
"Mas! Sudah, malu dilihat banyak orang." Anniyah menyentuh pundak Hamzah dengan tangan bergetar, sungguh rasanya sangat sakit kala dipermalukan di depan umum, dan ini bukan untuk pertama kalinya, Bella berbuat demikian.
"Bella sudah keterlaluan, Anniyah. Dia tidak pernah mau berubah dan berpikir bijak. Dia yang berulah, tapi dia sendiri yang merasa terdzalimi. Aku benar benar sudah tidak bisa mentolerir sikapnya itu. Dia sudah begitu menguji kesabaranku." Sahut Hamzah dengan wajah dingin, hatinya sudah terlanjur kecewa dengan sikap Bella yang dinilainya sangat keterlaluan.
"Iya, mas. Aku paham. Lebih baik, mas Hamzah tenangkan diri dan redam emosi kamu, mas. Istighfar!
Kita akan bicara baik baik dengan mbak Bella setelah pulang dari sini." Sahut Anniyah bijak, hatinya sudah yakin untuk tidak melanjutkan hubungan pernikahannya dengan Hamzah, karena hanya akan terus menyakiti hatinya saja. Cinta yang mulai tumbuh, sebisanya harus di tepis dan dikubur dalam-dalam.
"Entahlah, aku lelah menghadapi sikapnya yang kasar itu. Nama kamu sudah dipanggil, tunggulah disini, aku akan menebus obatnya." Balas Hamzah yang terlihat sudah berubah moodnya. Wajahnya terlihat dingin dengan tatapan datar. Anniyah hanya bisa pasrah dan beristighfar untuk menetralkan perasaannya yang terasa sesak.
"Sudah selesai, ayo." Hamzah menatap Anniyah dengan sorot mata yang tajam, di tatapnya lekat lekat wanita yang selalu memilih banyak diam saat Bella mulai berulah.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, mas?
Apa aku melakukan kesalahan yang tidak mas sukai?" Anniyah yang sudah berdebar dengan perasaan cemas, menjadi salah tingkah dan takut di tatap oleh Hamzah dengan sedemikian rupa.
"Maaf, kalau kamu gak nyaman. Aku hanya tak habis pikir denganmu, Anniyah. Kenapa kamu selalu diam saja jika Bella mulai bikin ulah yang dengan sengaja ingin mempermalukan kamu dihadapan banyak orang?" Tanya Hamzah, sambil tangannya meraih jemari Anniyah dan digenggamnya lembut. Lalu menuntunnya untuk berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju parkiran.
"Gak papa, mas. Aku hanya tidak mau ada keributan saja. Dan mungkin karena mbak Bella sedang cemburu melihat suaminya bersamaku. Aku berusaha memahami perasaannya saja sebagai sesama perempuan." Lirih Anniyah dengan suara yang terdengar bergetar. Hamzah menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar. Kedua istrinya memang memiliki sifat yang jauh berbeda.
"Entahlah, aku bingung dengan cara berpikir kalian. Sekarang, lebih baik kita pergi jalan jalan, tadi aku sudah janji akan memberikan kamu sesuatu yang insyaallah akan membuatmu bahagia." Sambung Hamzah, yang sudah membukakan pintu mobilnya dan meminta Anniyah segera masuk.
"Makasih, mas." Anniyah tersenyum tipis dan duduk dengan nyaman dikursi samping sang suami.
"Mas. Lebih baik kita langsung pulang saja. Perasaanku tidak enak." Lirih Anniyah yang mencoba berani mengatakan apa yang tengah dirasakan. Hamzah menoleh dan menatap wajah istrinya dengan wajah mengerut heran.
"Ada apa, apa kamu masih kepikiran dengan sikapnya Bella tadi, hmm?" Balas Hamzah yang kini sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Anniyah, dan itu membuat Anniyah semakin salah tingkah.
"Bukan, mas. Aku hanya merasa, merasa perasaan ini tidak enak, Itu saja." Sahut Anniyah sambil mengerjapkan kedua matanya. Hamzah membuang nafasnya kasar.
Tanpa bicara lagi, dia membawa mobilnya menuju ke salah satu mall terbesar di kota, berniat membelikan hadiah untuk istri keduanya, karena sudah memberikan kebahagiaan yang selama bertahun tahun dia nantikan, yaitu hadirnya seorang anak dalam hidupnya.
Anniyah hanya bisa pasrah saja dengan sikap dan keputusan laki laki yang sudah sah menyandang gelar sebagai suaminya.
__ADS_1
"Sudah sampai, ayo turun." Hamzah tersenyum melihat wajah bingung Anniyah, Hamzah sebenarnya paham, jika Anniyah tidak nyaman dengan sikapnya ini, takut jika Bella kembali menyudutkan dirinya, namun Hamzah berpikir jika Anniyah juga punya hak yang sama sebagai istrinya, Anniyah berhak menikmati hasil kerja kerasnya juga, apalagi Anniyah sudah mau mengandung benihnya.
"Mas, kita mau apa ke toko ini?
Ini kan mahal mahal perhiasannya." Mendengar ocehan sang istri, Hamzah hanya tersenyum saja dan seolah tak memperdulikan pertanyaan dan kekhawatiran yang Anniyah rasakan. Hamzah hanya fokus ingin memberikan hadiah yang spesial untuk ibu dari anaknya.
"Mbak, tolong berikan perhiasan yang terbaru, yang satu set ya, tolong carikan yang cocok untuk istri saya." Anniyah hanya bisa pasrah menatap sikap suaminya, meskipun di dalam hatinya juga merasakan bahagia akan ketulusan Hamzah dalam memperlakukan dirinya sebagai seorang istri. Sudah jadi sifat wanita, jika akan sangat bahagia saat diberikan barang barang mewah nan indah.
"Ini pak, keluaran terbaru dan hanya ada beberapa set saja, karena memang barangnya limited edition." Salah satu karyawan menyerahkan dua kotak perhiasan yang begitu cantik dan nampak berkilau indah. Anniyah sampai meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah. Tak percaya jika dia akan mendapatkan kado istimewa dari suaminya.
"Dek, kamu suka yang mana?
Pilih saja mana yang menurutmu bagus." Hamzah menyodorkan kotak perhiasan di hadapan Anniyah yang masih dengan wajah bengong nya.
"Dek." Sekali lagi Hamzah menegur istrinya, dan membuat Anniyah gelagapan dan salah tingkah.
"Em, mas Hamzah saja yang pilih. Apapun pilihan kamu, pasti aku suka." Sahut Anniyah dengan suara terbata bata.
"Yasudah, mbak, tolong total semua ya. Aku ambil semuanya. Dua set itu." Hamzah tanpa pikir panjang langsung mengambil semua perhiasan yang menurutnya sangat cocok untuk Anniyah. Harga baginya tak jadi soal, karena gajinya tak akan habis meskipun harus membeli perhiasan beberapa set lagi. Hamzah diam diam merasa gemas saat memperhatikan wajah Anniyah yang bengong dan nampak shock dengan keputusannya membeli dua set perhiasan dengan harga yang fantastis. "Selugu itu ternyata kamu, dek." gumam Hamzah di dalam hatinya.
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
__ADS_1
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️