
Membuat hati saling bisa menerima dalam hubungan poligami adalah hal yang tidak mudah. Pasti akan ada hati yang tersakiti oleh rasa cemburu. Memang karena itulah fitrah wanita, yang sulit menerima untuk berbagi hati, meskipun sudah sekuat tenaga bertahan dan menyembuhkan, tetap saja perasaan cemburu akan sulit dihindari.
Bella memutuskan untuk kerumah ibunya, menenangkan diri dan agar hatinya tidak semakin merasa sesak. Berperang dengan pikiran sendiri jauh lebih sulit dari pada berperang menghadapi mulut emak emak julid di komplek.
"Bik, aku akan kerumah mama, paling satu mingguan disana. Kangen, pengin ngobrol banyak sama mama. Titip rumah ya, bi. Kalau ada apa apa hubungi aku segera." Pamit Bella pada Bi Titin.
"Iya, Bu. Bu Bella tenang saja, bibi akan jaga rumah dengan baik. Bu Bella hati hati di jalan, apa gak sebaiknya minta di sopiri sama pak Ahmad saja, Bu?" Sambung bi Titin cemas, karena perjalanan cukup jauh, jika menyetir sendiri akan berbahaya, apa lagi ada Amel.
"Insyaallah, aku bisa kok bi. Nanti akan sering berhenti untuk istirahat, aku lagi ingin menikmati perjalanan dengan Amel. Tadi sudah ijin juga sama mas Hamzah. Doakan saja kami selamat sampai tujuan." Sahut Bella dengan senyuman tipis, menutupi perih di dalam hatinya.
"Aamiin, doa bibi selalu menyertai Bu Bella dan non Amel. Hati hati ya, Bu." Bi Titin menatap kepergian majikannya dengan perasaan sedikit cemas, ada iba yang menghampiri hari wanita paruh baya itu untuk Bella. Sejak Bella berubah, bi Titin begitu perduli dengan Bella.
__ADS_1
*********************
Sedangkan di rumah sakit, janin Anniyah tak bisa diselamatkan, duka dan penyesalan menyelimuti hati perempuan berwajah teduh itu. Karena tidak hati hati, calon bayinya telah gugur. Meskipun sedih dan kecewa, Hamzah tetap berusaha tenang untuk menguatkan Anniyah.
"Semua sudah jadi ketentuan dari yang maha kuasa. Ikhlaskan, aku tau ini berat, tapi tidak harus terus di ratapi." Hamzah memeluk Anniyah yang terisak, hari ini mereka akan pulang untuk menguburkan jenazah calon bayi mereka. Sedangkan Bella, langsung menuju pulang setelah mendapatkan kabar kalau Anniyah keguguran. Menitipkan Amel pada ibunya.
Proses pemakaman berjalan lancar, Anniyah maupun Hamzah berusaha tegar.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Terimakasih, mbak." Sahut Anniyah singkat, bukannya tak ingin banyak bicara dengan kakak madunya, tapi karena hatinya memang belum bisa seutuhnya sembuh dari rasa kehilangan.
__ADS_1
"Kamu pulang dengan siapa?" Hamzah menghampiri Bella yang tengah bersama Anniyah.
"Sendirian, mas. Aku menitipkan Amel sama mama. Insyaallah, besok aku akan kembali kerumah mama, itu kalau kamu mengijinkan." Sahut Bella dengan senyuman tipis.
"Besok biar diantar sopir saja, takutnya kamu kecapean, bahaya di jalan." Balas Hamzah dengan menghirup nafasnya kasar.
"Iya, mas. Terimakasih." Sahut Bella dengan terpaksa, padahal ingin menikmati waktu kesendirian dengan caranya. Tapi lagi lagi, dia tak bisa menolak perintah sang suami.
Anniyah hanya diam saja menyimak obrolan Hamzah dan Bella.
Hatinya masih belum bisa diajak berdamai, rasa kehilangan telah membuatnya menjadi lemah.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Part ini hanya sedikit saja, karena othor nya masih belum move on🤭