wajah lesu, Hamzah membuka matanya dan mengangkat kepalanya, berusaha bangun dari tidurnya untuk minum teh hangat yang sudah disiapkan Anniyah.
"Terimakasih sayang, aku akan pergi ke kamar mandi dulu. Badanku rasanya lengket semua." Balas Hamzah yang sudah meminum tehnya.
"Apa kamu mau mandi, mas?
Kamu kurang sehat, sebaiknya jangan mandi dulu. Cukup ganti baju dan cuci muka saja." Anniyah menatap cemas ke arah Hamzah yang tersenyum tipis kearahnya.
"Iya sayang, aku gak mungkin mandi dengan keadaan seperti ini." Sahut Hamzah yang sudah berlalu ke kamar pribadinya.
Anniyah menatap tubuh tegap Hamzah dengan perasaan nyeri. Pikirannya benar benar sedang kacau, memikirkan apa yang harus dilakukan. Di Satu sisi dia merasa bersalah dengan Bella. Namun di sisi lain, hatinya mulai mencintai Hamzah.
"Mbak Anniyah, ini buburnya sudah mateng. Mau di taruh mana?" Tiba tiba suara mbok Atun membuyarkan lamunannya.
"Taruh meja situ saja mbok, biar aku bawa masuk ke kamar. Mas Hamzah masih bersih bersih dikamar mandi." Balas Anniyah yang berusaha untuk bersikap tenang.
"Setelah mas Hamzah pilih, aku harus bicarakan ini dengannya. Aku gak bisa begini terus, berada dalam persimpangan yang membuatku serba salah." Gumam Anniyah dengan menghembuskan nafasnya dalam. Lalu dengan langkah pelan memasuki kamarnya dengan membawa bubur buatan mbok Atun. Sesampainya di kamar, Anniyah mendapati Hamzah tengah duduk bersandar pada bahu ranjang dengan tatapan kosong.
Hamzah menerima bubur dari tangan Anniyah dan memakannya sedikit demi sedikit tanpa ada sepatah kalimat pun yang keluar dari mulutnya.
"Kok gak dihabiskan, mas?" Tanya Anniyah saat Hamzah meletakkan mangkok yang masih ada isinya. Hamzah hanya memakan separo saja bubur buatan mbok Atun.
"Sudah kenyang, tolong ambilkan obatnya saja. Biar aku bisa segera tidur." Sahut Hamzah lirih, dan dengan cekatan Anniyah melakukan apa yang diperintahkan suaminya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Sahabat Benalu
Novel on going :
__ADS_1
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️