
Anniyah yang melihat postingan Bella nampak mengerutkan wajahnya. Bella tengah tersenyum lebar dengan memangku anak kecil yang terlihat lucu. Begitu juga dengan Hamzah yang bahkan langsung menelpon Bella untuk menanyakan siapa anak lucu yang ada dipangkuan istrinya itu.
"Hallo, mas. Bukankah kamu sedang bersama Anniyah?
Tidak baik menghubungiku saat kalian tengah berdua, aku tidak mau jadi penyebab tidak nyamannya kebersamaan kalian." Cerocos Bella yang lupa tidak mengucapkan salam lebih dahulu.
"Asalamualaikum, istriku." Sahut Hamzah lembut menimpali Omelan istri tuanya.
"Waalaikumsallm, maaf mas tadi aku keburu gak enak saja, jadi lupa bilang salam." Sahut Bella yang menyadari kesalahannya.
"Aku tau, aku sudah salah menghubungi kamu saat aku masih bersama Anniyah. Tapi aku penasaran dengan bayi cantik yang kamu ajak foto itu. Siapa anak itu?" Balas Hamzah serius, tanpa dia sadari jika Anniyah tengah mendengarkan obrolannya dengan Bella di balik pintu.
"Dia salah satu anak di panti asuhan milik temanku, mas. Dan aku berniat untuk mengadopsinya, karena aku sudah terlanjur jatuh cinta pada Amel, nama anak itu, Amel. Kamu gak keberatan kan, mas, kalau aku ambil Amel untuk aku rawat dirumah?" Sahut Bella panjang lebar, menggunakan kesempatan untuk langsung meminta ijin pada suaminya. Jadi tidak perlu harus nunggu seminggu lagi untuk mengutarakan niatnya.
"Apa kamu yakin, dan apa kamu sudah siap untuk menjadi ibu asuhnya?" Balas Hamzah memastikan kesiapan sang istri akan niatnya untuk mengadopsi seorang anak. Bagi Hamzah sendiri tidak jadi soal, asal Bella merasa nyaman dan bahagia.
"Aku sudah sangat yakin, bahkan tidak sabar untuk segera membawa Amel pulang kerumah kita. Kalau kamu mengijinkan, aku akan segera mengurus surat suratnya, dan menyiapkan kamar kusus untuk Amel dirumah kita. Bagaimana, mas?" Sahut Bella dengan sangat bersemangat, berharap suaminya mengijinkan niatnya itu.
"Baiklah, asal kamu mampu dan siap untuk menjadi ibu yang baik untuk anak itu, aku akan meridhoi. Karena tanggung jawab kita besar dalam mendidik dia seperti kita akan mendidik anak sendiri. Kalau memang kamu sudah yakin, aku mengijinkan kamu untuk membawa Amel pulang dan menjadi anak kita." Sahut Hamzah serius dan tidak masalah jika harus merawat anak yang bukan darah dagingnya.
"Alhamdulillah, mas. Terimakasih banyak, aku akan bilang sama Muthia dan akan segera mengurus semua keperluannya." Pekik Bella senang tak sadar jika air matanya sudah mengalir saja, membasahi pipinya yang putih bersih.
"Yasudah, aku tutup dulu telponnya. Besok aku akan ke pabrik yang ada di Surabaya. Kamu baik baik ya dirumah. Asalamualaikum." Sambung Hamzah yang ikut senang mendengar suara istrinya yang terdengar bahagia.
"Semoga, kehadiran anak itu bisa membuatmu bahagia dan melupakan kesedihan kamu yang belum bisa hamil." Lirih Hamzah yang menghembuskan nafasnya kasar, lalu kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menemui istri dan anak lelakinya yang tengah berada diruang keluarga. Anniyah yang melihat Hamzah sudah selesai menelpon istri pertamanya, langsung pergi dan kembali duduk menemani anaknya bermain dengan perasaan berkecamuk.
"Mas, sudah lihat postingan mbak Bella?" Sambut Anniyah pura pura tidak tau apa apa.
"Sudah, dia mau mengadopsi anak itu. Anak yang ada di panti asuhan milik temannya. Dan menurutku gak ada salahnya juga, agar Bella juga memiliki kesibukan lain yang bisa mengalihkan kesedihannya karena belum kunjung hamil." Balas Hamzah panjang lebar.
__ADS_1
"Iya, mas. Semoga kehadiran anak itu bisa membuat mbak Bella bahagia dan juga segera memiliki momongan, karena ngemong bayi bisa jadi pancingan agar bisa mendapatkan momongan, kata orang tua terdahulu sih begitu, semoga saja benar dan mbak Bella segera hamil. Aamiin." Balas Anniyah tulus dan dijawab anggukan kepala oleh Hamzah.
"Ngomongin soal anak, kamu kayaknya bulan ini belum juga datang bulan. Apa isi lagi?" Tanya Hamzah dengan wajah berkerut menatap wajah panik sang istri yang memang belum kunjung datang bulan satu bulan terakhir ini.
"Masak sih, mas?
Jangan dulu lah, Bintang masih kecil juga. Paling aku lagi kecapean saja, jadi telat datang bulannya." Sahut Anniyah yang menolak tebakan suaminya, Hamzah hanya terkekeh melihat kepanikan istrinya.
"Gak usah panik begitu, lagian kalau hamil lagi juga gak papa, biar Bintang ada temannya bermain. Dan rumah ini jadi ramai, urusan ngasuh Bintang gampang, kan ada mbok Atun dan kita bisa sewa baby sister untuk menjaga Bintang." Sambung Hamzah yang membuat Anniyah menghembuskan nafasnya dalam.
"Nanti biar aku tes, semoga saja hanya kecapean saja. Aku masih belum tega melepas Bintang dalam asuhan orang lain." Sahut Anniyah sambil mengusap lembut wajah anak balitanya yang kini sudah mulai pandai bicara.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
Novel on going :
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
__ADS_1
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️