
"Masak apa, Anniyah?
Kayaknya enak, baunya bikin perut lapar lagi." mas Hamzah mendekat dan melihat ke arah wajan.
"Cuma bikin Cha sawi kok mas." sahutku enteng dan fokus menyelesaikan kegiatanku memasak.
Mas Hamzah terlihat memperhatikan semua gerak gerik ku dengan tatapan yang tak bisa aku mengerti.
"Jangan melihatku seperti itu, mas.
Aku jadi gak enak." mas Hamzah tersenyum, lalu kembali duduk di tempat semula sambil menyeruput kopinya. Cha sawi sudah selesai di masak, dan aku menuangnya ke dalam mangkok lalu membawanya ke meja.
"Mas, sudah makan?"
"Sudah, tapi melihat Cha sawi buatan Anniyah, mas jadi lapar lagi. Bolehkan, mas ikut makan dengan Cha sawi buatan dek Anniyah?" Mas Hamzah menatapku dengan senyuman, dan hati ini tersentak tak percaya, kalau mas Hamzah menyebut namaku dengan sebutan, dek.
Ada apa dengan laki laki ini? Apa aku gak salah dengar.
"Dek, dek Anniyah!
Kok ngelamun." mas Hamzah mengibas ngibaskan tangannya di depan wajahku.
"Em, iya mas. Ada apa?" aku gelagapan, tersadar dari lamunan tentang sikap suamiku yang tak biasanya.
"Kok ngelamun, ada apa?" tanyanya dengan wajah mengerut.
"Gak papa mas, cuma kaget saja. Tumben banget mas Hamzah mau makan satu meja denganku dan memanggilku dengan sebutan, dek. Hanya itu saja, kok." sahutku jujur, mengungkapkan rasa heran di dalam hati ini.
"Maafin, mas ya, dek.
Kalau selama ini, sudah bersikap tak adil sama kamu. Mas, janji. Mulai hari ini akan bersikap adil dan lebih memperhatikan kamu lagi, karena kamu juga berhak mendapatkan semua itu, kamu istriku dan sudah mengandung anakku." sahutnya yang memandangi wajah ini lekat. Rasanya tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar, apakah suamiku mulai memiliki rasa padaku?
Ya Tuhan, membayangkan saja, hatiku sudah sangat bahagia.
"Terimakasih, mas.
Aku akan ambilkan piring sama nasinya." sengaja mengalihkan obrolan, karena hati ini sudah tak karuan rasanya.
"Iya, dek. Makasih ya." balasnya dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Enak banget dek, mas suka sama masakan kamu. Padahal selama ini, mas gak suka makan sayur, tapi ini kok jadi suka, apa karena kamu yang masak ya, mas jadi doyan dan ketagihan."
"Ini cuma cha sawi, mas.
__ADS_1
Alhamdulillah kalau mas Hamzah suka. Nanti kapan kapan aku buatkan lagi ya." sahutku senang karena mas Hamzah selalu menyukai apapun yang aku masak.
"Dek, ikut mas. Ada yang ingin mas bicarakan.
Ini biarkan saja, nanti biar bi Titin yang membereskan. Ayo." setelah selesai makan, mas Hamzah mengajakku ke kamar, bahkan dia tidak membolehkan aku untuk membersihkan piring bekas makan kami. Dengan langkah penasaran, aku mengikuti mas Hamzah dari belakang dengan perasaan campur aduk, apa yang ingin dia bicarakan. Tak biasanya dia bersikap hangat dan banyak bicara padaku.
Selama ini, dia terkesan kaku dan enggan bicara padaku.
"Duduk dek, sini." mas Hamzah menepuk lembut kasur, dan memintaku untuk duduk di dekatnya.
"Iya, mas.
Sepertinya ada yang penting, ada apa?" aku memberanikan diri untuk menatap wajah tampannya, mas Hamzah tersenyum dan menatapku lekat.
"Apa dek Anniyah bahagia?" tanyanya yang langsung membuat lidah ini terasa kelu. Haruskah aku jujur, jika aku tertekan selama tinggal seatap dengan mbak Bella. Aah aku tak mau membuat keruh suasana. Kalau mas Hamzah nanti menegur istri pertamanya karena kejujuranku, bisa bisa mbak Bella semakin marah padaku.
"Kenapa, mas Hamzah tanya seperti itu?" lirihku yang langsung menunduk tajam.
"Aku tau, dek Anniyah tidak nyaman dirumah ini.
Karena Bella selalu bersikap kasar, kalau memang dek Anniyah merasa tidak nyaman tinggal di sini. Dek Anniyah bisa tinggal di rumah pemberian mama untuk dek Anniyah. Kebetulan rumah itu sebentar lagi akan selesai direnovasi."
"Rumah, mas?
Pemberian mama, maksudnya?" aku masih belum mengerti arah pembicaraan mas Hamzah.
Mama sengaja membelikan rumah buat dek Anniyah, sebagai hadiah karena dek Anniyah sudah hamil anaknya, mas.
Mungkin satu bulan lagi, semua pembangunan sudah beres dan bisa di tempati.
Kalau dek Anniyah tidak nyaman di sini, dek Anniyah bisa pindah kerumah barunya dek Anniyah dari mama, dan boleh kok, ajak adiknya dek Anniyah tinggal bareng disana. Biar dek Anniyah ada teman dan tidak kesepian." jelas mas Hamzah dengan wajah serius.
"Ini beneran, mas?
Aku boleh ajak Ayu tinggal sama aku?" sahutku antara bahagia dan tak percaya.
"Boleh dong, itu sudah jadi rumah kamu kok.
Mas janji akan adil bagi waktu antara kamu dan Bella." sahut mas Hamzah yang kini tangannya sudah menggenggam tanganku erat, kamu saling berpandangan dan melempar senyum.
Entah bagaimana awalnya, kami sudah saling berbagi peluh dan melakukan aktifitas suami istri dengan cara yang belum pernah aku rasakan, mas Hamzah memperlakukan aku dengan lembut dan penuh penghayatan kali ini. Karena biasanya dia akan melakukan dengan cepat cepat dan tak perduli apakah aku puas atau tidak. Alhamdulillah, sepertinya di hati suamiku sudah mulai bisa menerima kehadiran diri ini sebagai seorang istri yang sesungguhnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ayah Aku Juga Anakmu
#Tentang Luka istri kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
#Ternyata aku yang kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️