
Empat tahun kemudian...
"Risky, Rafi. Ayo mandi dulu, nak. Sudah sore, sebentar lagi papa pulang. Kita akan pergi kerumahnya nenek, buat jenguk kakek yang sedang sakit." Teriak Bella pada kedua anak kembarnya, ya Bella sudah dikaruniai dua anak kembar laki laki yang cukup tampan dan pintar. Sedangkan Amel sudah berumur tujuh tahun dan sudah kelas satu SD. Kebahagiaan Bella terasa begitu lengkap setelah kehadiran anak kembarnya. Hamzah jauh lebih perduli dan begitu sayang padanya dan kedua anaknya. Namun hubungan Bella dan Anniyah tetap tidak bisa akur. Apalagi, sikap Hamzah yang lebih condong pada Bella setelah istri pertamanya melahirkan anak kembar. Membuat Anniyah merasa terabaikan, apalagi setelah divonis dokter kalau sulit hamil lagi.
"Iya, ma." Sahut di kembar serempak. Mereka memasuki kamar mandi dan mandi bareng dengan bercanda. Sedangkan Amel sudah rapi dan terlihat sangat cantik.
"Ma, nanti kita akan menginap dirumah nenek, kan?" Tanya Amel saat melihat Bella memasukkan beberapa stel baju anak kembarnya ke dalam koper.
"Iya, kita akan menginap selama dua hari dirumah nenek. Amel sudah menyiapkan baju yang akan dibawa kan?" Sahut Bella lembut, Bella memang sudah benar benar berubah, dia menjelma menjadi seorang perempuan yang lembut dan penuh kasih sayang. Tak banyak bertingkah, bahkan dia sudah menjadi wanita rumahan yang hampir tidak pernah keluar rumah jika tidak penting. Membuat Hamzah kembali begitu memuja wanita cinta pertamanya itu.
"Sudah, tapi cuma bawa dua stel saja. Baju Amel dirumah nenek ada beberapa stel juga. Apa bunda Anniyah juga datang kerumahnya nenek, ma?" Sambung Amel dengan mata menatap lekat pada sang bunda.
__ADS_1
"Tidak, bunda Anniyah dirumahnya, tidak ikut datang kerumah nenek." Sahut Bella tenang, meskipun ada rasa tidak nyaman setiap kali menyebut nama adik madunya. Tapi Bella selalu menyembunyikan perasaannya itu di hadapan siapapun. Amel tak lagi bertanya, memilih membantu kedua adiknya untuk berganti pakaian.
Tak lama setelah mereka semua sudah bersiap-siap. Hamzah datang dengan wajah ceria, menghampiri istri dan anak anaknya.
"Wah sudah pada rapi, sudah siap berangkat kerumah nenek?" Sapa Hamzah pada keluarga kecilnya.
"Sudah dong, pa. Papa sih lama datangnya." Sahut Raffi dengan wajah cemberut. Membuat semua orang gemas melihat wajah lucunya itu.
"Mas tidak istirahat dulu, mau makan dulu atau minum dulu?" Tanya Bella yang menghampiri suaminya dengan sikap lembutnya.
"Tadi sudah makan di kantor. Kita langsung berangkat saja, kasihan anak anak. Nanti bisa makan dirumahnya mama. Ayo, lagian mama juga sudah menunggu cucu cucunya datang." Sahut Hamzah dengan senyuman hangat menatap penuh cinta pada istrinya.
__ADS_1
Mereka berangkat menuju kerumah Bu Widya dengan bermacam barang bawaan. Sedari pagi Bella sudah menyiapkan oleh oleh untuk dibawa kerumah mertuanya dengan hasil olahan tangannya sendiri. Bella membuat macam macam kue kesukaan keluarga suaminya. Dan perlakuan Bu Widya pada Bella pun sudah berangsur membaik, wanita paruh baya itu sudah bisa menerima Bella sebagai menantunya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, Anniyah tengah menangis di atas sajadahnya. Larut dengan pikirannya sendiri, sikap Hamzah tak lagi sehangat dulu. Meskipun Hamzah tidak melupakan kewajibannya dan tetap memenuhi semua kebutuhan Anniyah seperti biasanya. Cuma waktu Hamzah banyak dihabiskan bersama dengan Bella dan anak kembarnya.
"Aku tau, tak seharusnya aku meratapi keadaan ini. Tapi aku tetaplah wanita biasa yang tak luput dari rasa cemburu dan ingin diperhatikan lebih. Apalagi, kini aku bukanlah wanita yang sempurna, aku sudah sulit memberikan keturunan lagi pada suamiku. Mungkin ini adalah dosa dari sikapku yang memilih menetap di dalam rumah tangga orang lain. Dan pada dasarnya tetaplah istri pertamanya yang akan mendapatkan tempat istimewa, bukan aku." Rintih Anniyah dengan tangis menyesakkan dada.
"Mungkin aku harus pergi, mengakhiri derita batin ini. Alloh ampuni aku." Anniyah begitu larut dalam gejolak batin yang begitu menyiksanya. Dan pada titik dimana dia memutuskan untuk mengakhiri segalanya, demi menjaga mentalnya tetap waras.
End
__ADS_1