
POV Hamzah 2
"Gak lah, mas. Lagian kamu kan gak selingkuh.
Kamu menikah juga karena ideku. Jadi aku sudah menguatkan hatiku untuk tidak cemburu. Aku iklas demi masa depan kita. Kembalilah ke kamar Anniyah, lakukan apa yang harus kamu lakukan, agar Anniyah cepat hamil, dan hubungan kalian selesai. Kamu akan jadi milikku satu satunya lagi." balas Bella dengan senyuman hangat, tangannya mendorongku untuk keluar dari kamar kami, dengan cepat Bella menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.
Dengan langkah lunglai aku kembali menuju kamar istri keduaku yang ada di lantai atas.
Anniyah tengah membersihkan wajahnya di depan cermin rias. Wajahnya terlihat ragu saat aku memasuki kamarnya. Namun bibir wanita itu diam dan masih terkatup rapat.
"Kenapa kamu mau menerima kesepakatan dengan istriku Anniyah?" aku penasaran dengan gadis yang kini sudah sah jadi Istriku, kenapa dia mau menerima perjanjian gila dari Bella.
Nampak wajah Anniyah murni Ng dengan wajah sendunya. Dia menunduk tajam dengan Isak kecil yang mulai terdengar. Namun tak lama setelah itu, Anniyah kembali mendongak dan memutar tubuhnya menghadap ke arahku.
"Aku butuh uang untuk pengobatan adikku.
Dia harus operasi ginjal, dan aku hanya kerja di laundry milik temanku, orang tua kami sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Mas Hamzah tidak perlu khawatir, aku akan mengerjakan tugasku sesuai dengan keinginan kalian.
Aku akan memberikan anak sesuai dengan perjanjian kita." Lirihnya dengan suara terdengar serak. Jujur, hati ini tak tega, Anniyah menerima pernikahan ini juga karena terpaksa, keadaan yang membuatnya harus masuk dalam kehidupan kami.
"Anniyah, sebelumnya aku minta maaf. Aku tau kamu perempuan baik. Berikan aku waktu untuk bisa menerima keadaan ini." sahutku pelan, bingung dengan kerumitan yang diciptakan Bella.
"Mas hanya cukup melakukan apa yang harus mas Hamzah lakukan, aku siap.
Agar hubungan ini juga biar segera diakhiri." Anniyah berkata dengan tegas, matanya menatapku lekat.
Sekian menit kami saling membisu, tak dipungkiri pesona Anniyah mampu membuat hati ini berdegup kencang, kulitnya mulus bersih, wajahnya cantik alami meskipun tanpa make up. Tubuhnya yang semampai mampu membuatku membayangkan sesuatu yang mulai membuat diri ini tak nyaman.
"Lakukan, mas." lirihnya yang seolah mengerti apa yang kini ada di pikiranku. Anniyah melepas kerudung yang sedari tadi masih menutupi rambutnya. Dan, aku seperti tengah menatap bidadari, rambutnya tergerai indah dan wanginya yang makin menggodaku untuk melakukan sesuatu yang lebih padanya.
Dia sah istriku, aku berhak memilikinya.
Kami pun akhirnya larut dalam nafas yang mulai tak beraturan, meskipun sedikit susah mencari jalannya, karena Anniyah memang masih tersegel.
__ADS_1
Hingga sampai kami menuju dalam puncak kenikmatan surgawi.
Pernikahanku dengan Anniyah sudah berjalan lima bulan, dan ternyata secepat itu Anniyah sudah mengandung. Tentu ini berita baik yang ingin aku sampaikan pada mama. Seperti dugaan ku, mama pun bahagia dan langsung membelikan rumah yang cukup mewah untuk Anniyah, mama ingin Anniyah juga merasakan kasih sayangnya sebagai ibu mertua yang baik. Apalagi, mama memang sangat menyukai Anniyah dari segi apapun.
Tapi tidak dengan Bella, sejak tau Anniyah hamil, Bella justru sering marah dan bersikap kasar pada Anniyah. Hingga akupun berpikir untuk memisahkan mereka saja, dan meminta para tukang bangunan untuk mempercepat tugas mereka dalam menyelesaikan rumah milik Anniyah.
Bella, mulai tak mengijinkan aku mendekati Anniyah lagi, karena dia pikir, tugasku sudah selesai, Anniyah sudah hamil jadi aku tidak perlu lagi tidur dan dekat dengan Anniyah. Ini sungguh gak adil untuk Anniyah.
Apa lagi, aku mulai merasakan sesuatu yang lain saat dekat dengan Anniyah.
Aku mulai menyukainya dengan sikap lembut dan pengertiannya itu.
Bella, tingkahnya semakin menjadi, dia seringkali keluyuran entah kemana. Saat aku sakit pun dia tidak ada dirumah, sehingga Anniyah lah yang merawatku. Dia membuatkan bubur, dengan telaten menyuapiku hingga bubur itu habis tak bersisa, bubur buatan Anniyah memang sangat enak.
Kata kata kasar seringkali keluar dari mulut Bella pada Anniyah, dan sedikitpun Anniyah tak mau membalasnya. Anniyah memang banyak diam dan mengalah, itulah kenapa aku tak tega membiarkan dia tetap berada satu rumah dengan Bella. Aku takut kenapa kenapa dengan kandungannya.
Aku akan berusaha bersikap tegas, karena bagaimanapun Anniyah juga istriku yang harus aku lindungi. Pernikahan terjadi juga semua karena keinginan dari Bella sendiri. Tak ada kaku laki yang bisa menolak jika diperlakukan baik dan lembut seperti Anniyah memperlakukanku.
Mungkin aku mulai jatuh cinta pada wanita sederhana itu.
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
#Ayah aku juga anakmu
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
__ADS_1
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️