
"Kamu benar, Ren.
Mama akan telpon Bi Titin sekarang.
Semoga kita mendapatkan buktinya, karena firasat mama memang tidak pernah baik pada Bella." sahut mama yang langsung mengotak atik layar ponselnya, sepertinya akan menghubungi bi Titin sesuai saran dari Rena.
Setelah panggilan terangkat, mama memilih menjauh dan bicara di luar. Suaranya pun tak terdengar dari sini. Sepertinya mama sengaja bicara pelan agar tidak ada yang mendengar.
Rena masih tetap terlihat santai dan bermain hape. Gadis itu memang terlihat cuek tapi dia punya hati yang baik.
Tubuh ini sebenarnya masih lemas, kepala juga masih sedikit pusing, mau pergi untuk istirahat merasa tidak enak, ada mama dan terkesan aku tidak menghargainya.
Setelah beberapa saat, akhirnya mana kembali masu ke dalam dan duduk ditempatnya semula.
"Anniyah, kapan Ayu akan ujian akhir semesternya?" Tanya mama dengan wajah ramahnya.
"Insyaallah bulan depan, ma.
Kalau tidak salah tgl dua belas." Sahutku apa adanya.
"Rencananya mau kuliah dimana?" tanya mama lagi, kali ini mama menatapku dengan serius.
"Belum tau, ma.
Rencananya disini saja, agar Anniyah bisa mengawasi juga.
"Iya, kampus disini juga bagus bagus. Kalau bisa biar nanti satu kampus sama Rena saja.
Mama akan minta pak Dadang untuk standby di sini. Nanti kamu dan Ayu kalau kemana mana biar diantar pak Dadang. Pak Dadang sudah bekerja di keluarga kami sangat lama, orangnya tegas, baik, sopan dan amanah." Sambung mama yang masih bicara tegas.
"Tapi ma, apa ini tidak berlebihan?
Jujur, Anniyah merasa tidak nyaman dan takut akan semakin membuat keributan, karena pasti mbak Bella salah paham." Balasku memberanikan diri mengungkapkan isi hati. Aku tidak mau, kebaikan mama mertua jadi pemicu kemarahan mbak Bella karena dia salah paham.
"Tidak usah memikirkan Bella.
Dia yang sudah memintamu jadi istrinya Hamzah, karena dia tidak mau hamil dan terganggu kesehatannya yang suka foya foya itu.
Sudahlah, kamu tidak usah memikirkan perempuan itu. Nanti kalau sudah waktunya, kamu akan paham, kenapa mama bersikap seperti sama Bella. Tapi yang pasti, mama punya alasan yang kuat." sambung mama masih dengan wajah tegasnya. Sedangkan Rena nampak sudah tertidur di atas sofa empuk yang memanjang.
"Istirahatlah, kamu pasti masih belum sembuh betul.
__ADS_1
Mama sama Rena akan menginap disini malam ini.
Karena papa ada kerjaan di luar kota." kembali, mama mengeluarkan suaranya.
"Terimakasih, ma.
Insyaallah, apapun yang mama katakan, akan Anniyah simpan dan taati. Anniyah ke kamar dulu ya ma, kepala Anniyah masih sedikit pusing." Sahutku hati hati, aku takut menyinggung mama, tapi aku juga gak mau terlalu dalam mencampuri urusannya dengan rumah tangga mbak Bella dan mas Hamzah. Berusaha untuk tetap sadar bagaimana posisiku yang sebenarnya. Hanya dinikahi berdasarkan surat perjanjian demi sejumlah uang. Miris bukan?
Setelah berpamitan dengan mama mertua, aku berjalan pelan ke arah kamar. Mata rasanya ingin sekali terpejam, mungkin efek dari minum obat sewaktu masih dirumah sakit tadi.
Sewaktu membuka pintu kamar utama, aku tertegun pada sosok yang terlihat meringkuk. Mas Hamzah nampak sudah terlelap, raga dan pikirannya mungkin lelah.
Tak berani mengganggu tidurnya mas Hamzah.
Akupun memilih mengistirahatkan diri dengan merebahkan tubuhku di atas sofa super empuk yang ada di dalam kamar.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, bi Titi yang sudah mendapatkan perintah dari nyonya besar, kini tengah menjalankan misinya. Rasa penasaran dan juga takut bercampur jadi satu. Tubuhnya bergetar, takut jika sampai kepergok sama Bella, sang atasan.
Untung saja, nyonya cerdik dan berpikir panjang.
Sehingga memudahkan bisa masuk ke kamarnya Bu Bella. Aku harus cepat cepat menemukan sesuatu itu, sebelum Bu Bella pulang kerumah.
Lalu aku beralih ke lemari pakaian, memeriksa secara hati hati pakaian di dalamnya.
Dan, di rak paling bawah, ada sebuah kotak dari kayu jati. Sewaktu aku membukanya, isinya hanyalah segala macam pernik aksesoris miliknya yang jarang dipakai.
Namun fokus ku ada pada selembar foto yang ada di paling bawah tumpukan aksesoris.
Sewaktu aku mengambil foto tersebut, mata ini melotot melihat apa yang ada di foto itu.
Ya Tuhan...
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
__ADS_1
Novel on going :
#Ayah aku juga anakmu
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️